Sejuta Ingatan kutuangkan Dalam Sepucuk Surat untuk Saudaraku

Tentu aku tahu kamu masih saudaraku yang sama, yang kutemui sejak usiaku 12 tahun. Dan surat ini kukirim kepadamu.


surat-untuk-saudara

Ilustrasi pengirim surat. (Foto: Getty Images lewat Canva)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Ini mungkin terlihat jika aku bertanya perihal bagaimana kabarmu. Kita bahkan masih bertemu minggu lalu, tentu aku tahu kamu masih saudaraku yang sama, yang kutemui sejak usiaku 12 tahun.

Seseorang yang kuanggap saudara, meski tanpa ikatan darah. Tidak seayah maupun seibu, tapi aku selalu memanggilmu kakak. Dan kamu juga terus saja menjawabku dengan kalimat “apa, dek?”

Kita masih berusia belasan saat pertama kita jumpa, masih duduk di bangku tahun pertama sekolah menengah pertama. Usiamu hanya terpaut dua tahun dariku, tapi semua tutur katamu begitu bijaksana hingga membuatku terkagum.

Bagaimana kamu selalu piawai dalam merangkai kata, menjadikannya lirik lirik sajak pada pelajaran bahasa Indonesia. Semua kenangan itu masih terpatri dengan jelas di benakku, seolah kita baru bertemu kemarin.

Layaknya gadis belia pada umumnya, ingatkah kamu saat itu begitu bersemangat menciptakan sebuah nama untuk grup kita. Kemudian krasivaya devushka yang kamu ambil dari bahasa Rusia tercetus menjadi nama kelompok kita yang saat itu terdiri dari empat orang.

Masih ingatkah kamu bahwa wanita cantik merupakan arti dari krasivaya devushka, yang selalu saja membuatmu malu ketika kini aku membahas topik itu.

Masih ingatkah kamu dengan gadis bermata bulan sabit serta si gadis periang yang masuk ke dalam kelompok kita saat itu, bagaimana kita selalu menghabiskan hari bersama sama kala itu.

Dari pagi dimulainya kelas di sekolah, hingga senja tiba kita habiskan bersama untuk sekedar bermain atau mengerjakan tugas sekolah bersama. Bukankah saat itu begitu menyenangkan, dimana persahabatan kita untuk satu sama lain merupakan pusat dunia kita.

Perlahan kita mulai beranjak memasuki usia 17, dimana banyak orang bilang usia tersebut seperti gerbang menuju kedewasaan. Dua dari kelompok kita perlahan terkikis, tergerus oleh waktu yang semakin membuat jarak di antara kita semua.

Namun aku begitu bersyukur, kamu terus ada di sana. Di tempat di mana aku bisa selalu melihatmu, mengetahui kabarmu, mengunjungiku saat aku mau, dan mengingat ulang tahun satu sama lain.

Aku bersyukur karena aku masih bisa menemukan kamu yang sama. Meski waktu telah mengubahmu sedemikian rupa, aku bersyukur masih mampu mengenalmu sama seperti saat pertama kali tutur kata anggunmu menyapa.

Baca Juga:  Tentang Bimbingan yang kau Berikan, ibunda Dosen Sayang

Kamu masih selalu menjadi sosok kakak yang banyak menginspirasiku hingga saat ini. Seperti satu kalimatmu yang tidak pernah aku lupa hingga saat ini, “Dek, sholat itu kayak kita lagi laporan ke Tuhan kalau kita tuh masih bernafas”.

Dan kamu lihat bagaimana saat ini aku terbentuk dengan berbagai dorongan kebaikan darimu. Hingga saat kita harus dipaksa lagi beranjak dewasa, meninggalkan masa masa sekolah menengah atas yang begitu penuh cinta dan cerita.

Kamu memutuskan untuk berhenti sejenak, dan mencoba bekerja. Aku masih ingat bagaimana gaji pertamamu yang juga kamu gunakan untuk memberiku hadiah.

Hadiah yang masih selalu kusimpan dan menjadi salah satu barang berharga. Sebuah potret diriku yang saat itu masih begitu labil, dengan segudang permasalahan anak remaja.

Meski semuanya menjadi cukup berat, kamu ingat bukan jika kita selalu bahagia saat itu. Saat aku akan selalu mencarimu di tempat kerjamu dan menunggu pulang, atau saat kamu izin tidak masuk untuk mempersiapkan kejutan ulang tahunku.

Saat itu kita masih di akhir umur belasan, yang mulai dipaksa untuk menjadi dewasa dan kita tetap cukup bahagia. Bagaimana sekarang, apakah kamu sudah mulai berpikir bahwa kita termasuk orang dewasa muda.

Beberapa waktu lalu kamu bahkan mulai merencanakan sebuah pernikahan, yang sayangnya terlalu banyak ombak yang menerjang. Tidak apa, sekarang kamu mulai meniti lagi semuanya dari awal.

Semua akan baik baik saja bukan nantinya. Kamu akan mendapat bahagiamu yang baru, mempersiapkan kembali pernikahanmu dengan seseorang yang tepat.

Dan aku juga akan ikut berdiri di sana, ikut membantu mempersiapkan semuanya agar acara baik itu sempurna untukmu. Aku juga akan di sana berdandan cantik menjadi pengiringmu untuk membuka lembar yang baru.

Mari terus berbagi dunia untuk menorehkan berbagai cerita yang dapat melumerkan hati. Seperti saat kita masih duduk di kelas satu, dan terus saling tertawa bersama.

Mari ke depannya terus bergembira bersama, meski dunia terkadang tidak ramah. Meski kita harus merasa seperti mendaki jalanan berbatu, mari terus saling bergandengan tangan untuk meniti masa depan yang gemilang.

Baca Juga: Surat untuk Adik Termanis yang selalu Kuabaikan

Suatu hari bersamamu, aku akan keluar rumah hanya dengan kaos oblong dan celana training panjang untuk mencari pedagang sayuran di depan kompleks perumahan kita.

Baca Juga:  Surat untuk Orang Paling Tabah yang kukenal

Suatu hari bersamamu, aku akan membawa putra putriku untuk berkunjung ke rumahmu dan berkenalan serta berteman dengan anak anak yang memiliki paras mirip denganmu.

Suatu hari bersamamu, aku akan menikmati hari tua dengan senyum dan menunggu Tuhan memanggil kita.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru