Untuk adikku Tersayang yang kini Beranjak Remaja

Adikku tersayang. Akankah kamu membaca surat dari kakakmu ini? Aku merindukanmu. Sangat rindu. Sebab kita tumbuh bersama.


Ilustrasi kakak beradik

Foto: Kay Jeyne/Pexels


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Tok tok, boleh masuk ke kamarmu tidak ? Tampaknya kamu tidak asing mendengar kalimat tersebut terlontarkan dari mulutku bukan?

Sebenarnya aneh ketika aku harus menuliskan surat ini saat aku bisa mengucapkannya langsung padamu, tapi kali ini harus aku lakukan karena ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa aku ucapkan begitu saja.  

Di kesempatan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiranmu di dunia. Mungkin tanpamu, diri ini akan meninggal kebosanan karena menjalani hari yang monoton tiada henti.

Namun perasaanku pun berubah ketika sosok kecil itu secara mendadak turun ke bumi tanpa aku mau pada awalnya. Sebenarnya hadirmu sudah aku rasakan sejak ibu bertanya apakah aku ingin seorang adik ataukah tidak. Klasik, tapi aku jawab oke saja.

Pertanyaan selanjutnya pun kembali terlontar, namun kali ini sedikit berbeda. Ibu bilang padaku, seperti apa adik ideal yang aku inginkan apakah itu lelaki atau perempuan.

Ternyata jawabanku berbanding terbalik dengan ayahku, dimana aku ingin seorang adik perempuan, sedangkan ayah ingin memiliki seorang putra.

Sebenarnya aku asal menjawab berdasarkan tingkah laku teman sebayaku, dimana seorang putra terlihat lebih nakal dan tidak bisa dikendalikan.

Seiring berjalannya waktu, kini seorang bayi mungil yang disebut adik itu benar benar datang ke duniaku dan keluargaku. Awalnya aku merasa asing sejak kehadiran tiba tiba itu, bahkan untuk mengintipmu dari balik pintu saja aku enggan.

Maafkan diriku yang masih kecil itu ya, aku belum tahu apapun saat itu. Aku pikir saat itu justru kamu adalah penghalang atau bahkan tembok besar yang harus aku musuhi. Ternyata itu hanyalah khayalku.

Walaupun aku sempat iri karena perhatian orang tua jadi tertuju padamu, aku berusaha memahami setiap nasehat yang diberikan ibu padaku.

Menurutnya aku pantas menjadi contoh buatmu, dan akan menjadi seorang yang akan menuntun kemanapun kamu pergi nantinya. Aku yang saat itu masih di usia belia juga, sebenarnya tidak memahami apa yang dimaksud kalimat tersebut.

Perjalanan dari waktu ke waktu inilah yang menyadarkanku. Dahulu aku mungkin akan menangis melihatmu yang seakan berhasil mencuri perhatian kedua orang tuaku, justru kini aku yang maju paling depan ketika terjadi masalah dan melibatkanmu.

Ya, jiwa seorang kakak itu tumbuh dengan subur seiring kita tinggal bersama selama puluhan tahun belakangan. Walaupun terkadang cara menyampaikan cinta kasihku tidak selalu benar. 

Baca Juga:  Untuk Ibu Psikolog yang Genggaman Tangannya begitu Hangat

Aku yang saat itu hanya melihatmu sebagai seseorang yang melihatmu tidur pulas di pangkuan ibu, kini perlahan mulai merangkak atau bahkan memanggil namaku dengan fasihnya.

Bahkan rasanya tidak terasa, kini kamu sudah berkuliah dan tinggal tanpa didampingi orang tua. Semua perjalanan menuju detik ini memang tidak mudah, tapi kamu bisa menjalaninya dengan baik sejauh aku memandangmu. 

Awalnya aku ragu dirimu mengikuti jejakku untuk merantau, mengingat orang tua pastinya masih membutuhkan kehadiranmu dibanding aku. Sekali lagi, permainan logika diri ini kalah dengan ketangguhan yang dimiliki adikku ini.

Baca Juga: Surat untuk Adik Termanis yang selalu Kuabaikan

Ya, kamu berhasil menunjukkan betapa mandirinya sosok mungilmu yang dulu hanya bisa berbaring sembari tertawa melihatku berusaha memberikan candaan ringan. 

Bahkan kini kamu sudah bisa menyeimbangkan antara pembicaraan antara orang tua dan diriku, memahami setiap percakapan yang menjadi sorotan utamanya, atau bahkan membuat bahan candaan yang berhasil mengocok perut seisi rumah.

Apa yang aku rasakan? Rumah yang dahulunya dipenuhi tangismu ketika merasa lapar, kini berubah menjadi tawa riang seisi rumah tanpa terkecuali. 

Melihat perkembanganmu yang begitu pesat, tidak jarang membuatku berfikir betapa cepatnya waktu berlalu. Sudah bisa menentukan masa depan sendiri, melakukan berbagai aktifitas sendiri, membuat keputusan sendiri, bahkan kamu sudah mulai tertutup untuk menceritakan masalah sepele yang dulunya selalu ingin diceritakan setiap detailnya.

Mengenang cerita ke belakang, terkadang membuatku merasa sedih namun juga senang dalam satu waktu. 

Dirimu yang sekarang, selalu berhasil membuatku sadar bahwa tidak mudah membangun sebuah karakter seseorang. Semua itu bisa dilakukan berkat kerjasama antar keluarga, saling menyayangi dan menghormati, saling menguatkan, membantu menopang satu sama lain, sebisa mungkin memahami kepribadian yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Semua hal ini soal keluarga, dimana hubungan antara kakak dan adik yang indah ini tidak akan pernah terlupa.

Dari semua basa basiku hingga baris terakhir ini, sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku beserta kedua orang tua kita begitu menyayangimu tanpa kata tapi dan tanpa henti.

Kamu masih memiliki aku yang akan selalu siap membantu jika diperlukan, aku yang akan maju di garda terdepan ketika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Sedewasa apapun dirimu, aku akan tetap menganggapku adik kecilku yang begitu menggemaskan. 

Baca Juga:  Teruntuk Teman yang tak sempat Kusampaikan pamit Padanya
Temukan artikel menarik lainnya di topik: curahan hati, kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial