Surat Untuk Sahabat yang kini Menjadi Temanku

Apa kabar teman. Atau sahabat, tapi masih bolehkah aku menggunakan kata itu?


untuk-sahabat

Ilustrasi persahabatan. (Grafis: the Monkey Times)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Aku cukup kebingungan menggunakan istilah yang tepat. Teman, menjadi kata yang terpikirkan olehku. Karena, bagiku tidak ada yang namanya mantan sahabat, jadi aku ingin menganggapmu sebagai teman. Mengingat hubungan kita yang sudah tidak sedekat dahulu.

Lewat rangkaian kata ini, aku ingin mengenang semua kenangan manis yang pernah kita ukir. Lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan penyesalanku. Lewat untaian kata ini juga aku ingin menuangkan perasaan dan pemikiranku. Aku harap, kamu menemukan dan membaca pesan yang ingin kusampaikan ini.

Jika diingat, sebenarnya kita telah pernah bertemu saat Sekolah Dasar. Waktu itu, kamu adalah murid pindahan baru, namun aku tidak menyadarinya.

Aku terlalu asik dan nyaman berteman dengan teman masa kecilku, dengan teman yang kuanggap nyaman. Kamu sudah tahu bukan, jika aku tidak bisa langsung dekat dengan orang lain?

Selain itu, kamu juga hanya sebentar sekolah di SD yang sama denganku, karena kamu harus berpindah tempat tinggal. Jadi, mungkin wajar jika di saat SD kita tidak saling mengenal dekat.

Mungkin, bisa dikatakan jika waktu sekolah dasar bukan awal dari perkenalan kita. Karena, kita baru tahu kamu ketika memasuki jenjang menengah pertama.

Di jenjang ini, memang menjadi awal mula kisah persahabatan kita. Menjadi awal mula kita pula mulai mengukir kisah indah persahabatan kita. Aku ingat, ada temanku SD yang mengenalkanku, yang mengingatkan jika kita pernah satu tempat menuntut ilmu saat sekolah dasar. Namun, karena lokasi kelas kita yang berbeda, kita tampak tidak dekat.

Di kelas 7, kita hanya sekedar bertegur sapa saja, just say hello. Kita mulai layaknya teman dekat saat menginjak kelas 8, karena waktu itu duduk di kelas yang sama. Aku lupa apa yang menjadikan kita dekat, kamu masih ingat? Namun, yang pasti saat itu kita benar menjadi teman baik.

Sering main bersama, kemanapun bersama, bahkan sudah tidak canggung main ke rumah. Saking dekatnya kita, tak sedikit pula orang yang menganggap kita anak kembar. Memasuki jenjang tingkat 9, kita mulai tidak satu kelas lagi.

Meskipun begitu, persahabatan masih tetap terjaga. Di kala jam istirahat, kita bermain, bercanda tawa, dan bergosip tentang banyak hal. Jika dirasakan, aku ingin tetap mengingat masa itu. Semoga, kamu juga tetap mengingatnya.

Baca Juga:  Surat untuk Jiwa si Pejuang yang tak kenal Lelah

Karena kedekatan kita, hingga memutuskan untuk masuk Sekolah Menengah Atas di tempat yang sama. Lagi-lagi, kita tidak bisa masuk di kelas yang sama waktu awal SMA.

Aku di kelas X-2 dan kamu di kelas X-3. Namun, setidaknya kita masih satu sekolah, jadi dapat bertemu dikala jam istirahat. Di kelas itu, kamu mendapat teman baru, dan mengenalkannya padaku.

Aku sangat senang, karena bertambah jumlah temanku. Ditambah dengan kegemaranku yang hampir sama dengan dia, jadi kita mudah akrab.

Mulai saat itu, kita kemanapun sering bertiga. Lagi-lagi, karena terlalu dekatnya, kita bertiga dianggap sebagai anak kembar. Saat itu, aku tidak hanya menganggapmu sebagai sahabat saja, bahkan kakak kedua bagiku.

Banyak kenangan manis yang sudah kita ukir bersama. Bahkan, karena kedekatan kita, aku pernah meyakini jika kita akan terus bersama hingga tua, namun hal itu tidak terjadi.

Ada konflik yang memecah persahabatan kita. Karena keegoisan masing-masing, dalam waktu sekejap hubungan persaudaraan dan persahabatan kita mulai rusak.

Jika diingat, awal memasuki tingkat XII kita sudah mulai menjadi orang asing. Sebenarnya, ada sisi positif dan negatif yang aku rasa karena perpecahan kita, tapi itu dulu.

Saat ini, aku merasakan penyesalan yang begitu dalam. Karena, hanya masalah kecil hubungan persaudaraan kita bisa sejauh ini. 

Kamu tahu, aku menulis ini sambil menahan sedih, sesak dan penyesalan. Memang saat ini kita sudah tidak seasing dahulu. Namun, tetap saja, rasanya berbeda karena kita sama-sama menjauh.

Sebenarnya, sejak kamu memberikan kado terakhir dahulu, aku sudah memaafkanmu. Tapi, entah kenapa aku bingung untuk menunjukkannya padamu.

Untuk sahabatku yang kini menjadi temanku. Sebenarnya, aku ingin menyandang kembali title teman istimewa itu. Namun, aku ragu kamu bisa sebiasa seperti dulu.

Apalagi, kini kamu telah menjadi istri dan ibu dari anakmu. Tapi, perlu kamu tahu, aku sangat ingin menjadi saudara, sahabat, seperti waktu duduk di bangku sekolah dahulu. 

Lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan permintaan maafku, yang mungkin dahulu belum pernah ku ucapkan. Aku minta maaf, aku menyesal atas semua keegoisanku dulu. Maafkan aku juga yang tidak hadir saat kepergian ibumu.

Baca Juga: Tiada Kabar dari Teman masa Kecilku

Maaf, belum menepati untuk bertemu denganmu dan buah hatimu. Aku benar mengharapkan pertemanan kita akan kembali seperti dahulu.  

Baca Juga:  Sudah lama kita Tidak Saling Bercakap, Kawan

Teruntuk semua yang menemukan tulisan ini, mungkin memang tidak sebagus penulis pada umumnya. Namun, melalui kisah ini, aku berharap kamu tidak mengalami penyesalan yang sama sepertiku.

Jika ada konflik dengan sahabatmu, bicarakan dengan kepala dingin dan jangan menguatkan ego. Karena, sahabat terbaik sulit untuk ditemukan, jadi jagalah.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru