Surat ini Adalah Kado Ulang Tahunmu, bu

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.


ultah-untuk-ibu

Ilustrasi ibu dan anak-anaknya. (Foto: Getty Images lewat Canva Pro)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Aku tahu ibuk punya hobi memasak sejak remaja, beragam kue biasa ibuk buat untuk dijajakan dan pengisi waktu luang. Makannya, ibuk gak pernah absen memasakkan kami aneka kue lezat yang biasa kita nikmati di sore hari.

Aku masih benar ingat kue bolu pisang yang sering ibuk masak sore hari waktu aku lagi asyik main petak umpet sama temen-temen. Ibuk panggil sebelum maghrib, nyuruh mandi dan makan kue bolu hangat-hangat ditemani segelas teh manis. 

Semakin kesini, ibuk sudah jarang menyediakan kue di meja makan setiap sore, bahkan gorengan pisang pun tidak ada.

Kata ibuk, ibuk mulai lelah memasak karena tidak pernah habis lagi. Kedelapan anaknya sudah sibuk pergi keluar sejak pagi, dan pulang menjelang petang.

Setelah itu, beringsut masuk ke kamar masing-masing tanpa melihat makanan yang tersaji di meja makan. 

Padahal, dulu kita tidak pernah absen menghabiskan sore tanpa berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi. Acara program pencarian bakat menyanyi, yang kita sukai bersama-sama meski berbeda pendapat tentang idola yang kita sukai.

Tapi, tetap saja tertawa sampai acara selesai. Ibuk akan sibuk dengan berbagai pekerjaan seperti menjahit sarung bantal atau taplak meja.   

Lain hari Sabtu, lain pula hari Minggu karena tak kalah menyenangkan. Biasanya, di hari Minggu ibu akan bergantian mengajak satu per satu anaknya berjalan-jalan meski hanya sebentar.

Aku selalu nunggu hari Minggu, biar diajak jalan-jalan ke pasar besar, meski pulang-pulang Cuma bawa serabi kuah. Kadang, juga membelikan es degan atau bakso tapi hanya diam-diam agar yang lain tidak tahu.

Selamat ulang tahun, ibuk.

Wanita perkasa yang tidak pernah lelah bangun bahkan sebelum subuh. Menunggu adzan subuh berkumandang, sambil menyetrika baju seragam anak-anak untuk bersekolah jam 7 pagi.

Tidak lama, ibuk akan mengambil anting untuk belanja bahan sarapan di ujung gang. Lalu kembali sebelum pukul 6 untuk memasak sarapan dan bekal bagi kami yang mulai meraung kelaparan.

Ibu, wanita perkasa berusia 65 tahun selalu bilang, umur hanyalah sebuah angka. Namun, semangat tetap harus membara. Makanya, ibuk seringkali cosplay jadi bermacam-macam orang.

Sesekali jadi tukang ledeng, yang membenarkan keran air di kamar mandi yang mendadak bocor. Atau cosplay menjadi tukang genteng, yang  juga bisa memperbaiki atap bocor di kala hujan.

Baca Juga:  Bagai Pelita yang tak Pernah Padam hingga Akhir Nanti

Ibuk menua, tapi anehnya selalu menjadi wanita ajaib yang tidak pernah berubah. Hangat tubuhnya masih sama, meskipun sering beraroma bawang putih karena belum sempat mandi sampai jam 10 pagi.

Ya, gimana mau mandi dari pagi. Wong ibuk sibuk di dapur menyiapkan segala kebutuhan kami di dapur. Padahal, tak jarang kami beranjak pergi begitu saja tanpa pamit.

Bukannya marah, ibuk malah masih sempat mengirim pesan pendek “Jangan lupa sarapan”. Ibuku sabar banget!

Padahal sudah banyak memasak sarapan, tapi anak-anaknya lebih memilih untuk membeli nasi uduk pinggir jalan yang rasanya tidak begitu enak tapi tetap saja dibeli. Herannya lagi, keesokan harinya ibuk masih saja terus memasak sarapan untuk kami.

Selamat Ulang Tahun, Ibuk.  

Aku Bahagia melihat umurmu semakin bertambah, tapi benci ibuk jadi tua. Karena bukan Cuma ibuk yg menua, aku juga jadi tua dan jadi menyebalkan. Sok dewasa dan punya waktu sendiri.

Dan lupa ritual-ritual kecil yang biasa kita lakukan untuk melepas penat. Kita hanya bertemu di pagi hari, tanpa sempat ngobrol. Lalu, ketika aku pulang ibuk sudah terlelap dibalik selimut karena kelelahan. 

Kita menjadi dua pribadi yang jauh, dan makin lama semakin sering beradu argument. Setiap hari hanya bertemu-diam-bertemu-diam tanpa ada lagi bolu pisang dan serabi kuah dari pasar.

Atau cerita-cerita kecil tentang hari ini atau kemarin. Kadang menghabiskan hari-hari dengan saling tidak sapa, karena saling bertukar ego masing-masing hanya karena tidak ingin mengalah satu sama lain.

Kadang aku terlalu menyebalkan, ya? Aku pikir ibuk juga begitu. Kadang sangat menyebalkan dengan pemikiran yang sangat kuno. Kadang sangat menyebalkan karena tidak mengerti duniaku yang sudah dewasa.

Tapi tetap saja, pelukanmu menjadi obat ketika aku butuh sandaran untuk menangis, tanpa malu. Marahmu tetap selalu kurindukan ketika aku kehilangan arah dan tujuan. 

Selamat ulang tahun ibu.

Aku 21 tahun sekarang. Masih mencintaimu. Masih ingat hangat kue dan redaman amarahmu kalau aku sudah keterlaluan. Aku gak minta apa-apa, Cuma minta jangan hilangkan namaku dalam setiap doamu.

Biar Tuhan kita ga ngira aku anak durhaka karena sudah ga terucap dalam sujudmu. Selamat ulang tahun ibuk, wanita perkasa yang kini berusia lebih dari setengah abad. 

Aku masih mencintaimu dan akan tetap gitu.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: curahan hati, kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru