Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

DigiDay

TikTok Menyiapkan Rp2,92 Triliun untuk Kreator di Amerika Serikat

TikTok berniat mengubah wajahnya di mata Amerika Serikat, di tengah ancaman pemblokiran aplikasi tersebut di negara Paman Sam.

Logo aplikasi TikTok
Logo aplikasi TikTok

the Monkey Times – Dana sebesar $200 juta, atau sekitar Rp 2,92 Triliun, sudah disiapkan TikTok untuk mensuplai pendapatan kreator papan atas di Amerika Serikat. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dulu.

Mengutip Tech Crunch, dana tersebut terangkum dengan nama TikTok Creator Fund. Dan hanya kreator yang memenuhi syarat tertentu yang diperbolehkan menerima dana tersebut.

Lebih jauh lagi TikTok mensyaratkan usia 18 tahun atau lebih, memenuhi syarat jumlah pengikut (yang tidak disebutkan TikTok), serta konsisten memposting konten orisinal (yang sesuai dengan kebijakan komunitas TikTok), bagi para kreator yang bermaksud mendaftar sebagai penerima dana Creator Fund.

TikTok dikabarkan akan mulai menerima pendaftaran dari kreator di Amerika Serikat mulai bulan depan. Seluruh dana Rp 2,92 triliun itu direncanakan untuk digelontorkan di negara itu sepanjang tahun.

TikTok memang sedang menghadapi ancaman pemblokiran di negara Paman Sam, terutama setelah platform besutan ByteDance itu digunakan penggunanya untuk menyuarakan isu-isu politik.

Dalam artikel berjudul The case for and against banning TikTok, Rebecca Jennings menulis situasi per-TikTok-an di Amerika yang kerap digunakan sebagai platform promosi untuk sejumlah aksi berbau politis seperti protes Black Lives Matter. Sampai-sampai seruan boikot kampanye Trump di Tulsa, Oklahoma pun dimulai dari TikTok.

“Algoritma TikTok sangat cocok untuk menyebarkan konten politik lebih cepat dan kepada audiens yang lebih besar ketimbang aplikasi media sosial apapun, terlepas perusahaan di balik TikTok mengakui itu atau tidak,” tulis Rebecca.

Kemampuan algoritma itulah yang kemudian ikut mengancam keberadaan TikTok di Amerika Serikat. Masih mengutip Jennings, otoritas resmi Gedung Putih ini berbicara sangat serius tentang kemungkinan melarang TikTok di Amerika Serikat.

Meski keputusan terkait pembekuan TikTok masih belum jelas, namun wacana tersebut muncul di tengah peningkatan ekskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Kita semua tahu induk perusahaan TikTok, ByteDance merupakan raksasa yang berasal dari China.

Jennings berpendapat TikTok kadung jadi sebuah kompetitor serius bagi perusahaan-perusahaan yang tumbuh di Silicon Valley.

“Apa artinya untuk peran Amerika di ranah teknologi global bila satu generasi anak-anak (Amerika Serikat – red) tumbuh dengan sebuah aplikasi yang dimiliki China?”, tulis Jennings.

Sementara itu laman NPR mengambil sudut pandang yang lebih politis tentang wacana pembekuan TikTok di Amerika yang diakibatkan oleh kecemasan akan “praktik pengintaian” yang mungkin saja dilakukan TikTok.

TikTok, tulis NPR, memang sebuah entitas yang terpisah jauh dari perusahaan induknya. Namun ada kekhawatiran dari pemerintahan Trump serta anggota kongres dari Demokrat dan Republikan tentang kemungkinan TikTok digunakan sebagai alat Partai Komunis China untuk memata-matai warga Amerika.

TikTok kini merespon ancaman dan kemungkinan pemblokiran dengan cara memasang wajah yang lebih ramah di Amerika Serikat. Mengutip Tech Crunch kembali, TikTok berencana menambah 10,000 staf di Amerika.

Sementara itu ada rumor yang mengatakan bahwa ada sejumlah investor yang bersedia membeli sebagian besar saham TikTok dari ByteDance. Tujuannya untuk sepenuhnya melepaskan kontrol ByteDance dari aplikasi tersebut.

Baca Juga: Jumlah unduhan TikTok Indonesia lebih Banyak ketimbang Brasil

Di Amerika Serikat, pengguna TikTok tumbuh pesat menjadi sebanyak 26 juta orang di seluruh negara bagian.

Amerika Serikat jadi pasar terbesar ketiga bagi TikTok setelah India dan Brasil. Negara itu menyumbang 8,2 persen instalasi baru, berdasarkan data dari Januari – Juni, seperti dikutip dari South China Morning Post.

India, negara dengan 200 juta pengguna TikTok dan lebih dari 1 juta kreator, sudah lebih dulu memblokir TikTok. Pemerintah India melakukannya bulan lalu dengan alasan ancaman keamanan siber.

Ditulis oleh

Tugas saya menulis berita. Titik.

Artikel Terkait

DigiDay

Itu dilakukan dalam rangka "memberikan" akses ke semua orang untuk menikmati ponsel 5G.

DigiDay

Tapi mereka akan terus mengingatkan pengguna akan hal itu.

Mau Tahu Donk

Ada dua cara: gratisan dan berbayar.