Karena Surat Cinta Untuk Pacar, Kita Pernah Dekat

Menulis surat cinta tentu menyenangkan. Tapi emangnya masih jaman ya surat-suratan?


ilustrasi surat cinta untuk pacar

Oleh: Mas Hadid

Diterbitkan:

the Monkey Times – Menulis surat bagi sebagian orang masih terasa menyenangkan. Bagi anak generasi milenial awal – maksud saya yang lahir tahun 1980-an awal, mengirim surat cinta untuk pacar jadi kegiatan masa puber yang menyenangkan.

Yah, paling nggak sekali seumur hidup mereka pernah melakukannya. Ini asumsi saya. Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah pengajian rutin. Pengajiannya kecil. Paling yang rutin mengikuti cuma 5-10 orang. Namun terasa khusyu‘.

Yang terasa menyenangkan adalah kumpul-kumpul setelah pengajian selesai. Biasanya di sesi itu banyak kisah muncul dari obrolan antar 3-5 orang.

Kebetulan yang paling saya ingat dari sesi ngaji minggu itu adalah cerita seorang gus yang berziarah ke makam kiai.

Tidak seperti lazimnya orang berziarah – yang biasanya melakukan ritual tahlil dan tawasul, gus satu itu menulis surat dalam Bahasa Arab yang dia letakkan di atas pusara ahli kubur.

Apa yang dilakukan si gus bukan untuk kita tiru. Sebab dia punya cara ziarah tersendiri yang sepenuhnya tidak bisa kita pahami dan lakoni.

Tapi dari secarik surat kita bisa bicara banyak hal. Masalahnya seberapa banyak dari kita yang masih menulis surat?

Dulu paling aku menulis surat cinta untuk pacar

“Aku masih kok,” kata salah satu teman saya pagi ini. “Tapi itu tiga tahun lalu, waktu aku masih LDR gitu,” dia melanjutkan.

Otak saya yang setengahnya sering nggak terpakai ini berpikir keras. Bagaimana bisa di era big data dan serba medsos seperti sekarang, seseorang masih berpikir menulis surat untuk kekasihnya?

Sebelum saya menimpali, teman saya satu lagi keburu nyaut.

“Kamu sejenis perempuan romantis ala-ala 1990-an gitu ya? Tapi kan udah ada video call sekarang. Ngapain susah-susah sih.”

Tia, si perempuan yang dicecar sinisme oleh Totok pagi itu, bercerita tentang keyakinannya waktu itu: romantisme bisa dibangunkan lewat secarik surat.

Sementara Totok sebaliknya. Dia laki-laki yang sepenuhnya nggak pernah menulis surat. Alasannya masuk akal, dia hidup di zaman ketika komunikasi sudah jauh lebih praktis.

Tapi bagi Tia menulis surat jadi semacam metode untuk mengungkap apa yang susah dikatakan lewat Wa, Line, dan segala macam aplikasi komunikasi lainnya.

Tia sejenis orang yang mau merepotkan diri menulis surat. Baginya surat jadi medium yang membuat dia dan pacarnya jadi lebih dekat.

Baca Juga:  Gus Gayeng bersama Santrinya di Youtube

Rasa deg-degan tanpa tahu suratnya sampai atau nggak jadi sebuah emosi normal bagi Tia. Seminggu; dua minggu; tiga hari. Dia tak tahu kapan suratnya sampai ke kekasihnya.

“Mungkin waktu itu kalau nggak nulis surat, hubungan kami nggak bakal sedekat Maghrib dan Isya,” kata Tia sambil tertawa. Mungkin dia sedang berusaha meyakinkan saya untuk menulis surat juga.

Tapi surat memang nyaris mati sebagai medium. PT Pos Indonesia sudah jarang mengirim surat. Bisnis pengiriman mereka turun drastis sampai 50% sejak 2015.

Toh kalau masih ada surat yang dikirim pak pos, paling-paling cuma surat tagihan kredit atau peringatan dari kantor pajak daerah untuk para penunggak pajak supaya segera lapor pendapatannya.

Malam ini saya pulang ke rumah. Di kamar pikiran saya menerawang sembari mengecek pesan-pesan yang masuk ke gawai saya.

Sebelum akhirnya saya sadar belum mengirim surat untuk Kepala Dukuh di sebuah desa tempat saya dan teman-teman akan menyelenggarakan acara kesenian.

Gimana dengan kalian; apakah kalian sedang menulis surat cinta untuk pacar sekarang?

Temukan artikel menarik lainnya di topik: opini

Atau baca artikel lain yang ditulis: Mas Hadid

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru