Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

Surat

Surat untuk Perempuan yang telah Berpulang dalam Keabadian

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

ilustrasi-keabadian
Gambar ilustrasi keabadian. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)

the Monkey Times – Waktu itu, kita masih sama sama baru tercatat sebagai mahasiswa baru di suatu universitas terkemuka di Malang.

Kamu dan aku duduk di antara ribuan mahasiswa lain yang melakukan registrasi di gedung terbesar di kota Apel tersebut, sehingga tentunya cukup ramai orang kala itu.

Yang kuingat, hari itu aku menyesal berangkat terlalu siang sehingga mendapat nomor antrian yang begitu panjang.

Akan tetapi, kali ini kupikir aku tak akan pernah menyesal mengenalmu lebih dulu jauh sebelum masa perkuliahan dimulai. Kamu duduk di dekatku dalam balutan jilbab yang membuatmu tampak cantik.

Kupikir kamu pendiam, ternyata cerewet dan banyak bertanya tentang suatu hal. Belum genap satu jam, kamu sudah cerita segala hal.

Mulai dari saudara kembar hingga pilihan kuliah yang kamu ambil melalui jalur nilai raport ini. Tak kusangka pertemuan itu membawa kita pada sebuah pertemanan yang menjadi penuh konflik dan rasa sayang.

Beberapa bulan berselang, ku tahu kita tak sekelas tetapi justru dipertemukan dalam suatu acara untuk menjadi panitia.

Kinerja kita tak banyak dibutuhkan memang, tetapi cukup membuatku mengenalmu lebih dalam. Di semester selanjutnya, aku tahu kamu akan lanjut untuk himpunan itu dan aku pun berniat untuk mengikutinya pula.

Setelah kita mengikuti serangkaian diklat dan acara, duduklah dalam tenggelam dalam sebuah perbincangan. Kamu dengan segala keluh kesah percintaan terasa sangat relevan denganku.

Kamu yang kala itu, terasa jauh jadi tiba tiba dekat dan kutahu kita tak hanya sekedar berteman saat ini. Lebih dari itu, kamu ingin menjadi lebih tinggi suatu saat nanti.

Melalui proses yang panjang, rangkaian kegiatan yang padat, caci maki dari kakak tingkat yang membuat kesal, dan cerita cinta yang hampir sama justru mendekatkan kita.

Selang satu tahun, kita masih berkutat di himpunan cukup busuk itu. Lelah sudah tak terasa, bahkan tubuh dan pikiran ini seolah dikuras habis untuk menjadi budaknya.

Kamu yang kukenal cukup pendiam ternyata tegas dalam bertindak, sehingga dipercaya untuk mengemban program yang besar di tahun 2017.

Masih kuingat kala itu, kamu harus ada di Malang padahal liburan terpampang di depan mata. banyak yang pulang kampung, tetapi kamu justru ada di sini untuk menuntaskan program busuk satu itu. 

Entah bagaimana mulanya, kesehatanmu mulai terganggu. Aku tahu, bukan kesalahan program dan himpunan ini melainkan tubuhmu yang mulai tak sehat.

Tak jelas apa penyakit yang kamu miliki karena ingin merahasiakannya dari kami. Seolah kuat berjalan sendiri, kamu justru ingin menutupinya dari banyak orang agar tak ada yang khawatir.

Akan tetapi, tahukah kamu bahwa ketidakjujuran itu yang merenggutmu seakan jauh. Maafkan aku yang kemarin kemarin menjauhi dan seolah tak ingin tahu.

Kukira kamu menjauh dan justru memilih bersama kekasih, sehingga kami pun marah. Kamu semakin diam seputar penyakit itu, tetapi aku tahu kondisimu semakin tak baik.

Aku seolah tak ingin tahu dan menganggap angin lalu, padahal kami tahu bahwa penyakit itu cukup serius.

Laki lakimu menutupinya dan seolah ingin menjauhkan kamu, padahal ia hanya ingin menjaga kesehatanmu dan tak ingin membuatmu lelah. Kondisi yang menurun dan nafsu makan yang kian hilang merenggut berat badanmu.

Itulah alasanmu semakin jauh dan menghilang dari teman teman, tetapi aku tak ambil pusing karena cukup kesal dengan lelakimu.

Namun, itu jadi keputusan paling bodoh yang pernah kuambil karena Tuhan menyadarkan bahwa kehadiran seseorang sangat berarti setelah ia pergi. Kamu pergi dan menampar kami dengan kenyataan bahwa tak siap kehilanganmu.

Sayangnya bukan penyakit sialan itu yang merenggutmu! Justru karena lelakimu yang membawa kamu pada ajal lebih cepat. Kala itu, kamu berjalan bersamanya dan tertabrak mobil di daerah yang padat merayap.

Tak pantas memang jika aku menyalahkannya, tetapi kamu pergi karenanya sehingga tanpa aba aba kamu meninggalkan kami yang saat ini telah pincang.

Ironisnya, lelakimu tak apa dan ia baik baik saja menghirup udara segar hingga saat ini. Aku tahu, ia mencintaimu dan berkata tak ada yang bisa menggantikanmu.

Tetapi, aku sangat marah saat kamu harus pergi dengan cara yang tak baik seperti ini. Di saat kami menjauh, justru kamu pergi dan tak akan kembali lagi untuk menyapa dengan senyuman.

Suaramu masih terngiang hingga saat ini dan petuahmu untukku pun tak akan kulupa. Bila boleh mengulang, aku bersedia kembali ke dua tahun yang lalu untuk sekadar menemuimu dalam keadaan sehat.

Namun, aku sadar bahwa saat ini kamu telah tenang dan sehat di surgaNya. Kamu bisa menikmati makanan yang sebelumnya tak boleh kau nikmati.

Kepergianmu menjadi salah satu tamparan bahwa ajal adalah kawan yang paling dekat dengan manusia. Kamu yang sempat koma dan berjuang meregang nyawa pun akhirnya harus pamit pada dunia.

Tak apa bila ini memang yang terbaik, tetapi maukah kamu mampir di mimpiku sekali lagi untuk mengucap salam perpisahan yang cukup baik malam ini?

Ditulis oleh

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

Artikel Terkait

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?