Surat untuk Kamu yang Mengenakan Jaket Almamater Biru Navy

Hai … Iya kamu, dengan jaket almamater biru navy. Bagaimana kabarmu saat ini? Baik bukan?


jaket-gantung

Ilustrasi jaket tergantung. (Foto: Getty Images lewat Canva)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Aku harap semoga keselamatan selalu tercurahkan di kehidupanmu. Sudah lama aku tak bersua denganmu. 

Bahkan bisa dibilang di tahun ini aku belum pernah menjumpaimu. Aku penasaran kenapa kamu dan aku tidak bisa bertemu. 

Padahal kediamanmu juga tak terlalu jauh denganku. Apakah ini dinamakan terhalang oleh jarak? Tentunya bukan?

Mungkin, kamu sibuk menata masa depan yang ingin kamu gapai. Jika iya, aku tidak akan menyalahkan siapapun di dunia ini. Tak pernah berjumpa, berarti takdir memang belum setuju dengan ini. 

Namun, apakah kamu tidak penasaran dengan kabarku? Kalau aku selalu penasaran. Lucunya, meskipun dunia ini sudah semakin modern, aku dan kamu tidak pernah memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut. 

Sebenarnya, apa yang membuat kamu dan aku tidak dipertemukan dalam kurun waktu akhir – akhir ini? Padahal banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Tak hanya itu saja, aku juga heran seperti apa rupamu. 

Terakhir kali aku melihat kamu menggunakan almamater biru navy ciri khas dari tempatmu menempuh pendidikan. 

Sedang apa kamu mengenakan pakaian itu? Apakah studimu sudah selesai atau belum? Aku penasaran hingga kepayang.

Teringat awal mula aku bertemu dengan kamu di masa lalu, dengan lucunya kamu mengayuh sepeda pancal seperti baru saja bisa menemuinya. 

Baca Juga: Surat untuk Sahabatku yang Damai dalam Keabadian

Karena tidak ingin kalah dengan teman – teman yang ada di sekitarmu mengayuh sepeda dengan begitu kencang hingga tak terkendali. 

Akhirnya, kamu berakhir di dalam selokan dengan tangisan yang begitu lantang. Tak seharusnya seorang yang tangguh melantangkan suaranya saat terjatuh. 

Tak sengaja aku lewat di depanmu dan menjadi penolongmu. Ya dari sinilah awal mulanya. Kamu menjadi teman baikku dalam senang maupun duka. 

Hubungan kebetulan ini juga tak berhenti sampai di sini saja. Tak disangka, saudara kandungku juga teman baik adikmu. 

Orang tuaku juga menjadi teman dekat dengan ayah dan ibumu. Apakah ini hanya sebuah kebetulan saja atau takdir yang baik? 

Setelah semua kejadian yang pernah terjadi, aku dan keluargamu menjadi semakin dekat hingga tak ada batasan. 

Bahkan di masa lalu kamu dan aku selalu menghabiskan waktu bersama. Hampir semua hal yang aku suka kamu juga menyukainya. 

Begitu juga dengan keluargaku, bisa dibilang juga memiliki hal yang sama untuk dikenang. Mulai dari keseharian, pendidikan, dan juga hiburan yang disukai. 

Baca Juga:  Tentang Bimbingan yang kau Berikan, ibunda Dosen Sayang

Tentunya kenangan masa kecil tidak bisa dilupakan begitu saja, termasuk waktu menghabiskan bersama keluarga menjadi hal yang sampai detik ini aku ingat selalu. 

Sekolah yang sama sampai tingkat menengah pertama, lingkungan yang sama, satu desa, satu kelurahan dan tentunya satu kecamatan adalah tempat yang paling kusukai. 

Tapi ingatkah kamu saat ini? Padahal aku dan kamu mempunyai mimpi yang sama, meskipun akhirnya sekarang seperti ini. 

Di masa yang masih senang seperti saat itu, kamu dan aku bahkan berbagi kebahagiaan bersama dengan merayakan hari besar umat kita bersama. 

Kedekatan ini semakin berlanjut karena latar belakang orang tuamu sama seperti orang tuaku. Sama – sama berasal dari daerah yang sama. 

Bahkan aku juga sering menghabiskan waktu bersama keluargamu meskipun tidak ada kamu, seperti halnya aku memiliki kawan baru. 

Aku sering sekali bertukar kabar dengan orang tuamu khususnya ibumu. Sangat seru berbincang dan berbagi rahasia. 

Namun, semuanya berubah setelah kamu mengenakan almamater berwarna navy. Kesenjangan ini semakin jelas ketika kamu memutuskan untuk mengikuti berbagai kegiatan di kampus. 

Kamu bahkan menjadi ketua bagi organisasi yang kamu masuki. Sungguh luar biasa bisa membagi waktu untuk belajar dan berorganisasi. 

Kamu patut dibanggakan, karena nilai akademis dan prestasi di luar itu juga sangat sukses. Aku heran, terkagum, dan juga bangga, teman masa kecil yang dulu menangis tersedu – sedu karena tidak becus mengayuh sepeda bisa meraih prestasi sebagus itu. 

Gara – gara itu pun orang tuaku selalu membandingkannya dengan apa yang berhasil kamu raih. Pasalnya, aku hanya seorang biasa yang datang ke kampus lalu pulang tidak lebih dari itu. 

Berbeda halnya dengan dirimu yang sudah sukses dalam akademis. Namun, keberuntungan yang kamu dapatkan ternyata tidak dapat bertahan lama dan hilang dalam sekejap. 

Aku kira kamu bisa mempertahankan, tapi, buktinya setelah mata kuliah semakin susah dan juga waktu yang berjalan semakin cepat membuat kamu terlena. 

Baca Juga: Surat Untuk Sahabat yang kini Menjadi Temanku

Semula kamu yang selalu dibanggakan, malah menjadi olok – olok sendiri oleh orang tuamu. 

Memang benar mempertahankan lebih susah daripada meraih, dan sekarang kamu masih berakhir mengenakan almamater berwarna biru navy. Padahal kamu yang dulu masuk ke tempat pendidikan itu, kamu dulu yang meraih prestasi. Tapi entah kenapa semuanya bisa berubah. 

Baca Juga:  Aku mengagumimu, juga Merindukanmu

Aku berharap keadaanmu semakin membaik dan tidak mengecewakan siapapun lagi. Semoga kamu cepat melepaskan almamater tersebut dan berjalan ke langkah yang lebih maju.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru