Penulis: Pak Pos

Surat Untuk Dia yang Melebur dalam Ingatan

Ingatanku telah samar mengenai kamu dan segala kenangan tentang kita.

the Monkey Times – “Kita?”

Kata yang terlalu picisan untuk kuucapkan saat ini, karena kisah kita hanya dua anak kecil yang saat ini telah saling melupakan.

Bagaimana cara kita berkenalan dan bersama pun sudah tidak ada di dalam ingatanku, karena dimakan usia tentunya.

Kali terakhir aku melihatmu sekitar 14 tahun lalu di bangku sekolah yang usang lengkap dengan seragam merah putih.

Kamu yang kutahu selalu penurut, kepada siapapun itu termasuk aku yang bukan siapa siapa. Aku yang selalu memarahimu dan kamu yang terus menerimanya dengan sabar serta tanpa bantahan.

Ah masa anak anak yang tak ingin kulupakan dan ingin kuulang, bila saja bisa. Kamu tiba tiba duduk disampingku dan menjadi deskmate buatku.

Laki laki bertubuh cukup berisi dengan kesabaran luar biasa dan senyum yang menenangkan.

Kala itu, aku ingat masih kelas dua di saat kamu menemaniku yang sering tidak memiliki teman saat di sekolah.

Akan terasa sangat tidak mungkin bila kukatakan aku adalah orang terbully semasa sekolah. Hari hari di sekolah terasa seperti neraka, tetapi karena kamu aku perlahan lahan mulai nyaman.

Hanya saat di kelas aku memiliki teman sebangku, di luar itu aku kembali sendirian dan harus bertahan dengan itu, itulah sebabnya aku menyukai kesendirian yang sunyi. 

Sunyi yang sesungguhnya bukanlah saat kita duduk di tempat yang sepi, tak ada orang. Justru saat berada di keramaian, tetapi mereka tak menganggap kita ada. Dan itulah kondisi yang selalu aku rasakan selama bersekolah di tempat itu.

Tempat menuntut ilmu yang justru tidak memberikan kenyamanan untuk setiap peserta didiknya, begitulah kurasa.

Aku tidak pernah nyaman berada di sekolah, tetapi aku berterima kasih untuk kamu yang bersedia duduk bersamaku. Kamu yang tak hanya pintar, tetapi juga sabar menghadapi aku yang cukup bodoh.

Yah bodoh di saat itu karena hati dan pikiranku tidak ikut sekolah. Bisa kau bayangkan menyimak pelajaran dengan pikiran yang kosong? Tentu saja tidak paham!

Ingin aku ucapkan kata terima kasih dan selamat tinggal dengan benar sebelum aku benar benar pindah. Akan tetapi, kesempatan itu tak pernah datang dan aku pun tak pernah lagi datang ke sekolah.

Di akhir akhir aku bersekolah di sana pun kita tak banyak berinteraksi, karena mungkin aku menemukan kesibukan baru yang membuatku lebih antusias.

Aku tak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini, kita tak pernah bertemu lagi setelah itu. Kusesali Indonesia yang saat itu masih dalam keterbelakangan teknologi, sehingga tak bisa menjaga komunikasi denganmu.

Ah apalah pikiran anak sekolah dasar yang ponsel pun tak kenal, sehingga tak pernah terlintas untuk meminta nomor teleponmu.

Kuyakin kamu sekarang akan tumbuh menjadi laki laki yang tampan dengan tubuh tinggi menjulang. Tak hanya tampan, kamu pun akan menjadi sosok yang supel dan memiliki teman di mana mana.

Kamu tipe orang yang sangat mudah membuat orang lain nyaman, begitu pula dengan perempuan sehingga tak menutup kemungkinan banyak yang jatuh hati padamu.

Kuharap kamu bukan laki laki yang gemar mematahkan hati wanita, sehingga kamu hanya akan tetap menjadi orang yang kukenal dulu.

Aku tak ingin kamu menjadi sosok yang berbeda, biarlah kamu tumbuh dalam anganku dalam versiku. Tak akan ada orang yang bisa mengubah hal itu, sehingga aku pun tak ingin mencari tahu tentangmu.

Mencari tahu tentangmu sempat kulakukan, tetapi tak satupun sosial mediamu yang kutemukan. Akan tetapi, aku pikir itu bagus bagiku karena tak ingin melihatmu dalam sosok yang berbeda.

Aku takut kamu berubah menjadi orang yang tak kukenal, meskipun aku tahu waktu dan keadaan dapat mengubah seseorang dalam waktu singkat.

Saat kutulis surat ini, mungkin kamu tak akan membacanya tapi aku harap perasaanku menjadi membaik. Aku ingin ucapan terima kasih itu keluar dari hati, mulut, dan pikiranku agar semuanya menjadi lega.

Tak hanya lega, agar perasaanku pun membaik dan mereda dari kondisi sebelumnya yang tak pernah tenang.

Aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang sebelumnya tak pernah kuungkapkan pada siapapun. Hingga belasan tahun berlalu, aku tetap berterima kasih padamu karena mu aku mampu melewati sederet kisah kelam yang tak bisa kuceritakan pada siapa siapa.

Kisah kelam yang membuatku jadi menyukai kesendirian dan kesunyian.

Tapi kau tahu, aku sudah berubah sekarang karena aku tak ingin hidup dalam bayang bayang. Berkatmu, aku memilih bangkit, memperbaiki keadaan, dan berdamai dengan diri sendiri.

Kamu yang sudah samar dalam ingatan, tak ada lagi gambaran wajahmu secara gamblang yang bisa kuingat. Akan tetapi, kupastikan kamu akan selalu ada dalam kenangan dan hatiku.

Artikel Terkait:

8 cara menjadi bahagia

Merasa Bersalah dan 8 Cara Menjadi Bahagia yang Sering kita Lupakan

surat-perpisahan

Satu Halaman Surat Perpisahan Untukmu

teman-abadi

Surat untuk Sahabatku yang Damai dalam Keabadian

ultah-untuk-ibu

Surat ini Adalah Kado Ulang Tahunmu, bu

teman-yang-aku-lihat

Surat untuk Teman Masa Kecilku yang hanya Terlihat Olehku

ilustrasi-keabadian

Surat untuk Perempuan yang telah Berpulang dalam Keabadian