Sepucuk Surat Untuk kakakku Tersayang yang tak Pernah Pulang

Kami sekeluarga merindukanmu. Tidakkah kamu juga rindu pada kami. Pada adikmu yang lucu ini. Kami semua sayang padamu.


surat untuk kakakku tersayang

Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Banyak yang mengatakan sebaik-sebaik penghilang kenangan adalah waktu. Namun segala memori tentang orang tercinta tidak akan mungkin hilang begitu saja. Bagiku keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup, begitupun dengan kakak.

Meski jarak kita terpaut cukup jauh dan kakak yang jarang pulang karena harus bekerja di tempat yang jauh. Aku selalu membanggakanmu ketika menceritakannya di hadapan teman temanku.

Sebagai seorang kakak sulung, aku tahu beban yang kamu tanggung cukup berat. Sayangnya kala itu aku masih kecil dan tak memahaminya dengan baik. Aku waktu itu seperti yang dipikirkan seorang adik pada umumnya: merasa bahagia ketika kakaknya yang bekerja di tempat jauh pulang membawa oleh-oleh. 

Waktu pulang kakak jadi momen yang sangat berharga bagiku. Aku masih 7 tahun ketika sadar bahwa kakak jarang terlihat di rumah. Dan ketika aku mendapati kakak pulang di rumah, seakan aku sudah siap menerima hadiah yang besar. 

Ya, kakak selalu membawa banyak hadiah tak terduga, seperti televisi misalnya. Di saat itu aku memang sangat suka nonton televisi. Bayangkan, ketika hanya beberapa tetangga saja yang masih memilikinya, rumah kita sudah ada televisinya. Betapa membahagiakan!

Tak hanya memberikan hadiah yang aku suka. Kakak juga selalu membantuku mengerjakan PR. Aku masih ingat diriku yang waktu itu sangat tidak suka pelajaran Bahasa Inggris. Namun toh PR itu  terasa mudah ketika kakak memberitahu cara mengerjakannya. 

Baca Juga: Surat Untuk Makhluk Tuhan yang Paling Lembut

Berbeda dengan bu guru yang terlalu serius, kakak mengajarkan Bahasa Inggris kepadaku, sembari diselingi senda gurau. Jujur saja, Bahasa Inggris yang diajarkan kakak jadi terasa mudah.

Sebagai seorang adik aku selalu ingin tahu setiap barang yang kamu miliki. Maafkan aku yang sering ke kamarmu diam-diam dan mengambil barang yang menurutku unik sebagai mainan. 

Setiap benda yang kamu bawa pulang membuatku penasaran. Sampai-sampai aku memainkannya begitu saja. Lucunya ketika mengetahui barangmu hilang, kakak marah dan selalu tahu jika yang mengambilnya adalah aku.

Di kamarmu aku sering menemukan lukisan unik yang seolah kamu buat dengan penuh cinta. Dari situ aku menyimpulkan jika kamu sangat suka menggambar. Sempat di suatu hari kamu memintaku duduk diam dalam waktu yang cukup lama. 

Baca Juga:  Surat untuk Kamu yang Mengenakan Jaket Almamater Biru Navy

Ternyata kamu ingin menggambar di sebuah kertas putih yang saat itu kamu pegang. Sebagai adik, aku suka ketika kamu berusaha keras menggambar objek sampai semirip mungkin dengan aslinya. Dan aku kerap dimintai tolong jadi objek gambarmu.

Satu hingga dua jam, aku mulai lelah dan bertanya kapan aku bisa segera berubah posisi dari tempat dudukku itu. Kamu katakan jika gambar itu akan segera selesai. 

Akupun menunggu dan sedikit bersabar, berharap bisa segera melihat hasil gambarmu. Sejam-dua-jam. Gambar selesai. Tapi sosok di gambarmu tak pernah mirip denganku. 

Rumah tak pernah sepi ketika kau pulang dari perantauan. Satu demi satu saudara datang bertamu. Mungkin ingin tahu kabarmu. Ahhh … aku adik paling beruntung karena kakak yang jarang kutemui akhirnya pulang.

Seiring berjalannya waktu, kamu masih tetap ingin bekerja di tempat yang jauh. Orang tua kita pun mengizinkannya meskipun aku lihat ada rasa berat yang kutangkap di wajah mereka. 

Baca Juga: Semua berubah, bahkan Kembaranku

Orang tua mana yang rela melepas anaknya merantau jauh? Tapi bagaimanapun  ibu selalu yakin dan berbaik sangka: Tuhan yang akan menjaga anaknya dimanapun keberadaannya.

Lebaran adalah hari yang paling spesial bagiku, dan aku selalu menantinya sepanjang waktu. Biasanya di hari itu kamu selalu pulang membawa oleh-oleh. Namun ternyata aku salah, karena sosok yang aku nantikan tak datang juga. 

Biasanya kamu pulang satu hari sebelum lebaran tiba. Namun, genap satu tahun kamu tak juga pulang. Jangan ditanya betapa khawatirnya ibu dan bapak menunggu kabar darimu.

Kabar tentangmu jadi hal yang sulit didapat. Tapi kami tak pernah lelah menunggumu pulang ke rumah. Kamu adalah bagian dari kami sampai kapanpun. 

Hingga tak terasa waktu sudah memasuki dua tahun, dan lebaran selanjutnya akan segera tiba. Tetap saja kabar darimu tak juga ada.

Bagiku kamu masih menjadi sosok yang membanggakan. Seandainya bapak dan ibu tahu jika kamu tak akan kembali pulang, mereka pasti tak akan mengizinkanmu pergi. Hingga saat ini, kami pun tak tahu bagaimana kabarmu.

Salam rindu dariku, semoga kita dipertemukan lagi.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial