Malang Raya: Kera Ngalam dan Boso Walikan yang Khas

Malang Raya bukan cuma soal bakso yang enak, tapi juga soal boso walikan yang nggak bisa ditemukan di tempat lain.


ilustrasi malang raya

Oleh: Ika Umi Hayati

Diterbitkan:

the Monkey Times – Salah satu bahasa atau dialek khusus yang dimiliki oleh warga Malang adalah osob kiwalan atau boso walikan. Mulai dari anak muda hingga orang tua menggunakan bahasa ini dalam pergaulan sehari-hari. Dan kalau kebetulan tinggal di Malang Raya, kamu akan dengan mudah mendengarnya diucapkan di mana-mana.

Meskipun awalnya dikenal sebagai bahasa pergaulan, boso walikan pada mulanya dipakai sebagai kode atau sandi khusus dalam perjuangan ketika zaman kolonial Belanda.

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Malang, tentu sekilas pernah mendengar masyarakatnya menggunakan dialek khas ini saat berbicara. Memang terdengar asing di telinga, namun sebenarnya bahasa ini menggunakan kalimat-kalimat dari bahasa jawa yang dibalik susunan katanya. Malang sendiri adalah salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki luas sebesar 3,882. 44 km, juga terkenal sebagai markas dari Arema FC, salah satu klub sepak bola terbesar di Indonesia.

Malang Raya atau sebutan untuk kawasan Metropolitan Malang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kota Malang. Daerah di Jawa Timur ini memang sangat berkembang dan memiliki beragam potensi, baik itu ekonomi, wisata, alam, maupun bidang lainnya dan pada zaman kolonial belanda berbentuk karesidenan.

Pada kesempatan ini, mari kita bahas sejarah, asal-usul, dan boso walikan yang khas dari Malang.

Sejarah singkat Malang Raya

Malang mempunyai sejarah yang panjang, telah mengalami berbagai peristiwa penting sejak zaman kolonial Belanda. Hingga sekarang para ahli sejarah masih memperdebatkan asal usul penamaan Malang, jadi belum bisa dipastikan bagaimana dan kapan tepatnya.

Pada masa pemerintahan penjajahan Belanda, Malang Raya merupakan daerah berbentuk Karesidenan yang terdiri dari Probolinggo, Pasuruan, Batu dan Malang. Untuk Kabupatennya sendiri terbagi menjadi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang. Saat ini, kawasan tersebut hanya terdiri dari Kabupaten Malang, Batu, dan Malang yang berada di wilayah dataran tinggi.

Malang Raya terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Jawa Timur yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari wisata alam, religi, hingga wisata buatan manusia sangat terkenal di kalangan wisatawan. Deretan cerita bersejarahnya sangat panjang, mulai dari masa Hindu-Buddha hingga beberapa Kerajaan di Nusantara pernah berjaya pernah berdiri di sini.

Pernah mendengar sejarah tentang Ken Arok dan Kerajaan Singosari? Juga ada Kerajaan Majapahit dan Kanjuruhan yang meninggalkan banyak peninggalan sejarah. Selain itu masih berdiri beberapa situs bersejarah yang kini dilindungi seperti Candi Sumberawan, Candi Singosari, dan Candi Badut yang merupakan peninggalan kerajaan zaman dulu kala. Beberapa peninggalan sejarah lainnya yang ada di Malang disimpan di Museum Mpu Purwa, Museum Brawijaya, dan Museum Zoologi Frater Vianney.

Baca Juga:  Daftar Penemuan Stephen Hawking yang Dikenang Dalam Sejarah

Malang masih menyimpan banyak sejarah tentang kejayaan kerajaan Nusantara, jadi bukan hanya sejarah masa kolonial saja. Namun bagi wisatawan yang sering berkunjung, tidak sedikit pula dari mereka yang senang menikmati sejumlah bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh seperti hotel atau tempat publik lainnya.

Malang Raya di masa penjajahan Belanda

Seperti kebanyakan kota-kota di Indonesia, Malang Raya berkembang dan tumbuh modern setelah dikuasai kolonial Hindia Belanda. Berbagai infrastruktur yang dibangun dibuat sesuai kebutuhan keluarga Belanda. Pada zaman tersebut, daerah ini memang dijadikan sebagai wilayah gemeente (kota). Pada tahun 1879 mulai beroperasi jalur kereta api yang merupakan awal mula berkembangnya Kota Malang.

Asal mula boso walikan

Keunikan bahasa Jawa di Malang adalah bolak-balik susunan kata yang digunakan masyarakatnya. Model bahasa ini dijadikan bahasa gaul di kota terbesar kedua di Jawa Timur ini. Bagaimana bisa kata yang dibalik susunannya bisa menjadi ciri khas bahasa Malang Raya? Apakah semua kata bisa dibalik pengucapannya?

Usut punya usut ternyata boso walikan muncul ketika masa pemerintahan penjajahan Belanda. Para pejuang yang tergabung dalam perjuangan GRK (Gerakan Rakyat Kota) khawatir pembicaraan mereka bocor, karena pada saat tersebut banyak orang pribumi yang menjadi mata-mata Belanda. Setelah berunding cukup lama, akhirnya muncul sebuah ide yang bisa dibilang sangat kreatif. Yaitu boso walikan atau bahasa yang diucap secara terbalik untuk digunakan sesama pejuang GRK.

Cara melafalkan kata tidak dimulai dari seperti biasanya (kiri ke kanan), tetapi dibalik dari huruf paling belakang. Misalnya, tidak jadi kadit, rek jadi ker, minum jadi munim, duduk jadi kudud dan sebagainya. Sedangkan untuk kata yang memiliki pelafalan “ng” seperti bengi atau ngerti ketika dibalik jadi ingeb atau itreng.  

Sampai generasi milenial sekarang penambahan kosa kata terus dilakukan. Orang yang lama hidup di daerah berbahasa Jawa rasanya familiar dengan kata woles, bukan? Nah, ini merupakan salah satu contoh boso walikan yang berasal dari kata slow bahasa Inggris. Selain itu, ada beberapa aturan dalam tata boso walikan, artinya tidak semua kata bisa dibalik pelafalan atau cara bacanya.

Demikian tentang Malang Raya, mulai dari sejarah, asal-usul, hingga boso walikannya yang khas sudah kita bahas bersama. Kota ini memang penuh dengan kekhasan yang rasanya tidak bisa kita temukan atau lihat di daerah lainnya.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: Pengetahuan sehari-hari

Atau baca artikel lain yang ditulis: Ika Umi Hayati

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru