Tradisi Membuat Bubur Asyura, Penuh Nilai Kebersamaan dan Gotong Royong

Konon ceritanya bubur Asyura sudah ada sejak zaman Nabi Nuh.


ilustrasi bubur asyura

Ilustrasi bubur. (Foto: Istimewa)


Oleh: Ika Umi Hayati

Diterbitkan:

the Monkey Times – Memasuki 10 Muharram ada kuliner khas yang hanya dimasak pada momentum tersebut, salah satunya adalah bubur asyura.

Kegiatan satu ini mungkin belum terlalu banyak dikenal oleh masyarakat dan tradisi ini hanya sebagian masyarakat saja yang masih terus mempertahankannya, sehingga tidak heran sedikit orang yang tahu. 

Bubur asyura atau suro ini dibuat sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah SWT atas keselamatan yang telah diberikan.

Bahkan, sejak zaman Nabi Nuh bubur suro sudah dikenal ketika kaumnya yang selamat dalam kapal dari bencana banjir besar. Penasaran mengenai kuliner 10 Muharram ini? yuk kita bahas bersama-sama. 

Ada Sejak Zaman Nabi Nuh 

Berdasarkan dari situs PISS-KTB, bubur asyura atau suro ini sudah ada sejak zaman Nabi Nuh AS yang berada dalam kapal untuk menyelamatkan diri dari bencana banjir besar.

Ketika banjir selesai dan perahu berlabuh tepat pada hari Asyuro. Melihat keadaan yang ada, Nabi Nuh memberikan arahan untuk mengumpulkan semua perbekalan yang ada. 

Semuanya dikumpulkan mulai dari kacang kedelai, biji-bijian, gandum, beras, dan jelai (sejenis biji yang dibuat khusus tasbih).

Nah, beberapa hasil yang dikumpulkan dari bekal tersebut Nabi Nuh mengatakan untuk memasak dan niscaya kalian akan senang dan selamat dari keadaan tersebut. 

Melihat peristiwa inilah kaum muslimin terbiasa makan biji-bijian dan kebiasaan yang terjadi setiap hari asyuro berlangsung.

Tradisi ini masih terus dilakukan, termasuk di Indonesia yang juga melakukan dan memperingati hari tersebut. Dengan demikian, hari tersebut masih menjadi momentum yang terus dilakukan dan dikenang oleh umat Islam seluruh dunia. 

Berlangsung Sampai Tiga Generasi

Berbeda halnya dengan yang ada di Kalimantan Selatan, kegiatan mengenai momentum bubur asyura atau suro ini sudah berlangsung dari tiga generasi yang ada.

Tepatnya di wilayah Sungai Baru, warga disana sering memperingati dan memasak bubur Asyura setiap 10 Muharram dan sudah menjadi kegiatan rutin yang selalu dilakukan. 

Memang beberapa orang tidak berada lagi di kampung tersebut, tetapi acara dan kegiatan tersebut terus dilakukan dan masih dilanjutkan ke generasi selanjutnya.

Menariknya lagi disana begitu ramai dan semangat kebersamaannya masih terus dijaga. Bubur-bubur yang dimasak itu akan dibagikan ke seluruh warga, bahkan ada yang khusus datang dengan membawa rantang.

Baca Juga:  Mengapa Pule jadi Keju termahal Sejagat?

Tetapi, ditengah pandemi Covid 19 sekarang kegiatan ini tidak begitu ramai dan masih terus dilakukan, sehingga tidak banyak masyarakat yang beramai-ramai untuk menikmatinya.

Mengenai tradisi ini masyarakat Banjar Melayu menganggapnya sudah menjadi tradisi masyarakat dan sudah ada sejak dahulu dan menjadi kebudayaan yang harus dijaga dan dipupuk untuk warisan kepada generasi berikutnya. 

Penuh Nilai Kebersamaan dan Semangat Gotong Royong

Tidak hanya sebagai peringatan saja, tetapi memasak bubur asyura ini memberikan nilai yang bisa didapatkan.

Tentunya kebersamaan dan semangat gotong royong, dilihat dari aspek sejarah dan kebudayaan masyarakat Sungai Baru, Banjarmasin memperlihat mengenai beberapa unsur dan nilai yang tertanam di dalamnya. 

Hal ini dilihat dari kaum Nabi Nuh AS yang bersama-sama mengumpulkan berbagai bijian dan membuat bubur untuk dinikmati dengan kebersamaan menandakan bubur Asyura tidak hanya sebagai simbolis semata.

Tetapi ada banyak pesan yang akan didapatkan oleh masyarakat, terutama dalam menjaga nilai kebersamaan dan semangat dalam gotong royong. 

Bahkan, momentum tersebut masih bisa ditemui kehidupan masyarakat Sungai Baru yang memasak bubur suro untuk dinikmati bersama-sama dan dimasak dengan gotong royong.

Tentunya ini menjadi warisan yang harus tetap dijaga, karena penuh akan hasrat nilai dan makna dalam memperingati 10 Muharram. 

Resep Bubur Asyuro 

Bahan

  • 50 gram beras yang sudah dibersihkan
  • 200 cc santan yang encer
  • 100 cc santan yang kental
  • ½ sdt garam
  • 1 lembar daun salam 

Bahan Pelengkap

  • Abon Daging
  • Cabai yang potong halus
  • Daun Kemangi
  • Sambal Goreng Kering Campuran Tempe

Proses Pembuatan 

Untuk proses pembuatan sendiri sebenarnya tidak begitu sulit untuk dilakukan, tahapannya Anda bisa langsung merebus santan cair, beras, taburkan garam, dan daun salam.

Semuanya dimasak hingga berasnya sudah lunak. Selanjutnya masukkan santan kental, lalu masak semuanya sampai sudah menjadi bubur. 

Setelah itu, bubur Asyura sudah bisa disajikan dengan keadaan yang hangat dan taburkan beberapa bahan pelengkap yang sudah disediakan.

Dengan demikian, tentunya Anda sudah menikmati bubur yang hanya setahun sekali ini dibuat, pas tanggal 10 Muharram kalender Islam yang penuh akan makna dan nilai yang harus selalu dilestarikan di tengah kehidupan bermasyarakat. 

Bagaimana tertarik untuk mencoba bubur Asyura atau suro? Mungkin Anda bisa membuat dan menghidangkannya ketika berbuka puasa Asyura.

Sehingga momentumnya akan jauh lebih terasa dan menikmati hidangan yang hasrat akan nilai dan makna yang tinggi. Tidak hanya itu, sajian ini juga penuh dengan protein, vitamin, dan rempah-rempah yang nikmati. 

Baca Juga:  Kami Memberanikan Diri untuk Bikin All You Can Eat di Rumah
Temukan artikel menarik lainnya di topik: resep bubur asyura, tradisi bubur asyura

Atau baca artikel lain yang ditulis: Ika Umi Hayati



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial