Penulis: Kukuh

Asal Usul Gajah Mada dan Simpang Siur Fakta Mengenai Kelahirannya

Siapa Gajah Mada dan asal-usulnya merupakan satu misteri yang hingga hari ini belum terpecahkan.

Catatan redaksi: artikel ini diplubikasikan pertama kali pada Sabtu, 1 Agustus 2020 dengan judul “Arti Penting Gajah Mada dalam Kerajaan Majpahit”. Ditulis ulang dengan merombak judul, komposisi isi, dan ide dasar, serta menambahkan sumber-sumber tulisan terbaru.

the Monkey Times – Meski sangat sering disebut dalam buku pelajaran sejarah, asal usul Gajah Mada tetap sebuah misteri, yang dikelilingi mitos dan semangat chauvinistik.

Namun kita mengenal Gajah Mada sebagai seorang mahapatih yang mahsyur namanya. Ketika Majapahit masih berdiri sebagai sebuah kerajaan, dengan segala kemewahannya, Gajah Mada sempat bersumpah akan menyatukan wilayah nusantara di bawah naungan Majapahit.

Kelahiran Mahapatih Gajah Mada

Sembari menuturkan kepercayaan orang Bali, Muhammad Yamin menulis Gajah Mada dilahirkan sebagai di Pulau Bali. “Sekiranya cerita itu benar, berarti Gajah Mada berasal dari tanah Pulau Bali seperti Prabu Airlangga (990 – 1042) yang mendirikan Kerajaan Darmawangsa,” tulis Yamin dalam bukunya Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara.

Narasi serupa juga sempat diungkap dalam buku Fragile Nation, A; The Indonesian Crisis (1999) yang ditulis Khoon Choy Lee. Lee menulis dalam paragraf pendek, mengatakan bahwa orang Bali percaya Gajah Mada tidak punya ayah dan ibu, dan ia adalah wujud dari reinkarnasi Dewa Wisnu. Perjalanan hidup kemudian membawa Gajah Mada berpindah dari Bali ke Majapahit.

Namun narasi kelahiran Gajah Mada tidaklah tunggal. Yamin di dalam buku Gajah Mada menambahkan informasi petunjuk tentang tanah kelahiran Gajah Mada dengan menyebut daerah aliran Sungai Brantas sebagai tanah kelahiran Sang Mahapatih.

“[D]ia agaknya kelahiran aliran Sungai Brantas, yang dilahirkan kira-kira tahun 1300,” tulis Yamin melanjutkan. Dalam konteks kelahiran mahapatih, Yamin meyakini Gajah Mada sebagai seorang pemuda yang dibesarkan sebagai anak desa yang bersatu dalam kemelaratan sehari-hari dengan alam yang kaya raya.

Meskipun ada dua dugaan tentang tempat kelahiran Gajah Mada, sebetulnya tidak banyak sumber sejarah yang mampu secara pasti memberikan informasi akurat tentang topik tersebut.

Di dalam buku Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang (hlm. 62-64), misalnya, Dhurorudin Mashad menyebutkan beberapa versi “sejarah” tentang kelahiran Gajah Mada. Ada sumber sejarah yang menyebut Gajah Mada lahir di Bali (seperti yang diyakini – walau tidak tegas – oleh Muhammad Yamin), namun banyak juga yang menyebut bahwa ia berasal dari Sumatera, Dayak Kalimantan, Sumbawa, Malang, bahkan Lamongan.

“Tak ada satupun orang dapat mengungkap misteri asal-usulnya,” tulis Mashad di bukunya itu.

Bagaimana Gajah Mada dapat Menyatukan Wilayah Nusantara

Ketika Arya Tadah tidak bisa menjalankan kebijakan kerajaan karena sakit, hati Gajah Mada terketuk untuk melanjutkan tugas sebagai Mahapatih. Ketika diangkat ia mengucap sumpah yang sekarang dikenang sebagai sumpah palapa.

Setelah tunduk nusantara, aku akan beristirahat. Seusai tunduk Gurun, Seram, Tanjungpura (Kalimantan), Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik (Singapura), barulah aku beristirahat.

Sumpah yang diucapkannya itu direalisasikan semasa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk.

Waktu itu Majapahit berhasil menaklukkan seluruh wilayah nusantara, kecuali kerajaan Sunda Galuh dan Sunda Pakuan. Keberhasilan tersebut pada gilirannya menaikkan pamor Gajah Mada di kerajaan Majapahit.

Dicatat dalam Negarakertagama, wilayah kekuasaan Majapahit meliputi Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur. Pengaruh dan ekspansi yang dilakukankerajaan Majapahit juga sampai ke negara tetangga. 

Mulai dari semenanjung Malaysia, Tumasik (Singapura), hingga sebagian Thailand dan Filipina. Di masa itu, Angkatan Laut Majapahit sangat kuat sehingga disebut Talasokrasi atau Kemaharajaan Bahari.

Hubungan antara pusat kerajaan Majapahit dengan daerah kekuasaan juga meliputi aspek ekonomi dan bisnis.

Dalam aspek ekonomi, wilayah yang berada bawah Majapahit dipersatukan dalam rangka memenuhi kepentingan perdagangan. Bukan dalam arti pertuanan atau kekuasaan, melainkan Majapahit akan memberikan dukungan ekonomi kepada daerah kekuasaan yang ditukar dengan penjagaan keamanan di jalur perdagangan. 

Terlibat di Perang Bubat

Dalam sebuah Kidung Sunda, diceritakan bahwa perang Bubat yang terjadi di tahun 1357 bermula ketika Prabu Hayam Wuruk hendak meminang Dyah Pitaloka putri kerajaan Sunda. 

Kemudian lamaran tersebut diterima oleh pihak kerajaan Sunda, dan berangkatlah rombongan menuju Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung. Saat itu, Mahapatih Gajah Mada ingin Sunda takluk dan menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit.

Pihak Kerajaan Sunda menolak keras permintaan tersebut, dan akhirnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan kerajaan Sunda. 

Perang ini terjadi di Bubat. Saat itu Dyah Pitaloka akhirnya bunuh diri setelah melihat sang ayahanda dan seluruh pasukan gugur dalam pertempuran. Dikisahkan bahwa Gajah Mada dinonaktifkan sebagai Mahapatih karena peristiwa tersebut.

Namun dalam Negarakertagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Di kitab tersebut diceritakan Raja Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang bijaksana, wira, dan setia berbakti kepada negara. 

Sang Raja kemudian menghadiahkan dukuh “Madakaripura”, daerah dengan pemandangan elok di Probolinggo, kepada Gajah Mada. Dia diangkat kembali menjadi patih di Madakaripura.

Kematian Mahapatih Gajah Mada

Dalam Negarakartagama diketahui bahwa sekembalinya Raja Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai sang Patih dalam keadaan sakit.

Kemudian disebutkan Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi, akan tetapi tidak diketahui secara pasti dimana Mahapatih tersebut dikebumikan. Wafatnya Gajah Mada menjadi salah satu faktor melemahnya kekuasaan Majapahit.

Untuk menggantikan sosok Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung untuk membantu dalam menyelenggarakan segala urusan negara.

Sayang keenam Mahamantri tersebut tidak bisa menggantikan sosok Gajah Mada yang begitu agung. Sepeninggal Gajah Mada, Raja Hayam Wuruk menjadi limbung dan kejayaan Majapahit akhirnya goyah.

Mahapatih Gajah Mada memiliki banyak peran dalam membawa Majapahit menuju kejayaan di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Melalui sumpah dan keberhasilan menyatukan wilayah nusantara, sosok Mahapatih tersebut begitu disegani.

Bahkan pengaruhnya bisa dikatakan telah melampaui Raja Hayam Wuruk dan anggota Saptaprabhu (Dewan Pertimbangan Agung yang berisi anggota keluarga kerajaan Majapahit).

Referensi:
  • Muhammad Yamin. Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara (Balai Pustaka, 1972)
  • Dhurorudin Mashad. Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang (Pustaka Al-Kautsar, 2014)
  • Khoon Choy Lee. Fragile Nation, A; The Indonesian Crisis (World Scientific, 1999)
Photo of author
Bagi saya, menulis adalah cara untuk mengekspresikan sesuatu. Bukankah kitab tuhan juga berbentuk tulisan?

Berita Terkini:

Kenapa mobil butuh asuransi
Kenapa Mobil Butuh Asuransi?
teknologi pengenlan wajah
Samsung Disebut-sebut Sedang Bekerja Meningkatkan Akurasi Teknologi Pengenalan Wajah
Promo Shopee Cashback
Shopee Berikan Cashback Rp 75,000 untuk Pengguna Baru
Bagi bagi ikan nelayan
Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama Bagikan Ikan Gratis Sebanyak Satu Ton

Artikel Terkait:

runtuhnya kerajaan majapahit disebabkan oleh
Runtuhnya Kerajaan Majapahit
sejarah kerajaan pajajaran
Sejarah Kerajaan Pajajaran: Masyarakat Hindu di Tanah Sunda 
Kami Ingin Ceritakan Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai 
Kerajaan Demak
Sejarah Kerajaan Demak: Kisah Kadipaten yang Melepaskan diri Dari Majapahit
kerajaan Sriwijaya
Sejarah Kerajaan Sriwijaya: Awal Mula, Masa Jaya dan Kemundurannya
asal usul nama Indonesia
Sekilas Mengenai Asal Usul Nama Indonesia

Logo the Monkey Times

Kontribusi
Kirim Surat

The Monkey Times adalah media digital yang dikelola Rotasi Media Bahagia

Bagikan artikel ini