Penulis: Dina Meidiana

Sejarah Kerajaan Demak: Kisah Kadipaten yang Melepaskan diri Dari Majapahit

Terbentuk sekitar abad ke-15, Demak yang kala itu masih berbentuk kadipaten bernama Bintoro.

the Monkey Times Kerajaan Majapahit memang sangatlah makmur. Di bawah Raja Hayam Wuruk dengan Sang Patih Gajah Mada, Majapahit berhasil menjadi kerajaan besar.

Namun, sepeninggal Patih Gajah Mada dan diikuti Raja Hayam Wuruk, perlahan Majapahit turun pamor. Dimana, Kerajaan Demak adalah bekas bagian dari Majapahit. 

Raden Patah, Awal Kisah Kerajaan Demak Lahir

Terbentuk sekitar abad ke-15, Demak yang kala itu masih berbentuk kadipaten bernama Bintoro.

Berdirinya Kerajaan Demak sendiri tidak lepas dari peran Raden Patah. Dalam buku berjudul Sejarah Raja-Raja Jawa yang ditulis Purwadi (2010), Raden Patah merupakan seorang penguasa Islam yang memiliki darah keturunan bangsa Tionghoa. 

Ayah dari Raden Patah adalah Raja Brawijaya V yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.

Ibunda Raden Patah adalah seorang putri dari Dinasti Ming, yaitu Siu Ban Ci. Pada awal abad ke-14, penguasa Dinasti Ming, yaitu Kaisar Yan Lu mengirimkan seorang putrinya untuk Brawijaya. 

Tujuannya adalah untuk mempererat tali persahabatan antara dua kerajaan. Siu Ban Ci adalah sosok putri yang pintar dan cantik.

Sehingga kehadirannya pun sempat membuat Permaisuri Dwarawati tidak suka. Akhirnya Brawijaya V terpaksa mengirim Siu Ban Ci ke Palembang yang kala itu sedang mengandung.

Siu Ban Ci pun hidup bersama Adipati Palembang, yaitu Arya Damar. Setelah Raden Patah lahir ke dunia, ia dipanggil dengan nama Pangeran Jimbun. Siu Ban Ci pun akhirnya menikah dengan Arya Damar dan mempunyai seorang anak bernama Raden Kusen. 

Selama 20 tahun hidupnya, Raden Patah dididik dengan cara bangsawan dan juga politik.

Dimana ia pun memutuskan untuk kembali ke Majapahit bersama Sang Adik. Ia pun tiba di Tuban dan tinggal di Ampel Denta. Belajar mendalami Agama Islam bersama dengan saudagar muslim lainnya. 

Ia belajar Agama Islam bersama dengan Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Bonang.

Selama belajar Raden Patah juga mendapatkan dukungan dari Laksamana Cheng Ho.

Setelah lulus, Raden Patah pun dipercaya untuk menjadi Ulama dan membuat pemukiman yang disebut dengan Bintoro atau Bintara. 

Bintara adalah sebuah hutan yang dibabat alas oleh Raden Patah dan diberi nama dengan Glagahwangi. Disinilah Raden Patah membuat sebuah pesantren dan menyebarkan Agama Islam. 

Glagahwangi sebelumnya adalah desa yang berada di bawah Kadipaten Jepara. Tapi, dengan berkembangnya daerah tersebut semakin besar, maka Raden Patah pun memberikan nama Demak dengan Bintara sebagai ibukotanya. 

Hal ini diperkuat dari buku berjudul A History of Modern Indonesia since 1200 yang ditulis oleh M. C. Ricklefs, menyatakan bahwa kala itu Demak menjadi salah satu kadipaten yang berkembang sangat pesat.

Selain menjadi pusat penyebaran Agama Islam juga sebagai daerah perdagangan yang sangat maju dan didukung penuh oleh Walisongo

Semakin besarnya Kadipaten Demak menyebabkan wilayah ini pun lepas dari Majapahit dan berdiri secara mandiri.

Padahal saat itu, banyak sekali konflik antar kadipaten untuk memperebutkan kekuasaan Majapahit yang mulai runtuh. 

Perjalanan Kerajaan Demak Hingga Masa Kejayaan

Terpisahnya Demak dari Majapahit pun menjadikannya sebagai Kerajaan Islam Pertama di Jawa.

dengan konflik antar kadipaten yang terjadi, Kerajaan Majapahit pun akhirnya memindahkan ibukota ke Daha atau Kediri di bawah kepemimpinan Brawijaya VI atau Girindrawardhana. 

Memindahkan ibukota ini pun tidak membuat Majapahit kembali berjaya. Dimana pada tahun 1478, Raden Patah pun menyerang Majapahit.

Tentu saja dengan lemahnya kekuatan Majapahit saat itu, dengan mudahnya pasukan Kerajaan Demak meluluh lantahkan sisa-sisa Majapahit. 

Dari sinilah Kerajaan Demak pun berhasil menguasai seluruh Majapahit. Hingga akhirnya mampu menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Raden Patah pun membangun Masjid Agung Demak yang hingga sekarang masih berdiri. Kemudian juga menjadikan Demak memiliki kekuatan pasukan maritim yang sangat hebat. 

Pada masa penjajahan Portugis, Kesultanan Demak pun melakukan perlawanan. Hal ini tidak lepas dari Portugis yang menguasai Selat Malaka dan memberikan ancaman sendiri kepada Kesultanan Demak.

Sehingga Raden Patah pun mengutus Sang Anak yaitu Pati Unus untuk melakukan penyerangan. 

Sayangnya, penyerangan ini tidak membawa hasil apapun alias gagal. Tapi, karena keberanian dari Pati Unus, ia pun mendapatkan julukan Pangeran Sabrang Lor.

Ketika Raden Patah wafat di tahun 1518, Pati Unus pun menggantikan ayahnya memimpin Kesultanan Demak. Ia adalah pemimpin yang mengusung prinsip serta wawasan Nusantara. 

Portugis pun dibuat ketar-ketir karena keinginan mereka memonopoli hasil remah di Selat Malaka terusik oleh langkah-langkah Pati Unus yang ingin menjadikan Kesultanan Demak sebagai pasukan maritim terkuat. 

Tapi, kekuatan dari Pati Unus harus terhenti. Karena ia tewas dalam pertempuran melawan Portugis pada tahun 1521.

Kematian yang mendadak membuat adik dari Pati Unus, yaitu Sultan Trenggana naik tahta dan memimpin Kesultanan Demak. 

Pada masa kepemimpinan dari Sultan Trenggana inilah Kesultanan Demak menjadi sangat kuat.

Bisa dikatakan sebagai masa kejayaan dari Kerajaan Demak. Kesultanan Demak bahkan berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis dengan di bawah kepemimpinan dari Fatahillah atas perintah dari Sultan Trenggana. 

Sunda Kelapa yang berhasil direbut pun diganti namanya menjadi Jayakarta yang mempunyai arti Kemenangan yang Sempurna.

Dimana Jayakarta ini kemudian berganti nama menjadi Batavia dan sekarang adalah Ibukota Negara Indonesia, Jakarta. 

Tidak berhenti disini saja, Sultan Trenggana pun berhasil menaklukan beberapa daerah, mulai dari Tuban, Surabaya hingga Pasuruan.

Kemudian pada tahun 1529 berhasil mengambil Madiun dan tahun 1545 berhasil menguasai Malang serta Blambangan. 

Kerajaan Demak Masuk Babak Akhir Penguasa 

Tapi, dibalik tahta Sultan Trenggana menyimpan sebuah konflik besar yang akhirnya membuat Sang Raja Demak ketiga ini meregang nyawa.

Pada jurnal yang ditulis oleh Muhammad Yusuf, Sumarsono dan Sri Handayani dengan judul Konflik Politik Kerajaan Demak Setelah Wafatnya Sultan Trenggono 1546-1549, menyatakan bahwa Sang Sultan membunuh Pangeran Sekar atau Raden Kikin.

Dimana ia merupakan salah satu anak dari Raden Patah dan memang menjadi kandidat yang akan menggantikan Pati Unus. 

Pangeran Sekar dibunuh oleh tangan Sultan Prawoto yang merupakan anak dari Sultan Trenggana. Dimana kala itu Sultan Prawoto mengutus seseorang untuk membunuh Pangeran Sekar. Dengan kematian dari Pangeran Sekar inilah, Sultan Trenggono akhirnya menjadi pemimpin Kerajaan Demak. 

Dendam yang akan kematian Pangeran Sekar pun dibawa oleh sang anak, yaitu Arya Penangsang. Ia dibantu Sunan Kudus untuk bisa melakukan balas dendam akan kematian ayahnya. 

Dalam buku Kerajaan Islam Pertama Jawa yang ditulis oleh H.J. de Graaf dan T.H Pigeaud, Sultan Trenggana meninggal karena ditusuk oleh seorang anak berusia 10 tahun yang kala itu ikut rapat untuk menguping.

Sultan Trenggono yang kala itu merasa tidak diperhatikan oleh bocah tersebut pun marah.

Tapi, si bocah malah mengambil pisau dan menusuk Sultan Trenggana tepat di dada. Sang Raja Demak akhirnya tewas di tahun 1546.  

Dengan kematian dari Sultan Trenggana, Sultan Prawoto pun meneruskan tahta Kesultanan Demak.

Tapi, Sultan Prawoto tidak mempunyai kemampuan politik yang baik. Ia lebih cenderung melebarkan ajaran Agama Islam.

Dalam catatan yang dibuat oleh Manuel Pinto dari Portugis, ia menyatakan bahwa Pemimpin Demak hanya ingin menyebarkan ajaran Agama Islam saja. 

Sehingga Sultan Prawoto dinilai hanya sebagai pemuka agama, bukan sebagai raja.

Hal inilah yang menjadi alasan beberapa wilayah seperti Banten, Gresik, Surabaya dan Cirebon lebih memilih membangun kerajaan sendiri dan lepas dari Demak. 

Dalam buku yang ditulis oleh Krisna Bayu Adji Ensiklopedi Raja-Raja Jawa: Dari Kalingga Hingga Kasultanan Yogyakarta.

Arya Penangsang dititahkan oleh Sunan Kudus untuk membunuh Sultan Prawoto. Ia merekomendasikan Rangkud untuk melakukan tugas ini.

Dimana Rangkud berhasil membunuh Sultan Prawoto beserta istrinya pada tahun 1547. Namun, Rangkud juga tewas di tempat. 

Dendam Akhir Sejarah Kerajaan Demak

Dengan kematian Sultan Prawoto, Arya Penangsang pun akhirnya memimpin Kesultanan Demak.

Tapi, rentetan balas dendam tidak berhenti sampai disini. Ratu Kalinyamat yang merupakan saudara dari Sultan Prawoto, anak dari Sultan Trenggana pun menghampiri Sunan Kudus. Ia ingin meminta pertanggungjawaban dari Sunan Kudus. 

Hanya saja, Sunan Kudus menjawab bahwa kematian dari Sultan Prawoto adalah hasil karma karena telah membunuh ayah dari Arya Penangsang.

Ratu Kalinyamat pun tidak puas dengan jawaban tersebut pun hanya bisa menelan pahit akan pertanyaannya dan kembali ke Jepara bersama suaminya, yaitu Sultan Hadlirin. 

Tapi, di tengah perjalanan mereka dihadang oleh pasukan dari Arya Penangsang dan akhirnya bertempur.

Sultan Hadlirin pun tewas, sedangkan Ratu Kalinyamat berhasil melarikan diri. Arya Penangsang tidak berhenti begitu saja, ia pun mengirim 4 orang utusan untuk menyerang Adiwijaya atau sering kita kenal sebagai Joko Tingkir. 

Namun, yang terjadi adalah keempat orang ini tidak mampu mengalahkan Joko Tingkir.

Mereka pun akhirnya disambut dengan baik dan dipulangkan ke Demak dengan sangat hormat.

Tujuannya tentu saja untuk mempermalukan Arya Penangsang. Joko Tingkir sendiri adalah menantu dari Sultan Trenggana. 

Mendengar kemampuan dari Joko Tingkir, Ratu Kalinyamat pun meminta bantuannya untuk membunuh Arya Penangsang.

Namun, Joko Tingkir menolak, mengingat bahwa ia adalah menantu dari Kesultanan Demak dan sama-sama murid dari Sunan Kudus. Ratu Kalinyamat pun menjanjikan akan memberikan sebagian tanah dari Demak dan Jepara. 

Tapi, karena masih enggan, Joko Tingkir pun membuat sayembara. Siapapun yang berhasil membunuh Arya Penangsang akan dihadiahi tanah Pati dan Mataram.

Tentu saja ini membuat banyak orang tertarik, dimana anak Ki Ageng Selo, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi memutuskan ikut dalam sayembara ini. 

Anak dari Ki Ageng Pemanahan, yaitu Sutawijaya pun turut serta. Disinilah akhirnya hidup dari Arya Penangsang berakhir. Sutawijaya berhasil membunuhnya dengan menggunakan Tombak Kyai Plered di tepi Bengawan Sore. 

Kejadian di tahun 1549 ini menjadi akhir perjalanan dari Kesultanan Demak. Setelah kematian dari Arya Penangsang, seluruh pemerintahan berpusat di Kerajaan Pajang yang dipimpin Joko Tingkir.

Dimana Demak kembali lagi menjadi kadipaten dan dipimpin oleh adipati yang merupakan anak Sultan Prawoto. 

Sejarah Kerajaan Demak yang panjang, mulai dari Kadipaten yang melepaskan diri dari Majapahit hingga dendam yang meruntuhkan kerajaan ini.

Peran Kesultanan Demak akan penyebaran Agama Islam di Indonesia memang tidak bisa dibantah.

Hingga sekarang nama Kesultanan Demak pun masih mengakar erat dan terus dijaga oleh anak cucu.