Sejarah Coklat di Indonesia, dari Zaman Hindia Belanda Hingga Sekarang

Ada sebanyak 777,5 ribu ton kakao yang diproduksi Indonesia. Ada puluhan merk coklat buatan lokal disajikan dalam berbagai varian yang dapat dibeli dengan mudah.


perkembangan coklat

Produk olahan kakao (Foto : And.one lewat Canva Pro)

Diterbitkan:

the Monkey Times – Coklat tak serta merta muncul begitu saja di Indonesia. Tentu bahan pangan ini juga mempunyai sejarah yang membuatnya hadir di tanah air.

Dikutip dari laman History.com, dijelaskan bahwa cokelat pertama kali menjadi bahan konsumsi masyarakat Mesoamerika kuno. Namun seiring berjalannya waktu, cokelat hanya dikonsumsi dan digunakan sebagai minuman kaum bangsawan.

Bahan utama pembuat cokelat diambil dari biji kakao yang diperkirakan saat itu hanya tumbuh di daerah Amerika Tengah, Amerika Utara, dan Meksiko saja.

Cokelat kemudian merambah ke seluruh belahan dunia seiring dengan berjalannya waktu. Hingga akhirnya bisa dinikmati dimana saja, termasuk di Indonesia. 

Penasaran tidak bagaimana sejarah coklat di Indonesia? Mari simak pembahasan berikut ini.

Sejarah Tanaman Coklat di Indonesia

Sejak tahun 1880-an atau lebih sering disebut zaman Hindia Belanda, memang sudah ada beberapa perkebunan kakao di Indonesia.

Hanya saja yang pertama kali membawa buah ini bukanlah Belanda melainkan Spanyol melalui negara koloninya, yakni Filipina. Sejak tahun 1560, Spanyol sudah membudidayakan pohon kakao di negerapa tersebut.

Dikutip dari laman Kompas.com yang melakukan wawancara dengan Fadly Rahman, seorang dosen Departemen Sejarah Universitas Padjadjaran sekaligus sejarawan kuliner menyebut bahwa saat itu pemerintah Belanda masih fokus menggarap the dan kopi saja.

Namun akibat hama penyakit membuat tanaman kopi dan the yang dibudidayakan rusak. Hingga akhirnya, pemerintah Belanda beralih pada komoditas lain yakni pohon kakao.

Belanda mulai fokus membudidayakan kakao sejak tahun 1880-an. Bahkan ada sebanyak 29 perkebunan kakao yang dibudidayakan di Hindia Belanda pada tahun 1938. 

Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaan, perkebunan tersebut lantas diambil alih sehingga bukan lagi milik pemerintah Belanda.  

Sejarah tanaman Coklat di Indonesia

Di Indonesia budidaya kakao mulai berkembang pesat pada abad ke 19 dan 20. Meskipun pada waktu itu coklat hanya digunakan sebagai minuman yang menyatakan status sosial.

Salah satu iklan coklat dari merk yang populer waktu itu adalah “Tjoklat”. Iklan ini menampilkan seorang wanita Melayu yang duduk bersimpuh mempersembahkan sebakul kakao dalam busana kemben dengan rambut yang disanggul rapi.

Perkembangan coklat di Indonesia pasca kemerdekaan memuncak ketika bermunculan berbagai merek, sehingga saat itu seluruh kalangan dapat mengkonsumsinya.

Ada sebanyak 777,5 ribu ton kakao yang diproduksi Indonesia. Ada puluhan merk coklat buatan lokal disajikan dalam berbagai varian yang dapat dibeli dengan mudah.

Baca Juga:  5 Beasiswa Unggulan 2021 Tutup Bulan Agustus, Segera Daftar

Selain diminum, bahan pangan ini juga digunakan sebagai bahan pembuatan kue. Harga coklat lumayan terjangkau di pasaran, mulai dari Rp. 1000 saja kamu bisa membelinya.

Produksi Coklat di Indonesia Saat ini

Kakao merupakan produk unggulan di Indonesia, tapi sayang setiap tahun produksinya semakin menurun.

Padahal demandnya baik dari pasar domestik maupun internasional. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kegiatan pengembanganan kakao pada tahun 2019 dialokasikan seluas 7730 hektar melalui kegiatan perluasan dan peremajaan lahan kakao.

Ditjen Perkebunan dapat menghasilkan 600 ribu ton per tahun dari luas tanah tersebut.

Produksi Kakao di Indonesia ada dua versi, satunya lagi dari Organisasi Internasional Kakao yang hanya menghasilkan sekitar 200 ribu ton per tahun. Berikut ini wilayah penghasil kakao terbesar di Indonesia:

  • Sumatera Barat
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah

Produk kakao di Indonesia sebagian besar mempunyai titik leleh dan lemak yang tinggi.

Jika dinilai dari segi komersial memang produk lain menang dengan aroma dan cita rasa lebih kuat.

Pasar juga lebih banyak membeli kakao tanpa fermentasi dengan perbedaan hara Rp. 2000 – Rp. 3000 per biji.

Sedangkan untuk menghasilkan kakao fermentasi membutuhkan waktu tambahan sekitar 3-4 hari. Adapun kisaran harga biji kakao kering dijual sebesar Rp. 25.000 – Rp. 30.000 per kilogram.

Produk Olahan Lemak Kakao

Selain dibuat menjadi coklat bubuk, batangan, maupun bahan pangan lainnya, buah ini dapat diolah menjadi produk berupa lip balm, lulur, moisturizing, sabung, dan suplemen.

Bahan-bahan tersebut dibuat dari lemak kakao, sedangkan untuk bahan lain yang diolah dari lapisan pada biji dibuat menjadi pakan ternak, nata de coco, dan sabun.

Produk olahan lemak kakao ini idkembangkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember.

Saat ini telah menjadi produk unggulan Indonesia yang diekspor ke pasar internasional. Tentu sangat disayangkan bila produksi kakao semakin menurun setiap tahun padahal jumlah permintaan terus meningkat.

Produksi kakao Indonesia kini digeser oleh negara-negara lain. Semulanya berada di posisi ketiga kini malah turun ke posisi keenam dalam produksi kakao dunia.

Sepertinya pemerintah perlu memperhatikan dan memajukan kembali sektor ini melalui program perluasan lahan, peremajaan, edukasi, serta kesejahteraan para petani.

Ternyata coklat tidak serta merta hadir begitu saja di Indonesia, ada sejarah panjang yang turut membersamainya.  

Baca Juga:  Asal Muasal dan Fakta Hari Minggu yang Menjadi Hari Libur di Seluruh Dunia
Temukan artikel menarik lainnya di topik: makanan ringan, Pengetahuan sehari-hari

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru