Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Surat

Teruntuk Teman yang tak sempat Kusampaikan pamit Padanya

Aku tahu surat ini tak akan sampai, tapi kuharap perasaanku membaik setelah menuliskan segala keluh kesah selama ini.


Teruntuk teman yang hilang
Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Mungkin ingatan akan hari itu akan terkubur perlahan karena telah termakan usia. Kurang lebih 14 tahun berlalu sejak terakhir kali kita bertemu dan bercanda bersama.

Iklan

Kala itu aku yang tidak pernah betah berada di sekolah lebih memilih menghabiskan waktu di tempat lain. Aku yang selalu jadi korban perundungan tidak pernah mendapat tempat yang nyaman di rumah kedua tempatku menimba ilmu.

Rumah kedua terasa seperti neraka. Tetapi setiap pagi harus kulangkahkan kaki ke dalam satu ruang kelas. Duduk diam di bangku sekolah dan menerima ilmu yang diberikan oleh guru hingga waktu istirahat yang membosankan tiba. 

Iklan

Kau tahu kenapa membosankan? Karena aku tidak pernah memiliki teman untuk diajak makan atau bermain bersama. Rutinitas ini harus berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Aku pun heran mengapa bisa kuat.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya aku bertemu kamu, Anna. Terasa seperti embun di tengah gersangnya hidup. 

Iklan

Aku bertemu dengan seorang gadis berkulit putih dengan pipi memerah. Kamu yang kekanakan, tetapi menyenangkan meski seringkali sikapmu rada-rada manja. 

Aku mungkin telah lupa bagaimana cara indah Tuhan mempertemukan kita. Tapi satu yang pasti: aku ingat kamu tidak pernah membeda bedakan setiap makhluk Tuhan.

Sayang sekali kita tidak bersekolah di tempat yang sama. Jadi tidak banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama. Tapi apa kamu sadar kalau kehadiranmu menyuntikkan semangat untuk pergi ke sekolah? 

Sepulang sekolah kita pasti bertemu dan bermain bersama. Aku tidak pernah menyangka kita akan begitu cocok dan berteman cukup lama, mengingat sikapku yang selalu tertutup pada orang baru.

Yang tidak pernah kusangka, kamu pun tidak diinginkan oleh teman-teman sekolahmu. Terasa sangat menyakitkan saat kudengar mereka tidak menyukaimu karena perbedaan dalam hal keimanan. 

Simbol keyakinan di dadamu jadi sebuah masalah. Saling menghargai antara manusia, meski beda keyakinan sekali pun terasa kosong di zaman itu. Pun kalau diucapkan cuma jadi kalimat yang sekali lewat dan sesekali terdengar diucapkan guru sekolah.

Anak-anak yang tidak tahu apa apa harus dimaki hanya karena kamu tidak menganut keimanan mayoritas. Tidak pernah kusangka juga mereka menyakitimu. Hari-hari berlalu dengan tangis karena kamu selalu dikatai dengan kata-kata yang tidak pantas. 

Tercetus kalimat kamu ingin berindah keyakinan saja agar diterima di tempat sekolahmu. Ternyata hidup kita tidak jauh berbeda. Sama-sama tidak betah di sekolah dan belajar di tempat tersebut.

Bukan kenangan manis yang menempel di ingatan kita. Justru banyak hal buruk yang kita hadapi dan sulit hilang hingga saat ini. Mirisnya, aku harus pindah ke tempat lain. Bahkan sampai pindah sekolah. 

Dengan segala keterbatasan biaya dan teknologi, kita harus berpisah tanpa ada kata pamit yang terucap. Secara tiba-tiba aku tidak boleh masuk sekolah dan tidak bisa bertemu dengan kamu ataupun Dilla untuk sekadar menitip salam.

Entah apa yang kamu rasakan untukku kala itu. Mungkin kamu marah. Mengingat sikapmu yang mudah meledak-ledak jika aku tidak melakukan sesuatu sesuai keinginanmu. Aku yang tiba-tiba tidak ada kabar dan tidak punya daya untuk menghubungimu. 

Jika saat itu sudah ada ponsel pintar atau sosial media, tentu kita dapat terhubung dengan mudah. Aku bisa berjanji untuk bertemu lain waktu dan menemuimu untuk sekadar mengucapkan sampai bertemu di lain waktu.

Ironisnya, aku terus merasa kehilangan hingga saat ini karena tidak ada sosok yang menggantikan kamu. Kita yang berbeda, tetapi dapat saling mengisi. Ah, mungkin terasa klise dan picisan untuk pertemanan anak kecil. 

Tapi yang kurasakan sangat berbeda. Seperti ada hembusan angin di tengah sesaknya duniaku yang membosankan. Aku yang pergi tanpa memberi ucapan selamat tinggal dan aku yang takut untuk mencari tahu tentang kamu.

Bertahun tahun berlalu, aku pun bodoh tidak mengetahui nama lengkapmu. Aku kesulitan mencari kamu melalui sosial media yang saat ini sudah marak digunakan. Tidak ada kabar dan tanda, hingga keinginan untuk mencarimu terkubur secara perlahan. 

Sosokmu pun hanya kuingat sebatas seragam merah putih yang membalut tubuh jenjang dan tingkah kekanakanmu. Senyum renyah serta pipi kemerahan terkena terik matahari siang.

Aku tahu surat ini tak akan sampai, tapi kuharap perasaanku membaik setelah menuliskan segala keluh kesah selama ini. Kamu yang kucari tanpa cara yang pasti dan tidak kunjung menemui hasil.

Tapi aku selalu yakin Tuhan bisa saja mempertemukan kita di hari esok dalam keadaan yang lebih baik. Kamu yang selalu kurindu tentu tidak akan sama setelah 14 tahun berlalu, tapi kuharap embun dan angin sejuk di kala itu akan tetap terasa sama di hari ini.

Salam manis dan sayang. Semoga kamu bahagia.

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang