Siapa Manusia Es Itu?

the Monkey Times – Hari itu kampus mengadakan sebuah acara perlombaan olahraga dan semua jurusan harus menghadirinya karena acara tersebut …


pria-es

Ilustrasi seorang manusia di atas lapisan es. (Foto: Getty Images lewat Canva)

Oleh: Pak Pos
Diterbitkan:

the Monkey Times – Hari itu kampus mengadakan sebuah acara perlombaan olahraga dan semua jurusan harus menghadirinya karena acara tersebut merupakan acara wajib untuk semua mahasiswa baru. 

Sesampainya di lapangan kita diminta untuk berbaris sesuai dengan jurusan masing-masing untuk mendukung perwakilan pemain dari kelasku. Saat itulah aku melihat seorang laki-laki yang melihat kearahku. 

Ketika aku melihat lelaki itu aku merasa ada sesuatu yang berbeda, rasanya aku seperti sudah lama mengenalnya padahal aku bertemu dia hari itu untuk yang pertama kalinya. 

Aku bingung dengan perasaanku hari itu, apa aku suka sama orang itu? Apa ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Entahlah, perasaanku kacau sekali tidak karuan.

Sepulang dari acara itu, sempat terlintas dibenakku untuk mencari tahu tentang orang itu. Tapi setelah aku pikir lagi, bagaimana caranya aku mencari tahu sedangkan aku saja tidak tau namanya siapa? dia kelas apa? dan dia jurusan apa? 

Akhirnya aku biarkan saja rasa penasaran ini berlalu begitu saja. Kalau memang ditakdirkan bertemu maka Allah akan mempertemukan kita kembali lewat cara lain.

Waktu terus berlalu, tak terasa aku sudah memasuki semester 4 dan rasanya waktu berjalan begitu cepat padahal baru kemarin saja aku menjadi mahasiswa baru. 

Sampai hari ini aku masih belum tau siapa lelaki itu. Seiring berjalannya waktu ternyata tuhan memiliki rencana lain. Lewat acara debat calon ketua himpunan jurusan mesin, disitu tuhan memberiku jawaban atas pertanyaanku selama ini.

Iya, lelaki itu ternyata mencalonkan sebagai ketua himpunan di jurusannya yaitu jurusan teknik mesin dan disitulah aku tau siapa namanya. 

Pantas saja saat pertama melihat dia berbicara di atas podium rasanya sudah tidak asing lagi dengan paras dan wajahnya. Namanya Ahmad Wahib(*), mahasiswa jurusan Teknik Mesin 2016 asal kota Medan.

Saat itu langsung mencari tahu tentang dia di sosial media, dan setelah ku cari tahu ternyata dia adalah teman dekat dari salah satu sahabatku

Ya tuhan, dunia ini sempit sekali. Selepas aku mencari tahu tentang dia di sosial media, tak banyak informasi yang aku dapatkan ya hanya seputar foto-foto yang dia posting di Instagram. Aku mengikuti semua akun sosial medianya mulai dari Instagram, Twitter hingga Facebooknya pun aku ikuti.

Baca Juga:  Surat untuk Kita, Belasan Tahun Kemudian

Aku masih bingung juga dengan perasaanku, terlintas pertanyaan dalam benakku. “Sebenarnya aku fansnya apa aku orang yang mencintainya?” 

Begitu antusiasnya aku. Ya Sudahlah jalani saja semua dulu, karena kita tidak pernah tau skenario apa yang sudah tuhan rencanakan untuk kehidupan kita kedepannya. Jadi jangan intinya jangan terlalu menaruh ekspektasi tinggi pada sesama manusia.

Hingga pada suatu hari tuhan mempertemukan lagi aku dengan orang itu. Saat itu aku bersama dengan temanku mendatangi salah satu kompetisi olahraga yang diadakan oleh kampus. 

Rasanya sudah menjadi budaya jika salah satu tim kalah maka pasti akan terjadi keributan. Iya benar sekali, saat itu memang kondisi lapangan menjadi kacau karena terjadi keributan di arena pertandingan.

Tak sedikit anak yang menyorot kejadian tersebut dan di posting di sosial media, yaa namanya juga anak milenial yang ingin terus update di sosmed. Salah satu orang yang mengunggah story kejadian tersebut adalah temanku yang satu jurusan dengan Rahmat dan Rahmat pun juga mengunggah story yang sama. 

Aku meninggalkan komentar di postingan temanku itu yang isinya bertanya tentang apa yang menyebabkan mereka kelahi.

Aku sudah yakin 100% kalau pada saat itu yang ku komen adalah postingan temanku tapi keesokan harinya aku mendapat notifikasi bahwa Rahmat mengirimku pesan di Instagramku. 

Disitu aku langsung panik. “Kenapa orang ini DM saya ya Allah” kataku dalam hati sambil mondar mandir mantengin layar ponsel. Beberapa jam kemudian akhirnya ku buka pesan itu dan setelah kulihat ternyata aku yang salah.

Ternyata story yang ku komen malam itu adalah postingan yang di unggah oleh Rahmat bukan temanku. Dalam hati “Ya Tuhan Niki bodoh sekali kau” dengan ekspresi malu dan pasrah karena posisinya aku tidak kenal orang itu tapi tiba-tiba langsung mengirim dia pesan seolah sudah mengenal lama. Akhirnya aku balas pesannya dan disitulah kita mulai berkenalan.

Memang benar, kita tidak pernah tahu skenario apa yang sudah disiapkan oleh tuhan untuk kita. Awalnya aku sudah mengira bahwa aku tidak akan pernah bertemu dengan orang itu tapi ternyata tuhan mempertemukan kami berdua dengan cara yang tidak pernah kuduga sebelumnya. 

Sampai hari ini kita masih berkomunikasi dengan baik meskipun tidak intens setiap hari. 

Entah kenapa setiap aku mendapat pesan dari dia hatiku selalu senang. Aku tidak tahu dia sadar apa tidak kalau aku menyukainya. 

Baca Juga:  Surat Untuk Eyang, Teman Pertamaku di Dunia

Cuma yang aku tahu dia orang yang baik meskipun sifatnya dingin seperti es dan cuek sekali. Harapanku semoga aku terus bisa berhubungan baik baik dengan dia selamanya meskipun kita nantinya sudah tidak bisa bertemu lagi.

Catatan: *nama samaran

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru