Penulis: Anggie Warsito

Saving Private Ryan: Film Perang yang Dinamis, Humanis dan Inspiratif

Kendati Ryan menjadi subjek utama film ini, justru John H. Miller yang diperankan oleh Tom Hanks yang jadi titik berat penceritaan.

Saving Private Ryan
8.4 / 10 Nilai dari kami
Naskah
Penokohan
Sinematografi
Jalan Cerita
Pendapat kami
Film PD II umumnya cenderung menonjolkan sisi patriotik maupun politis dalam penyajiannya. Hal semacam itu tak berlaku pada Saving Private Ryan. Film ini justru lebih cenderung menonjolkan sisi humanis di dalamnya.

the Monkey TimesPerang Dunia II (PD II) lazim dijadikan ide cerita oleh para sineas Hollywood. Salah satunya yang cukup ikonik adalah Saving Private Ryan (1998) garapan Stephen Spielberg.

Sesuai judulnya, film ini berkisah tentang upaya penyelamatan seorang prajurit bernama Ryan yang tengah berperang di Jerman. Upaya penyelamatan yang dipimpin John H. Miller itu dilakukan setelah terjadinya kematian dua saudara Ryan.

Matt Damon didapuk sebagai pemeran Ryan muda di film ini, sedangkan sosok Ryan tua diperankan oleh Harrison Young.

Kendati Ryan menjadi objek film ini, sosok pemeran utama di film ini justru John H. Miller yang diperankan oleh Tom Hanks.

Bermula dari Buku Sang Istri

Naskah Saving Private Ryan ditulis sepenuhnya oleh Robert Rodat. Ide ceritanya sendiri bermula dari istri sang penulis naskah yang memberinya buku bertajuk D-Day: June 6, 1944: The Climactic Battle of World War II karya Stephen Ambrose. Ide itu lantas ia bawa ke seorang produser bernama Mark Gordon.

Dari Gordon, ide itu lantas dibawa ke Paramount Pictures. Pihak eksekutif Paramount amat menyukai ide tersebut dan meminta Rodat mengembangkan ide itu menjadi naskah.

Naskah yang ditulis Rodat itu lantas sampai ke meja salah satu petinggi Creative Artists Agency, Carin Sage. Carin tertarik pada naskah itu dan meminta Steven Spielberg yang merupakan kliennya membaca naskah tersebut. Dari situlah, Spielberg pun mengejawantahkan naskah itu menjadi film Saving Private Ryan.

Proses syuting pun dimulai pada 27 Juni 1997. Segala hal dipersiapkan sedemikian rupa guna menyukseskan Saving Private Ryan, mulai dari properti, sinematografi, efek suara, sampai para pemeran.

USD 70 juta dikeluarkan demi memodali film ini. Tak sia-sia, karena film ini berhasil meraup untung hingga USD 482,3 juta.

Meraih 5 dari 11 Nominasi Academy Awards, Tapi…

Selain untung secara finansial, Saving Private Ryan juga kaya akan prestasi. Salah satu prestasi terbaik mereka adalah menerima 11 nominasi di ajang Academy Awards ke-17. Dari sebelas nominasi yang didapat, 5 diantaranya berhasil dimenangkan. Kelimanya adalah Best Cinematography, Best Sound, Best Editing, Best Sound Editing, dan Best Director.

Sebetulnya mereka bisa mendapatkan penghargaan yang keenam untuk kategori Best Picture. Sayangnya, memkategori itu justru dimenangkan oleh film Shakespeare in Love (1998).

Kekalahan Saving Private Ryan di kategori Best Picture menimbulkan gelombang kritik dari berbagai pihak, khususnya para pecinta film. Bagi mereka, Saving Private Ryan dengan segala kualitas yang dimilikinya jauh lebih layak mendapatkan penghargaan untuk kategori tersebut.

Kekalahan Saving Private Ryan itu lantas masuk sebagai salah satu kontroversi yang pernah dilakukan Academy Awards untuk kategori Best Picture.

Dinamis, Humanis, dan Inspiratif

Walau punya durasi hampir 3 jam, Saving Private Ryan tidak jatuh menjadi film perang yang membosankan. Semua itu berkat kecerdasan Spielberg dalam menciptakan alur yang dinamis pada film ini.

Tiga menit pertama film ini akan memperlihatkan sosok Ryan di masa tua. Film pun lantas mengajak penonton ke masa lalu sambil melihat berbagai adegan perang yang intens selama 30 menit lamanya.

Adegan-adegan itu semakin terasa nyata berkat properti yang dipersiapkan dengan baik, deretan sound effect yang menggetarkan hati, serta sinematografi yang dinamis.

Sinematografinya sendiri diambil dengan memakai hand-held camera yang membuat sinematografer bisa mengambil gambar dengan angle apa pun secara leluasa.

Sehabis deretan adegan perang, Spielberg pun mencoba menurunkan tensi penonton lewat adegan-adegan yang relatif santai namun penting.

Dikatakan begitu lantaran adegan-adegan itulah yang akan memberitahu penonton tujuan dibalik misi penyelamatan Ryan.

Tensi pun lantas kembali dinaikkan dengan hadirnya berbagai adegan perang. Menjelang film usai, tensi pun kembali diturunkan dan film pun ditutup dengan adegan menyentuh hati.

Film PD II umumnya cenderung menonjolkan sisi patriotik maupun politis dalam penyajiannya. Hal semacam itu tak berlaku pada Saving Private Ryan. Film ini justru lebih cenderung menonjolkan sisi humanis di dalamnya.

Sisi itu bisa dilihat dari sosok John H. Miller yang tegas namun baik hati, serta misi penyelamatan Ryan yang murni demi keselamatan Ryan dan bukan untuk kepentingan politik siapa pun. Tak heran, bila Janet Maslin menjuluki film ini sebagai “the finest war movie of our time“.

Banyak pihak yang terinspirasi film perang garapan Spielberg itu. Quentin Tarantino salah satunya.

Ia mengaku kalau ia amat suka Saving Private Ryan dan menjadikan film itu sebagai salah satu inspirasi untuk salah satu film garapannya, Inglourious Basterds (2009).

Selain Tarantino, Christopher Nolan juga sangat terinspirasi oleh film tersebut. Ia sampai berkonsultasi ke Spielberg tentang bagaimana cara membuat film perang sebelum ia menggarap Dunkirk (2017).

Pengaruh Saving Private Ryan terhadap Dunkirk bisa terlihat pada adegan kapal besar yang berisi sekelompok tentara, dimana adegan itu juga ada pada film Saving Private Ryan.

Atas segala kualitas dan pengaruh yang dimilikinya, Saving Private Ryan pun lantas dilestarikan oleh United States National Film Registry by the Library of Congress sebagai film yang “culturally, historically, or aesthetically significant”.