Penulis: Dina Meidiana

Strategi Dakwah Walisongo Dalam Penyebaran Islam Nusantara

Metode yang digunakan sangat halus tanpa memaksa siapapun untuk memeluk agama Islam

the Monkey Times – Penyebaran Agama Islam di Nusantara tidak bisa lepas dari peran Walisongo. Keberhasilan membawa Islam ke dalam masyarakat adalah bukti bahwa strategi dakwah Walisongo sangat ampuh. Metode yang digunakan sangat halus tanpa memaksa siapapun untuk memeluk agama Islam. 

Mengingat bahwa sebagian besar rakyat kala itu masih memeluk Hindu dan Budha, dengan strategi dakwah yang dijalankan Walisongo bisa disimpulkan sangatlah hebat. Perubahan yang memakan waktu singkat hanya sekitar 50 tahun semenjak misi berjalan menjadi bukti bagaimana dakwah Walisongo sangat sukses. 

Strategi Dakwah Walisongo 

Sebelum membahas lebih jauh, mari simak terlebih dahulu siapa saja Walisongo. Wali mempunyai arti wakil, songo adalah sembilan dalam Bahasa Jawa, sehingga bisa ditarik kesimpulan jika Walisongo adalah sembilan wakil atau 9 utusan dari Allah SWT. 

Sembilan wali ini adalah Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Di antara Walisongo pun ada yang mempunyai hubungan darah secara langsung. 

Dalam artikel Nu Online dengan judul Lima Pendekatan Dakwah Wali Songo, ada 5 metode yang dijalankan, yaitu: 

  • Metode pendekatan teologis 
  • Metode pendekatan ilmiah 
  • Metode pendekatan kelembagaan 
  • Metode pendekatan sosial 
  • Metode pendekatan kultural

Mari kita simak siapa yang menjalankan metode-metode tersebut dan sedikit kisah dari para Sunan ini. 

Sunan Gresik 

Walisongo pertama yang dikenal adalah Sunan Gresik yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim. Meski dalam akademis nama Sunan Gresik tidak masuk dalam Walisongo, seperti yang dikutip dari situs Nu Online, tapi Beliau dipercaya oleh masyarakat sebagai bagian dari Walisongo. 

Sunan Gresik diperkirakan lahir di Asia Tengah, yaitu di Samarkand sekitar abad ke-14. Sunan Gresik pertama kali datang di Desa Sembalo–sekarang adalah Leran, Kecamatan Manyar yang berada di sekitar 9 kilometer dari Kota Gresik. Dalam berdakwah, Sunan Gresik tidak hanya mengenalkan tentang agama Islam saja pada masyarakat sekitar. 

Sunan Gresik menggunakan teologis, yaitu dengan mendekati rakyat kalangan bawah, waisya dan sudra. Beliau mengenalkan nilai-nilai dalam Agama Islam, perbedaan pandangan Islam dalam hidup dengan lainnya serta menanamkan dasar-dasar Agama Islam. 

Dalam prakteknya dakwahnya, Sunan gresik juga mengajarkan bercocok tanam. Pada masa itu, kaum waisya dan sudra yang tersisihkan dari Kerajaan Majapahit. Terlebih kala itu banyak perang saudara yang terjadi serta ekonomi yang kian memburuk. Sunan Gresik bahkan membangun pondokan tempat belajar Agama Islam di Leran. Beliau juga membangun satu masjid yang menjadi tempat beribadah umat muslim pertama di Tanah Jawa, yaitu Masjid Jami’ Gresik. 

Sunan Ampel

Setelah Sunan Gresik, penyebaran Islam dilanjutkan oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang merupakan anak dari Ibrahim Zainudin Al-Akbar. Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 dan sangat dekat dengan Arya Damar yang dikenal sebagai ayah angkat dari Raden Patah, Raja Demak Pertama. 

Sunan Ampel pernah berkunjung dan menjadi tamu di kerajaan Arya Damar dan mengenalkan Islam kepadanya. Arya Damar pun tertarik akan nilai-nilai Islam yang disampaikan Sunan Ampel. Ia bahkan sudah sempat diumumkan masuk agama Islam, tapi karena saat itu kepercayaan dari rakyatnya masih mengikuti leluhur, Arya Damar memutuskan untuk tidak mengungkapkannya. 

Raden Rahmat menggunakan metode yang sama dengan Sunan Gresik, yaitu pendekatan secara teologis. Beliau mengajarkan para juru dakwah dan menikahkan mereka dengan beberapa putra serta putri yang berasal dari bawahan Kerajaan Majapahit. Pendekatan ini pun berhasil dengan membawa keturunan dan rakyat Majapahit masuk ke dalam Islam. 

Sunan Bonang 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa Walisongo mempunyai hubungan darah, dimana Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel. Nama asli dari Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim. Gelar Sunan Bonang diambil dari desa Bonang yang ada di Rembang. 

Strategi dakwah Walisongo yang satu ini sangat unik, yaitu dengan menggunakan pendekatan kultural. Sunan Bonang sangat sadar bahwa kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan dari masyarakat. Apabila langsung dihilangkan sudah pasti masyarakat tidak akan mau untuk belajar agama Islam. 

Sunan Bonang lebih banyak memberikan dakwah di kota Kediri, dimana caranya adalah dengan menggunakan wayang, tembang serta sastra sufistik. Karya paling terkenal dari beliau adalah tembang Tombo Ati dan Suluk Wijil. 

Sunan Drajat 

Sunan Drajat adalah saudara kandung dari Sunan Bonang yang artinya adalah beliau anak dari Sunan Ampel. Sunan Drajat lebih cenderung menggunakan metode pendekatan sosial. Beliau tidak begitu suka dengan keramaian, sehingga lebih memilih blusukan ke desa atau kampung-kampung. 

Dalam dakwahnya beliau lebih menekankan dalam hal kedermawanan, selalu bekerja keras dan meningkatkan kemakmuran dalam masyarakat. Beliau juga menyatukan anak-anak yatim serta orang sakit untuk bisa mendapatkan hak yang sama. Meski menggunakan metode yang berbeda dengan Sunan Bonang, tapi ada satu karya yang dipercaya diciptakan oleh Sunan Drajat yaitu macapat Pangkur. Bahkan beliau juga meninggalkan Gamelan Singomengkok. 

Sunan Kudus 

Memiliki nama asli Ja’far Shidiq, Sunan Kudus merupakan anak dari Sunan Ngudung (cucu dari Sunan Gresik). Sunan Kudus sangat lekat sekali dalam sejarah Kerajaan Demak sehingga strategi dakwah yang digunakan adalah pendekatan kelembagaan. Peran Sunan Kudus yang besar dalam pemerintahan Kerajaan Demak. 

Tidak hanya sebagai panglima perang, Sunan Kudus juga menjadi penasihat dari Sultan Demak hingga menjadi seorang hakim peradilan. Sifatnya sangatlah tegas dan kukuh akan kebenaran. Sultan Kudus sendiri adalah guru dari Arya Penangsang. Karena terjun langsung di Kesultanan Demak, Sunan Kudus sangat dikenal dekat dengan bangsawan, birokrat dan pedagang. 

Sunan Giri 

Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel yang juga berarti saudara satu perguruan dengan Sunan Bonang. Sunan Giri juga dikenal dengan nama-nama panggilan lain, Raden Paku dan Joko Samudro. 

Strategi dakwah yang digunakan oleh Sunan Giri adalah pendekatan ilmiah, dimana langkah yang diambil adalah dengan membangun pesantren, mendirikan pendidikan kependekaran serta memberikan tugas kepada para muridnya untuk berdakwah.

Sunan Giri juga dikenal sebagai sosok yang sangat kreatif, beliau juga menyampaikan dakwah dengan menciptakan berbagai jenis permainan anak jemblongan serta tembang syair seperti lir-ilir, padang bulan dan lain sebagainya. 

Sunan Kalijaga 

Memiliki nama asli Raden Mas Said, Sunan Kalijaga sangatlah tersohor akan cara dakwahnya yang menggunakan metode kultural. Beliau sangat pandai sekali menjadi seorang dalang dan juga tembang suluk. Bahkan lagu Gundul Gundul Pacul dipercaya hasil karya dari Sunan Kalijaga. 

Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Saroh yang merupakan saudara beda ibu dari Sunan Giri. Sehingga Sunan Kalijaga menjadi kerabat dari Sunan Giri dari perkawinan tersebut. Sunan Kalijaga dipercaya memiliki umur yang sangat panjang, yaitu mencapai 100 tahun. 

Sunan Muria 

Beliau adalah anak dari Sunan Kalijaga dengan nama asli Raden Umar Said. Sunan Muria seperti sang ayah dan mempunyai darah seni yang sangat kuat. Dalam menyebarkan Agama Islam, beliau tidak hanya menggunakan metode pendekatan kultural tapi juga sosial. 

Sunan Muria dikenal telah menciptakan beberapa tembang dan melestarikan seni budaya gamelan serta berdakwah dengan menggunakan boneka. Raden Umar Said dipercaya sunan termuda dibandingkan dengan Walisongo lainnya. 

Sunan Gunung Jati 

Sunan Gunung Jati adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam kerajaan-kerajaan Islam di Tanah Jawa. Masih memiliki hubungan erat dengan Prabu Siliwangi, yaitu cucu dari Raja Pajajaran tersebut. Metode yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Agama Islam adalah dengan pendekatan kelembagaan. Beliau sangat dekat sekali dengan Kesultanan Demak, Banten dan Cirebon. 

Dari seluruh penjelasan singkat di atas, sudah dapat dilihat bahwa strategi dakwah Walisongo berbeda, namun jelas membuahkan hasil. Agama Islam pun berkembang dengan sangat pesat dan sekarang terbukti bahwa Nusantara sebagai negara dengan Umat Muslim terbesar di dunia.