Surat untuk Kita, Belasan Tahun Kemudian

Surat ini aku tulis di tahun 2020.


surat-diri

Ilustrasi aku di masa depan. (Grafis: the Monkey Times)

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Suatu saat, entah lima tahun ke depan, sepuluh tahun kemudian dan berapa tahun ke depan. Jika kamu masih masih diberi kesempatan, jika kamu menemukan tulisan ini, bacalah untaian kata ini.

Pesan ini aku tulis untuk kamu di masa depan. Aku ingin kamu tahu apa saja yang pernah kualami saat ini.

Aku tahu, kamu akan geli membaca untaian kata yang kamu rangkai sendiri. Namun, aku harap ini menjadi pengingatmu di masa depan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, sudah berbeda dari saat ini.

Aku harap kamu juga tidak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi. Maka, bacalah pesan ini ketika kamu menemukannya di masa depan.

Aku akan ceritakan lebih dahulu apa yang sedang kamu alami saat ini. Di umurmu sekarang, kamu masih menjadi pribadi yang belum mandiri dan kurang dewasa.

Namun, kamu tetap berusaha untuk bisa lebih mandiri dan dewasa. Untuk itu kamu memutuskan untuk tetap merantau, jauh dari orang tua selepas lulus kuliah.

Selepas kuliah, kamu masih menetap di kota rantau tempatmu menimbah ilmu. Mencari pekerjaan dengan harapan pulang membawa berbagai buah tangan untuk keluarga di rumah.

Ketika baru mendapatkan kerja, aku ingat kamu mempunyai dilema. Saat itu, kamu diminta untuk melakukan pelatihan selama 3 bulan di Yogyakarta.

Memang siapapun pasti akan sangat senang jika diminta untuk mendatangi Kota Istimewa tersebut. Tapi, saat itu kamu tidak sebahagia seperti orang lainnya. Ada dilemma yang membuatmu ragu untuk datang.

Kamu terlalu nyaman dengan kondisi saat itu, tak ingin terlalu jauh dari orang tua, terlalu sayang jauh dari temanmu, dan tak ingin jauh dari doi yang kamu suka.

Namun, semua orang terdekatmu tak ingin kamu menyia-nyiakan kesempatan itu hingga akhirnya kamu berangkat. Untungnya saat itu hanya 1 bulan saja di Jogja, sebelum kamu dikirim kembali ke kota tempatmu kuliah.

Sayangnya, pekerjaan itu hanya bertahan sekitar 8 bulan saja. Datangnya pandemi Covid-19, membuatmu kehilangan pekerjaan tersebut.

Mungkin memang itu jawaban dari setiap untaian doa mu, yang meminta untuk diberi pengganti yang lebih baik lagi. Hingga akhirnya selang sekitar 2 bulan kamu mendapat pekerjaan baru, yang masih di kota tempatmu mengenyam bangku kuliah.

Saat itu, bagimu tahun ini adalah masa yang berat, tapi kamu masih bisa bertahan dan melewatinya.

Baca Juga:  Untuk Temanku yang Gagal SBMPTN

Untuk aku yang menemukan tulisan ini di masa depan, tetaplah semangat. Untuk menggapai semua keinginan, pasti ada perjuangan dan proses berat yang harus dialami.

Ibumu juga pernah berkata ‘kerja memang berat, tapi kamu harus tetap berusaha jika ingin cita-citamu tercapai’. Pegang lah pesan yang disampaikan oleh ibumu.

Ah, selain kerja, kamu juga mendapatkan banyak teman baru. Saat di bangku kuliah, kamu mengikuti organisasi konservasi alam. Kamu mempunyai banyak teman baru disana.

Rasa kekeluargaan yang dihadirkan membuatmu menjadikan orang-orang tersebut sebagai keluarga keduamu. Sayangnya, karena sikapmu yang terlalu tertutup, kamu sulit mengenal mereka dari awal.

Kamu baru dekat dan sangat mengenal mereka di akhir bangku kuliah. Padahal, kamu sudah bergabung organisasi itu sejak memasuki perkuliahan semester 5.

Waktu yang lama untuk mengenal, namun hanya sebentar untuk meninggalkan kenangan manis bersama temanmu. Hal ini karena kamu yang sulit untuk membuka diri pada temanmu.

Kadang juga kamu merasakan penyesalan dan mempertanyakan ‘kenapa aku baru membuka diri, baru mengenal disaat mereka sudah mau kembali ke kota kelahirannya?’

Namun, itu semua sudah terjadi. Untukku di masa depan, jangan mengulangi hal itu. Bertemanlah dengan banyak orang, sedikit membuka diri, dan buatlah kenangan manis dengan temanmu.

Satu lagi yang terjadi di tahun ini. Di  kota tempatmu merantau, kamu menemukan sosok lelaki yang kamu suka. Namun, kamu takut mengungkapkannya karena tak ingin ada kecanggungan.

Kamu lebih memilih memendam rasa suka itu dan hanya menceritakan pada orang terdekatmu. Namun, keputusan itu membuatmu harus merelakan dia bersanding dengan wanita lain. 

Banyak cerita seru yang terjadi di masa ini dan saat yang lalu. Namun, di saat aku menulis pesan ini hanya beberapa kisah itu yang mampu kamu ceritakan.

Saat ini kamu juga sedang berusaha menggapai mimpimu, meraih cita-cita, dan berusaha untuk lebih baik dalam semua hal. Namun, semua proses yang terjadi kamu rasa sangat berat. Seringkali mengeluh, khawatir, dan banyak memikirkan masa depan. 

Bagaimana kabarmu saat ini di masa depan? Kuharap, di masa depan  sudah ada cita –citamu yang tercapai.

Kuharap kamu menjadi anak yang membanggakan orang tua, menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa, tidak sering mengeluh, dan kuharap kamu sudah bersanding dengan sosok lelaki idaman.

Apapun yang terjadi di masa depan, tetaplah berjuang, kamu pernah melewatinya di masa lalu.

Baca Juga:  Surat Untuk Sepuluh Purnama yang Telah Berlalu
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru