Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Takdir dalam ‘What If?’ dan ‘Multiverse’ yang Penuh Kemungkinan Absurd

Ada Iron Man jadi zombie.


poster what if

Film What If ditayangkan di Disney Hotstar, sebanyak 9 episode.

Oleh: Mas Hadid
Diterbitkan:

Review yang akan kamu baca ini bisa jadi mengandung spoiler. Kamu bisa stop membacanya sampai di sini, atau melanjutkannya dengan segala macam resikonya.

Iklan

the Monkey Times – Jujur aku kadang mempertanyakan apakah diriku ini punya kembaran yang hidup di waktu lain? Kalau iya, bagaimana kembaranku hidup, seperti apa dia, apakah nasibnya berbeda denganku? Sejumlah pertanyaan itu terasa absurd, mustahil dibayangkan kebenarannya, dan nggak perlu dicari tahu juga benar apa nggak.

Tapi jawaban atas semua pertanyaan level kosmik macam di atas tersedia di alam ganjil sinematis khas Disney, tepatnya kalau kita menonton serial What If. Kalau kamu adalah penggemar saga Avengers, khususnya semesta Marvel Universe mulai dari Iron Man, Incredible Hulk, Guardians of Galaxy, Captain America, Thor, Ant Man, sampai Spiderman, What If? bisa jadi sebuah film serial animasi yang asyik ditonton.

Iklan

Alasannya sederhana: lewat What If? kita bisa melihat sejumlah kemungkinan alternatif yang terjadi pada setiap peristiwa penting yang sudah kita tonton lewat seluruh film superhero dalam semesta Marvel.

Bagaimana bila Steve Rogers bukan pria yang jadi Captain America? Bagaimana bila Ultron malah jadi makhluk yang memenangkan pertarungan melawan para Avenger? Bagaimana kalau seluruh anggota Avengers terinfeksi virus yang mengubah mereka jadi Zombie? Bagaimana bila T’Challa menjadi …. Star Lord?

Iklan

Seluruh premis alternatif itulah yang coba disodorkan kepada kita lewat serial What If?

Sinopsis What If?

Sesosok makhluk kosmik bernama The Watcher berdiri tegak mengawasi seluruh momen dan peristiwa yang terjadi di jagat superhero Marvel. Dia adalah pengawas alam semesta yang tinggal di dunia yang tidak terikat waktu, sekaligus bersumpah untuk tidak ikut campur dalam setiap peristiwa yang terjadi.

Namun satu peristiwa di jagat Avengers memaksa The Watcher untuk turun tangan memperbaiki kondisi kacau yang disebabkan kemenangan Ultron atas Avengers.

Ultron yang berhasil menang dari Avengers, dan mendapat kekuatan penuh dari 6 batu abadi, menginginkan kematian bagi semua makhluk hidup dari berbagai lapis waktu dan jagat.

Mendapat bantuan dari Dr. Strange, Captain Carter, Thor, Killmonger, T’Challa, dan Gamora, berhasilkan The Watcher mengalahkan Ultron yang kini bertransformasi jadi makhluk kosmik?

Review What If?

Avengers: Endgame dirilis pada 2019, mengakhiri fase ketiga semesta sinematis Marvel, sekaligus – dan ini buatku paling menarik – membuka kemungkinan eksplorasi naratif berbasis konsep multi-jagat (multiverse). Masih ingat percakapan antara Ancient One dengan Bruce Banner dalam adegan perang New York 2012 di film Endgame, ketika Bruce bersikeras meminjam batu waktu yang dibawa Ancient One?

Di percakapan itu terekam jelas kekhawatiran akan munculnya percabangan realitas, bila batu waktu sampai diambil Bruce di tahun tersebut. Tanpa batu waktu, menurut Ancient One, “kami takkan bisa menjaga realitas ini dari ancaman bahaya.” Opini itu langsung disanggah Bruce. “Itu takkan terjadi kalau kami mengembalikan batu waktu di tempat asalnya nanti,” ujarnya.

Satu hal menarik yang bisa kita tangkap dari percakapan keduanya adalah tawaran bentuk rumusan tentang ‘satu peristiwa yang menciptakan cabang realitas lain’. Artinya kalau takdir memang sudah tertulis dari sananya, maka satu peristiwa yang tidak sesuai dengan apa yang tertulis di atas buku takdir adalah anomali, yang kemudian melahirkan cabang realitas lain.

Sebelum kamu merasa review ini susah dipahami, tunggu sampai kamu melihat adegan penangkapan Loki dalam film yang sama.

Di Endgame, Loki berhasil mencuri batu ruang (space stone), memakainya untuk kabur dari tahanan Avengers. Kaburnya Loki menyalahi takdir, karena seharusnya dia tertangkap dan dihukum di Asgard. Kaburnya Loki pun menciptakan narasi lain tentang dirinya, sebagaimana bisa kita lihat dari serial Loki yang ditayangkan di Disney Hotstar

Tadinya aku berpikir konsep dan premis What If? nggak bakal jauh-jauh amat dari konsep anomali realitas seperti yang terjadi pada Loki. Namun sepertinya aku salah. What If? bukan anomali yang terjadi karena kesengajaan, melainkan jalan cerita berbeda yang terjadi di semesta Avengers yang berbeda pula.

Kemungkinan yang Ganjil dan Absurd

What If? dibagi menjadi sembilan episode, yang masing-masing berdurasi kurang lebih selama 30 menit. Setiap episode menyajikan kisah berbeda dari para pahlawan super yang sudah kita tonton lewat tiga fase pertama semesta sinematis Marvel. Sutradara What If? Brian Andrews memilih Thor, Killmonger, Bruce Banner, Nick Fury, Peggy Carter, Dr. Strange, dan Ultron sebagai tokoh sentral yang hidup dalam semesta alternatif yang menyuguhkan cerita berbeda dengan yang sudah kita lihat lewat rentetan film superhero Marvel sepanjang 2008 – 2019.

Di semesta Avengers versi Brian, bukan Peter Quill yang jadi Star Lord, melainkan T’Challa. Thanos menginvasi bumi untuk mencari batu pikiran, namun berakhir konyol karena dia malah jadi zombie. Ultron boleh kalah di Age of Ultron, namun dia benar-benar berhasil menjadi pemenang di semesta What If? rekaan Brian. Dan di tangan Brian pula, Thor bukan Pangeran Asgard yang punya saudara tiri bernama Loki; sebaliknya, Thor digambarkan sebagai putra tunggal Odin yang bandel dan senang berpesta.

Menonton seluruh episode What If? memaksa kita melihat petualangan para superhero Marvel sebagai epos-epos yang jauh dari kemenangan. Singkat cerita: segalanya serba terbalik dan absurd.

Namun komentarku tentang absurditas yang ditampilan Brian Andrews bukan berarti celaan. Sebaliknya, Brian relatif berhasil menghadirkan serangkaian alternatif cerita yang mengubah suasana semesta Marvel menjadi terlihat ganjil, suram, menyedihkan, horor, sekaligus kocak.

Dalam takaran tertentu, gaya penyutradaraan Brian lebih terlihat sebagai usaha untuk mengubah takdir dalam semesta Marvel. Sang sutradara, misalnya, mengubah takdir Tony Stark – yang kita lihat di tiga film Iron Man dan 4 film Avengers – menjadi orang biasa. Mengubah takdir Black Widow dan Hawk Eye sebagai dua manusia terakhir yang berhasil bertahan di tengah suasana pasca-kiamat yang disebabkan kemenangan Ultron. Dua contoh ini memperlihatkan kompleksitas semesta Marvel sebagai sebuah rangkaian di mana kita melihat ratusan momen berbeda terjadi di jagat yang berbeda pula.

Dengan karakter penceritaan seperti itu, tidak ada kontinuitas peristiwa antara film-film superhero Marvel di tiga fase pertama semesta Marvel-Disney sebelumnya, dengan yang terjadi di semesta What If?

Sebab yang dipertontonkan kepada kita adalah peristiwa yang sama sekali berbeda. Ada pengandaian dan angan-angan yang pada gilirannya membawa hasil berbeda.

Dengan kata lain, sembilan episode What If? tetap mengasyikkan untuk ditonton. Setidaknya untuk yang sama sekali nggak familiar dengan komik-komik Marvel, keberadaan The Watcher – sang penonton dalam semesta Avengers sekaligus narator What If? – membantu kita memahami betapa kompleksnya jalan cerita para pahlawan super Marvel di masa depan.

What If...?
8 / 10 Nilai dari kami
Naskah
Penokohan
Sinematografi
Jalan Cerita
Pendapat kami
What If ...? boleh jadi tampil sebagai film pahlawan super yang terasa absurd, karena berusaha keras menampilkan realitas alternatif yang "mengacaukan" persepsi kita atas semua peristiwa dan momen di film-film Avengers sebelumnya.
1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: film di Disney Hotstar, review film manca
Subscribe
Notify of
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments