Surat untuk Teman Masa Kecilku yang hanya Terlihat Olehku

Hai teman, apa kabarmu?


teman-yang-aku-lihat

Ilustrasi pertemanan yang sehat. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Di sore hari tatkala sang surya sudah mulai kembali ke persembunyiannya, hujan mengguyur dengan sangat derasnya. Meski sedang hujan, langit kala itu masih belum petang.

Bahkan, sinaran mentari juga masih terasa hangat. Kala itu, aku sedang duduk di pangkuan ayah yang sedang menonton pertandingan badminton melalui televisi jadul.

Aku yang mulai bosan meminta ayah untuk menurunkan aku dari pangkuannya. Aku bergegas lari menuju daun pintu untuk menyaksikan air yang sudah mulai naik. Pikirku, ini waktu yang tepat untuk bermain air sembari membuat kapal dari kertas.

Namun, jika ayah atau ibu tahu pasti aku akan kena marah. Namun, yang namanya anak kecil pasti sudah tak peduli jika ada  peluang bermain di hadapannya.

Aku pun menuju ke ruangan kakak untuk mengambil secarik kertas yang nantinya dibentuk menjadi perahu. Seusai membuat perahu kertas, aku pun mengendap endap menuju daun pintu untuk meletakkan kertas ke permukaan air yang sudah mulai naik.

Betapa gembiranya aku melihat ayah yang ketiduran dengan tv yang masih menampilkan acara badminton.

Tiba tiba, dari kejauhan kulihat seorang perempuan memakai baju putih dengan pita besar di atas kepalanya.

Waktu itu, aku tak melihat dengan jelas wajah dari perempuan itu. “Hei, jangan hujan hujan! Nanti dimarahi ayah”. Teriakku dengan polosnya. Perempuan itu kemudian melangkah semakin dekat untuk menghampiriku.

Ketika ia sudah ada di depan mataku, yang ada di pikiranku hanyalah wajah aneh yang tak seperti biasanya. Kurasa, ia tidak memiliki alis dan kelopak mata. Bahkan, mulutnya seakan lebih lebar dari manusia biasa.

Yang kuingat, dia memakai baju berwarna putih dengan pita besar di kepalanya. Bajunya cantik sekali, pikirku ia adalah anak orang kaya yang merupakan warga baru di sini.

Di saat mata kami bertemu, ia menebarkan senyuman yang sangat lebar. Dengan pikiran polosku aku bertanya kepadanya, “kamu sariawan? Mengapa bibirmu lebar sekali?”

Setelah melontarkan pertanyaan tersebut, senyumannya kian melebar hingga ujung kanan dan kiri bibirnya menyentuh telinga. Namun, aku masih berpikir bahwa dia wanita yang normal.

“Ayo bermain perahu kertas, aku membuatnya dua buah. Jadi kita bisa bermain bersama sama”. Pintaku kala itu saat ia tetap berdiri di depanku.

Baca Juga:  Dariku sekarang untuk Diriku sendiri di Masa Depan

Tak lama, ia pun duduk di sebelahku sembari memainkan perahu kertas yang telah aku buat. Ketika perahu kertas milikku tenggelam, ia tertawa begitu keras hingga aku ketakutan mendengar tawa seramnya.

Momen bermain perahu kertas tersudahi tatkala ayah memanggilku untuk masuk ke dalam. Di saat ayah memanggilku, aku merasa kebingungan. Sebab, teman bermain yang ada di sebelahku tiba tiba menghilang.

Kupikir ia sudah pulang ke rumahnya karena ayahnya juga menyuruh masuk ke dalam rumah. Yang sangat disayangkan, aku tak sempat menanyakan namanya.

Keesokan harinya, aku pergi ke ladang pisang milik pamanku. Di sana, kulihat ibu dan paman sedang memetik buah pisang hasil dari berkebun. Untuk mengusir rasa bosan, aku memilih bermain di sebalik pohon pisang yang digantungi ayunan.

Ayunan tersebut dibuat oleh ayah sejak paman memutuskan pindah dari kota ke desa, dan membeli tanah ladang tersebut.

Dikala asyiknya bermain ayunan, tiba tiba perempuan yang kemarin bermain perahu kertas ada di belakangku. Sontak aku langsung turun dari ayunan dan memintanya untuk tidak mengejutkanku lagi.

“Jangan begitu ya, aku kaget tahu”. Dia hanya tersenyum sembari duduk di ayunan tersebut. Kemudian, ku dorong ayunan tersebut dengan pelan agar ia bisa merasakan serunya bermain ayunan.

Di saat itu pula, kutanyai nama teman bermainku itu. Ifana, begitu nama cantik yang dimiliki oleh teman bermainku itu. Hari demi hari silih berganti, namun temanku tak pernah melewatkan harinya untuk bermain bersamaku.

Terkadang, aku merasa khawatir jika orang tuanya memarahiku karena selalu bermain dengan anaknya tanpa mengenal waktu.

Pada suatu hari, ketika aku dan Ifana sedang asyik bermain congkak di teras rumah tiba tiba ayah mengagetkanku. Ia berkata “Ngomong sama siapa? Ayo masuk ke dalam!” pinta ayahku.

Aku merasa bingung, di sampingku jelas jelas ada Ifana yang sedang memainkan congkak. Namun, mengapa ayah bertanya dengan siapa aku berbicara?

Keesokan harinya, ketika aku membuka mata tiba tiba Ifana berada tepat di sebelahku dengan matanya yang membelalak. Aku pun sangat terkejut dan menangis sekencang kencangnya.

Tak lama, kakekku datang ke rumah. Entah apa yang dilakukannya sehingga aku tak melihat keberadaan Ifana hingga aku bertumbuh besar.

Meski sedikit seram, setidaknya Ifana lah yang menjadi teman setia dikala tetangga tetanggaku menganggapku gila.

Baca Juga:  Secuil Cerita Untuk Kakak yang Sudah Berjuang

Hal yang selalu ingin kutanyakan ialah, siapa sebenarnya dirimu. Dan dimana kini kau berada. Jika kamu memang bukan manusia sepertiku, aku tetap bisa menerimanya. Sebab, kamulah yang selalu ada saat aku kesepian. Terima kasih Ifana.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: curahan hati, kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru