Sudah lama kita Tidak Saling Bercakap, Kawan

Lama sekali kita tidak berjumpa ya, kawan-kawan. Karena itu aku menulis surat ini, untuk menuntaskan rinduku pada kalian.


kawan-kawan
Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

Halo teman-teman, apa kabar? Rasanya, sudah lama sekali tidak bertemu. Apa kalian masih sering makan bakso sayur di tempat langganan kita? Ah, aku merindukan semangkok bakso penuh dengan sayuran yang biasa kita nikmati di kantin sekolah.

Tidak lupa, segelas es jeruk porsi jumbo yang rasanya suka kemanisan, kadang-kadang terlalu tawar dan juga terlalu asam. Atau menikmati sebungkus roti sisir dan air mineral saja ketika tidak punya uang.

Rasanya, waktu cepat sekali berlalu, baru saja kita bertemu pada saat orientasi sekolah lalu. Aku ingat kita berada di kelompok yang sama, dan menjadi murid yang dihukum saat upacara karena lupa mengikat rambut dengan pita warna  biru sebanyak 4 ikatan.

Tidak hanya itu, kita juga dihukum karena lupa membawa beberapa amplop yang seharusnya diisi dengan surat untuk kakak panitia. Sampai-sampai kita dijuluki “double trouble” karena sering melakukan kesalahan.

Sejak itu, kita memutuskan berteman. Aku masih ingat saat pertama kali kamu menangis karena tidak berada di kelas yang sama denganku. Kamu bilang teman-teman kelasmu tidak asyik diajak berteman, aku hanya tertawa saja.

Lama-lama kamu juga mendapatkan banyak teman dari kelasmu dan akhirnya kita memiliki lebih banyak teman. Hari-hari di sekolah menjadi semakin berwarna, karena adanya kalian. Ya, meskipun terkadang kalian juga menyebalkan.

Kehidupan di masa SMA memang luar biasa. Aku masih ingat ketika pertama kali kita mulai melakukan kebohongan kecil dengan mengatakan pergi ke pesta ulang tahun teman, nyatanya pergi bersama-sama untuk menonton konser artis ibu kota.

Atau saat meminta uang lebih dengan alasan membeli buku LKS, padahal membeli aneka warna cat rambut. Oh ya, dan juga ambisi dan mimpi-mimpi kita yang terdengar tidak pernah realistis, namun tetap saling dukung.

Masa kelulusan menjadi masa yang juga menggembirakan. Menjadi mahasiswa adalah impian yang kita idam-idamkan. Meskipun, akhirnya kita harus terpisah oleh jarak karena kampus yang terletak di kota berbeda.

Malam sebelum keberangkatanmu ke kota baru untuk kuliah, kita mengadakan pesta kecil-kecilan. Mengundang beberapa teman lainnya untuk pergi karaoke, lalu menginap di rumah salah satu dari kita dan ngobrol panjang lebar hingga saling menangis.

Di awal perkuliahan, kamu selalu menelpon pada jam-jam krusial untuk overthinking. Kita sama-sama terbiasa untuk terjaga hingga subuh.

Baca Juga:  Aku Menulis untuk diriku di Masa Kecil

Saling menceritakan kehidupan kampus masing-masing, teman-teman yang sangat individual, kakak tingkat yang mulai modus untuk mendekati, hingga dosen-dosen menyebalkan.

Tidak lupa, ceritamu dengan rasa kangen rumah ketika merantau di kota orang dan juga culture shock yang kamu rasakan.

Memasuki pertengahan semester, kita sudah disibukkan oleh kegiatan perkuliahan masing-masing. Intensitas saling bertukar kabar kita juga sangat jarang. Jadwal perkuliahan yang semakin padat membuat kita jarang melakukan telepon tengah malam.

Terkadang ketika aku memiliki waktu luang, kamu sedang sibuk mengerjakan laporan itu, ketika kamu ingin meneleponku aku masih sibuk dengan segala macam kepanitiaan dan acara kampus yang kuikuti.

Semakin lama, kita semakin tidak saling berbagi kabar. Kita hanya sesekali saling bertukar komentar pada status yang kita buat. Ya, hanya sebatas itu.

Tidak ada lagi saling cerita mengenai kehidupan kampus, tidak ada lagi saling cerita ketika saling didekati dengan cowok manis di kampus, tidak ada lagi cerita-cerita konyol lainnya.

Kita memiliki dunia yang berbeda sekarang, dengan manusia dan seisinya yang juga menjadi ikut berbeda.

Teruntuk teman lamaku yang sudah lama tidak saling bercakap, semakin lama kita semakin jauh. Bahkan tidak lagi saling bertukar komentar. Ah, kita memang menjadi sama-sama sibuk saat ini.

Kamu dengan kehidupan barumu yang menyenangkan, aku dengan dunia baruku yang mengesankan. Dan kita belum memiliki kesempatan bertemu untuk kembali bersua, makannya kita hanya saling diam saja.

Namun tetap saling menjaga ikatan dan saling mendoakan.

Oh ya, kemarin aku berpikir: “untung masih ada media sosial,” gumamku ketika melihat status instagram mu dengan pacar baru yang tidak pernah kamu ceritakan.

Terimakasih, sudah terus mengunggah aktivitasmu di sosial media, sehingga kita masih bisa bersilaturahmi meski sama-sama dalam diam. Sehingga aku tetap tau apa yang kamu rasakan, meski hanya melalui video dengan durasi kurang dari satu menit.

Sehingga aku masih tau, setidaknya kamu masih hidup. 

Teruntuk teman lamaku yang sudah lama tidak saling bertemu. Aku percaya, kita hanya tidak saling bertemu saat ini tapi kita masih saling menjaga ikatan meski tanpa banyak kata yang terucap, meski tanpa banyak mendengar semua keluh kesah, meski tanpa banyak bertemu dan saling bercanda.

Ya, jarak yang memisahkan ini memang nyata adanya, begitupun dengan doa kita. Maka mari tetap saling berteman dan mendoakan, sampai ada waktu untuk bertemu lagi.

Baca Juga:  Surat untuk Kita, Belasan Tahun Kemudian
Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru