Kami mungkin menerima komisi untuk setiap pembelian yang dilakukan lewat tautan afiliasi yang termuat di beberapa jenis konten yang diterbitkan pada topik/kategori tertentu. Pelajari selengkapnya.

Topik: Surat

Tentang Bimbingan yang kau Berikan, ibunda Dosen Sayang

Sosok dosen yang dipanggil bunda sangat penuh kehangatan. Kamu pahlawanku, bunda dosen kesayangan. Tiada yang bisa menggantikanmu.


ilustrasi ibunda tersayang
Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Baru pertama kali ini aku mendapati bahwa seorang dosen lebih nyaman disebut sebagai ibunda. Sesuai dengan julukan yang diberikan, bunda memanglah sosok ibu bagi para peserta didiknya yang masih membutuhkan orang tua untuk mengarahkannya ke jalan lurus.

Iklan

Sosok itu pun penuh dengan kehangatan, walaupun terkadang merasa gemas dengan tingkah segudang anaknya yang bandel dan tidak bisa diatur.

Bun, aku ingin sedikit mengadu padamu tentang hari hariku tanpamu lagi di sisiku. Mendengarmu berpulang karena penyakit stroke, membuatku sempat tidak bisa berpikir jernih.

Iklan

Saat itu diri ini tidak merasakan tanda hari itu akan tiba, namun ternyata tidak dengan suratan takdir yang dituliskan Tuhan sejak awal. Walaupun bunda tidak disisiku, aku harap bunda bisa bangga melihat perkembangan anak didiknya ini. 

Ternyata rasa kehilangan sosok bunda tampak menyeruak ke permukaan. Duka atas kepergianmu, selamanya tertulis dalam batin semua orang yang pernah berkomunikasi langsung denganmu.

Iklan

Bahkan angkatanku pun berusaha meluangkan waktu untuk bisa mengantarkanmu ke liang peristirahatan dirimu, walaupun kami tahu hal tersebut tidak bisa membayarkan semua jasa dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. 

Sekali lagi maafkan aku bunda, aku termasuk salah satu orang yang tidak bisa menghadiri pemakamanmu. Aku hanya bisa melihat postingan dan sekelebat informasi dari teman temanku yang saat itu mengantarkanmu langsung.

Lewat sebuah foto dan video singkat itulah, air bening itu tiada hentinya turun dengan derasnya tanpa permisi kepada sang pemiliknya. Rapalan doa pun hingga kini terus ku ucap, terutama jika aku mengenang sosokmu kembali.

Saat ini aku sudah bekerja dan mencoba lebih dewasa dari sebelumnya, walaupun tidak bisa seperti sosokmu yang terus menghiasi hariku. Setiap petuah yang kau sampaikan sebelum ajal menjemput, terus berputar di pikiranku.

Kini aku sadar mengapa dirimu berikan petuah itu padaku, tentu saja untuk melindungiku dari kerasnya sisi lain dunia yang saat itu belum diketahui oleh anak polos ini. 

Aku bersyukur telah dipertemukan olehmu, karena dirimu adalah sosok yang selama ini aku cari. Selagi guru atau dosen lain lebih senang menyudutkan muridnya tanpa memberikan solusi tepat, justru disinilah dirimu dengan segala kehangatanmu mencoba merangkul anaknya sebisa mungkin agar tidak tersesat.

Bunda, kamu adalah orang yang hebat. Bukan hanya diriku saja yang merasakan hal ini, tapi kami selaku anak didikmu juga merasakan hal yang sama. 

Percaya atau tidak, suara saat dirimu mulai menasehati kami terus berkeliaran di kepala kami. Sayangnya suara tersebut hanya bisa didengarkan dari bayanganmu saja, tanpa bisa aku raih kembali jika memang aku menginginkannya.

Bahkan sejujurnya saat ini aku merindukan pelukanmu yang begitu menenangkan hatiku yang kacau bak kala itu. Bun, bolehkah aku bilang rindu padamu ?

Aku masih ingat ketika bunda tersenyum tulus ketika pertama kali melihatku tertawa pertama kali. Dirimu mengatakan jika diriku sebenarnya tidaklah abu abu ataupun hitam seperti tampilan luarku.

Hanya butuh senyuman manis dan mendengar suara tawa khas ku, dunia seakan bersinar lebih cerah dan penuh dengan kebahagiaan. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk lebih sering tersenyum dihadapanmu.

Hal ini tidak aku lakukan hanya karena ingin menyenangkanmu saja, sebenarnya senyuman yang ku lontarkan mengandung segudang arti.

Karena saat itu aku sadar, sosok yang sebenarnya ingin tersenyum lebar ini bukanlah diriku namun dirimu sendiri. Lewat perantara senyumku, ku harap rasa sakit dari penyakit yang menyerangmu bisa sedikit berkurang perlahan. 

Tahukah bunda kenapa aku sampai melakukan ini ? Entah orang lain juga melihatnya ataupun bagaimana, aku merasakan kesedihan di balik pandangan matamu yang indah.

Mungkin bibir boleh saja mengembang hingga memperlihatkan deretan gigimu, tapi sorotan mata tidak bisa membohongiku.

Disanalah tersimpan rasa terdalam yang tidak ingin disampaikan, dan disanalah diriku ingin menyelam sedalam dalamnya. 

Aku harap bisa melakukannya, nyatanya aku tidak bisa menyelam terlalu jauh dari sekedar sorotan mata sayu itu. Maafkan aku bunda, aku harap bisa memahami bagaimana sakitnya menahan penyakit yang tengah menggerogoti tubuhmu.

Bahkan terakhir kalinya kita bertemu, rasanya aku belum memberikan kesan yang baik seperti yang aku harapkan. Sekali lagi, maafkan anakmu ini bunda. Aku sayang bunda dan bunda harus tahu itu. 

Aku harap bunda tidak lagi merasa kesakitan lagi saat ini. Hiduplah abadi di sisi Tuhan dan lihatlah kami dari kejauhan saja. Kami pun berharap bunda tidak kecewa dengan hasil yang berhasil kita dicapai, walaupun sepertinya belum maksimal seperti yang diharapkan.

Namun bunda harus tahu, proses untuk mencapai yang disebut keberhasilan ini sebenarnya berasal dari semangatmu yang tidak pernah luntur mengajar serta menasehati kami. 

Teruntuk ibundaku, ibunda kami tersayang yang akan selalu hadir di hati kita semua.

1637809467 LMqn9WyiH4rRRXbPuXboe1tYL1EqK5ei
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang