Surat Istimewa ini Kupersembahkan untukmu, Ayah

Surat ini kutujukan untuk sosok istimewa. Ayah yang kuingat sebagai seorang sosok pekerja keras yang rela berkorban untuk keluarga.


ayahanda-tercinta

Ilustrasi kemesraan ayah dan anak. (Foto: the Monkey Times)

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

Ayah, aku tidak mengerti mengapa engkau bisa menjadi hakim terbaik yang kukenali. Aku pun tak tahu mengapa semua keputusanmu sangat tepat, adil, dan bijaksana.

Entah dimana perguruan tinggi yang kau masuki, sehingga kemampuanmu tentang pengetahuan keadilan melebihi hakim. Aku sangat kagum dengan semua keputusanmu dalam menangani masalah yang terjadi.

Sering kali, masalah tersebut juga timbul karena kenakalan dan keegoisanku.

Terkadang, masalah dan rintangan selalu ada di depan mata. Namun, hanya engkau yang menjadi tameng di garda terdepan. Fungsinya adalah untuk melindungi keselamatan dan kesejahteraan semua anggota keluargamu.

Bahkan, tak jarang engkau menanyai anak gadismu tentang bagaimana ia menjalani harinya. Saat pertanyaan itu dilontarkan, aku pun semakin teringat masa kecilku dimana hanya ada aku dan engkau di keluarga kecil ini.

Saat itu, ibu sedang sibuk sibuknya bekerja. Bahkan sempat terlintas di pikiranku mengapa harus ibu yang membanting tulang dan bukannya ayah? Namun, semua itu salah kaprah. Justru, ayahlah yang ikut turun tangan menjamin kebahagiaanku.

Memang benar jika aku memiliki sikap manja dan sering membuat ayah jengkel. Maafkan aku. Ku akui semua memang kesalahanku. Tapi tahukah engkau bahwa aku teramat sangat ingin selalu dilindungi olehmu?

Kurasa, tak ada satupun laki laki yang nantinya akan menjamin kebahagiaanku dengan cara yang seperti kau lakukan. Bahkan ayah, anakmu yang sudah gadis ini sudah beberapa kali gagal menghadapi pria yang “katanya” mencintai diriku segenap hatinya.

Dari sanalah bisa disimpulkan bahwa, tak akan ada kasih sayang seorang lelaki yang melebihi kasih sayang seorang ayah. Jadi, maafkan aku bila masih belum bisa menemui penggantimu.

Jika boleh jujur, akulah orang yang akan maju paling depan dengan mengatakan bahwa tak seorang pun pantas menjadi pengganti dirimu. Kasih sayangmu, perhatianmu, cara bicaramu tak bisa aku temukan di sifat orang lain.

Maka dari itu ayah, izinkan aku untuk bisa merasakan kasih sayangmu sekali ini saja. Engkau juga sudah berjanji, bahwa selama ayah hidup tidak akan ada seorang pun yang berani menyakiti diriku. Tapi mana janji itu ayah?

Di saat aku menangis, kaulah yang menjadi penghiburku. Mengelus rambutku, sembari berkata “Menangislah, jika sudah tenang ceritakan padaku”. Setiap kata itu terucap aku hanya bisa memendam pertanyaan di lubuk hatiku yang paling dalam.

Baca Juga:  Surat ini Adalah Kado Ulang Tahunmu, bu

Tidakkah kau lelah setelah bekerja ayah? Mengapa masih bisa menghiburku? Namun karena ketidakmampuanku, aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut padamu, ayah.

Meski di saat kau lelah dan tertekan, kau masih bisa melukis senyum indah di wajahmu. Ayah juga selalu berusaha untuk tidak membagikan keluh kesahnya pada siapa pun. Kau tahu ayah, aku sangat membenci hal tersebut.

Semua perasaan keluh kesahmu bisa kau bagi denganku ayah. Mengapa kau menyimpannya sendirian? Tidakkah semua ini terasa tidak adil ayah? Saat aku sedih kau selalu mendengar ceritaku. Namun aku tak pernah sekalipun mendengar ceritamu.

Aku tahu, hal tersebut kamu lakukan agar tidak membuat anggota keluarga ikut sedih dan khawatir bukan? Tapi ayah, menceritakan keluh kesah kepada orang lain bisa membuatmu lebih tenang.

Mana tahu orang tersebut dapat memberikan solusi terhadap masalah yang kau rasakan. Bahkan aku anak gadismu akan selalu berusaha untuk mendengarkan seluruh keluh kesahmu ayah. Tapi sayangnya, engkau memilih untuk memendamnya sendirian.

Ayah, ada satu hal yang selalu ingin kutanyakan padamu jika kita diberi kesempatan saat bertemu nanti. Ayah, maukah kau menjadi ayahku lagi di kehidupan selanjutnya? Aku benar benar tak bisa menjalani hari hariku tanpa adanya dirimu.

Bahkan separuh diriku ikut hilang dengan ketiadaanmu. Kuharap engkau selalu bahagia di sana ya ayah. Semua pengorbananmu untuk keluarga tidak akan sia sia. Semua akan terbayarkan.

Aku rindu sekali padamu ayah. Aku masih ingin diantar ke sekolah meskipun aku sudah beranjak dewasa. Aku juga tidak akan memarahimu jika kau terlalu banyak minum kopi di malam hari ayah.

Aku juga tak akan memarahimu jika kau terlalu banyak makan nasi putih karena kandungan gula yang tinggi. Semua itu kulakukan demi menjaga kesehatanmu saja ayah. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, Tuhan lebih menyayangimu daripada aku ayah.

Hari hari yang kulalui selalu diiringi dengan tangisan. Ayah juga sempat mengatakan bahwa aku anak yang cengeng. Namun aku selalu berkata, menangis memang tak bisa memecahkan masalah.

Tapi dengan menangis, perasaan akan menjadi lebih tenang. Tapi, aku tak pernah sekalipun menjumpai tangisan di matamu ayah. Kurasa kaulah manusia yang paling tegar. 

Tulisanku ini akan menjadi surat istimewa yang pernah ada. Pasalnya, surat ini merupakan tulisan tanganku yang pertama kuberikan padamu. Aku tahu engkau tidak bisa membacanya.

Baca Juga:  Empat tahun Berlalu tanpa tahu Kabarmu, Sobat

Karena itulah aku selalu mengadu cerita padamu di setiap sepertiga malamku. Di waktu itulah aku yakin, tuhan akan selalu mendengar semua ceritaku dan menyampaikannya padamu. Di samping itu, aku juga selalu mendoakanmu wahai ayah terhebatku.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru