Tiada Kabar dari Teman masa Kecilku

Kadang, menjalin hubungan pertemanan dengan sahabat jauh lebih baik ketimbang jatuh cinta kepadanya. Setuju?


teman masa kecilku
Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Hai teman kecilku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah baik-baik saja? Ku harap kamu selalu dalam kondisi yang baik.

Meskpun kini kita telah lama tidak saling komunikasi, tapi apakah kamu tahu bahwa aku disini selalu menunggu kabar tentangmu.

Jika waktu bisa terulang, aku ingin sekali kembali ke masa dimana kita selalu bahagia bersama. Hanya karena kekonyolan yang tak berarti, kita selalu bisa tertawa lepas.

Masih ingatkah kamu saat saat bersama kita di waktu kecil? Kamu sering menghampiriku untuk sekedar bermain bersama atau bertemu dalam waktu yang sebentar. 

Meski aku tidak terlalu ingat kenangan kecilku, tapi kamu termasuk ke dalam ingatanku yang tak pernah terlupakan. Kita pernah satu sekolah di satu kelas, namun akhirnya harus berpisah karena kamu ikut orang tua merantau.

Memang kita selalu terpisahkan dari kecil, tapi itu bukan berarti kita tidak bisa saling bertukar cerita. Kamu yang selalu mengawali untuk mengajak bercerita tentang kehidupanmu yang jauh disana. 

Menceritakan segala hal yang berkaitan dengan aktivitas keseharianmu. Mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi. Satu hal pun tidak pernah terlewat untuk berbagi bersama. Aku pun melakukan demikian ke kamu.

Ketika beranjak dewasa, kedekatan kita mulai dicurigai oleh banyak orang. Memang ya tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan

Meski awalnya aku menganggap itu merupakan hal sepele, namun ternyata berbeda dengan pendapatmu. 

Kamu beranggapan bahwa semua itu adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Yaitu kamu mulai menyukaiku saat masih kita kecil.

Hal tersebut mulai dicurigai oleh ibumu. Aku yang memang tidak peka terhadap perasaan orang, tentunya menganggap semua itu hanyalah bercanda belaka tidak ada yang serius. 

Tapi tidak denganmu, kamu mulai menyatakan cintamu kepadaku. Namun, aku tidak bisa menerimanya. 

Tak berarti kamu bukanlah tipeku, tapi aku tidak mau pertemanan kita akan berakhir begitu saja ketika kita mengakhiri akhir cerita cinta kita.

Oleh karena itu, aku selalu menolak setiap kamu menyatakan cintamu. Aku beruntung sekali memiliki teman sepertimu, karena ketika aku menolakmu berkali-kali tapi kamu masih mau menjadi teman terbaikku. 

Setiap kali aku sedang sedih atau patah hati, kamulah orang yang bisa menerima segala keluh kesahku. Kamu siap mendengarkan semua ceritaku. Bahkan kamu tidak pernah mengeluh sedikit pun.

Baca Juga:  Surat Untuk yang Sedang Berusaha terlihat Baik-baik Saja

Pernah sekali aku menceritakan mengenai kisah cintaku dengan pacar baruku, dan kamu dengan hati yang lapang tetap mau mendengarkannya. 

Meski kamu pasti tidak suka, kalau aku menceritakannya. Tapi kamu tetap memberikan respon yang positif kepadaku, agar aku bisa lega dengan menceritakannya kepadamu. 

Bukan hanya sekali, kamu juga sering menceritakan tentang orang yang sedang kamu dekati kepadaku.

Oh iya, kita juga kan punya tanggal dan bulan lahir yang sama. Itulah yang membuat kita awet menjalin pertemanan sejak kecil. Banyak sekali kesamaan yang kita alami, mulai dari makanan hingga pakaian. 

Bahkan untuk masalah bau badan juga hampir sama. Padahal kita jarang sekali bertemu dan berbicara, tapi kita punya banyak sekali persamaan. 

Mungkin chemistry terbangun dari seringnya kita berkomunikasi tiap hari.

Waktu mulai menginjak bangku perkuliahan, aku memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar kota. Meski bukan satu kota denganmu, tapi kita tetap bisa berkomunikasi dengan lancar. 

Di tahun ketiga, kamu menghampiriku ke tempat perkuliahanku untuk sekedar berkunjung serta bermain bersama. Kalau boleh jujur sih, ini pertama kalinya aku bisa quality time bersamamu.

Agak canggung sih, tapi aku mulai mencairkan suasana dengan menceritakan berbagai hal yang konyol. Kita memang memiliki selera humor yang sama, sehingga apapun yang kita bahas selalu menjadi selalu jadi bahan yang seru untuk ditertawakan. 

Kita berkeliling kota tempatku menjalankan studi, hingga sore hari. Berbagai tempat kita singgahi demi menyambut kamu yang datang menghampiriku.

Kita memang bukan sepasang kekasih, tetapi dengan berteman saja sudah menjadi satu hal yang cukup bagiku. 

Karena bagiku hubungan pertemanan tidak akan pernah berubah meski kita semakin bertambah usia. 

Tapi ternyata dugaanku tersebut salah, di tahun ketiga aku kuliah kamu memutuskan untuk tidak menghubungiku lagi. Alasannya karena kamu ingin mencari sosok wanita buat pendampingmu kelak.

Tidak logis sih, tapi memang selama kamu berpacaran aku selalu menjadi penghalang hubunganmu. Padahal aku sendiri tidak ada niatan seperti itu. 

Ya mungkin karena aku dan kamu merupakan teman yang belum pernah terpisahkan sehingga segala hal yang terjadi selalu dibagikan. 

Terutama soal pacar, kamu selalu memberitahukan bahwa aku adalah sahabatmu yang mungkin akan terus kamu hubungi tiap saat selain pacar kamu.

Namun, ada beberapa pacar kamu yang mau menerimanya tapi untuk yang terakhir ini dia tidak mau menerimaku. Sehingga kamu mengambil jalan untuk memutus komunikasi kita. 

Baca Juga:  Sudah lama kita Tidak Saling Bercakap, Kawan

Mulai dari nomor teleponku yang kamu blokir hingga sosial mediaku juga. Aku sempat kaget, tapi aku tidak punya hak buat melarangmu. 

Setidaknya kamu telah menentukan jalan yang terbaik buat hidupmu selanjutnya bersama pasanganmu itu.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru