Surat Untuk Sepuluh Purnama yang Telah Berlalu

Aku tak tahu harus memulainya dari mana, karena perasaan ini terlalu kompleks dan sulit untuk dijelaskan.


untuk-10-purnama

Ilustrasi bulan purnama. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Kamu yang kemarin dalam genggaman kini harus kulepas begitu saja karena cita-cita yang sudah lama mengendap dalam pikiranmu.

Tak hanya cita cita, kamu harus pergi meniti karir untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik. Tak bisakah aku masuk ke dalam salah satu daftar masa depan yang kamu impikan kelak?

Ah pertanyaan yang terlalu sulit untuk diucapkan karena malu telah didepak pergi. Aku tak akan memohon, seperti yang kusebut di surat sebelumnya yang mungkin belum kamu terima hingga detik ini. Tak akan kukirim karena inilah surat penggantinya untukmu.

Terlalu sulit berkata kata di depanmu hingga harus kutulis surat sedemikian rupa. Aku yang banyak omong menjadi gagap mendadak saat harus berhadapan dengan kamu saat membahas kita.

Sekali lagi aku tak akan memohon, karena aku tahu keputusan ini pun sulit. Kamu melepas aku untuk masa depan yang lebih baik. Aku hanya bisa mendukung keputusan yang kamu ambil tanpa bisa mencegah ataupun menolak.

Bahkan di tengah patah hatiku, aku pun masih yakin Tuhan akan memberi rencana terindah dan terbaiknya kelak. Mungkin saat ini belum kurasakan, tetapi suatu saat pasti aku akan sangat bersyukur apapun itu.

Sepakat berpisah secara baik baik, ah dulu kupikir hal ini tak akan mungkin terjadi. Kupikir mana ada berpisah atas dasar keputusan bersama dan baik baik. Nyatanya, kita bisa berdamai untuk itu dan memilih jalan sendiri sendiri setelah sepuluh purnama bersama.

Aku tahu, kamu pasti tak akan ingat sejak hari pertama kita kembali bersama. Meskipun seringkali kamu ucap setiap yang kedua kali rasanya tak akan sama lagi. 

Aku bersyukur pernah memilikimu dan bersamamu menjalani hari hari yang sulit kemarin. Bersamamu, aku belajar banyak hal bahkan arti perjuangan dan mengikhlaskan.

Tak banyak yang bisa kuberikan kepadamu selama sepuluh bulan terakhir, tapi yang pasti kamu tahu rasaku.

Bila pada akhirnya, rasamu tak lagi menggemakan namaku setidaknya aku pernah ada di dalam hidupmu meskipun hanya sesaat.

Hari ini kubaca sajak atau syair, dari Emha Ainun Najib. Tuhan mungkin tak mengizinkan aku memilikimu, tetapi Tuhan mengizinkan aku mencintaimu.

Terasa sangat tepat dan pas untuk kondisiku saat ini. Terima kasih untuk kamu yang bersedia berjalan bersamaku yang hanya separuh karena sesungguhnya tak ada manusia sempurna.

Baca Juga:  Kamu yang pernah Hadir, tapi tak pernah Kusesali

Terima kasih untuk kamu yang sempat mengajariku banyak hal, terutama dalam hal sabar untuk menghadapi sesuatu hal.

Terima kasih untuk kamu yang memberikan pengalaman berharga. Terima kasih untuk kamu yang sempat singgah, meskipun tidak bersama hingga akhir tiba. Tetapi, satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyesal mengenal kamu.

Aku tidak pernah menyesal kembali bersama dan menjalin hubungan yang sempat serius. Aku tidak menyesal sempat mengenal kamu dan keluarga yang membuatku merasa sangat diterima.

Meskipun aku diberi kesempatan untuk mengulang hidup, aku akan tetap memilih jalan ini. Pilihan ini justru yang akan membuat aku lebih dewasa kelak dan memiliki pengalaman berharga.

Tak ada kata penyesalan untuk setiap pilihan yang telah aku buat, tetapi aku justru ingin kembali ke hari hari kemarin bila aku memiliki banyak salah.

Akan aku perbaiki apa yang bisa aku perbaiki dan tidak membuatmu kecewa atau justru malu memilikiku.

Untuk kamu yang akan tumbuh besar di masa yang akan datang, kuharap kamu selalu baik baik saja. Seperti apa takdirmu nanti, kamu harus tetap menjadi kebanggaan banyak orang.

Banyak harapan yang ada di pundakmu, terutama keluarga yang ingin kau angkat jadi lebih tinggi.

Saat kamu sudah siap untuk mengangkat keluarga, yakinlah kamu telah melewati banyak hal dan telah berubah jadi orang yang lebih baik daripada sebelumnya.

Di saat kamu telah memiliki kesiapan untuk memulai hubungan pun, kamu harus mulai berubah. Aku tahu setiap orang tidak ada yang sempurna, tapi belajarlah setia dengan satu orang.

Kamu tahu, aku selalu punya firasat kuat saat kamu memiliki wanita lain dan itu terbukti. Aku tetap diam, karena tidak tahu bagaimana cara mengungkapnya.

Tak ada wanita sempurna, pun laki laki maka gunakanlah toleransi untuk saling mengerti.

Teruntuk kamu yang kemarin kemarin masih di sisiku, terima kasih untuk segala penerimaan yang kamu lakukan. Tanpa sadar aku telah terbiasa dengan hadirnya kamu yang selalu jadi angin baru buatku.

Saat ini, aku harus mulai terbiasa tanpa adanya kamu di sisiku untuk menemani hari hariku. Semoga kita sama sama bahagia dengan hal hal yang akan terjadi di masa depan.

Semoga pilihan ini selalu jadi yang terbaik, untuk kamu ataupun aku.

Terima kasih untuk sepuluh purnama yang telah lalu. Semoga kita selalu bahagia, meski dengan jalan yang berbeda.

Baca Juga:  Untuk Temanku yang Sedang Merasa Tersakiti
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru