Satu Halaman Surat Perpisahan Untukmu

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.


surat-perpisahan

Ilustrasi perpisahan sepasang kekasih. (Foto: Pixabay)


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

the Monkey Times – Untuk kamu yang memiliki huruf vokal di antara namamu. Selamat sore menjelang petang. Kupersembahkan pujian untuk kamu yang memiliki senyum semanis gula aren. 

Entah pukul berapa ketika kamu membaca ini, namun aku menulis selembar surat untukmu satu hingga dua jam selepas salat Asar. 

Harusnya sekarang matahari mulai tergelincir ke arah barat, tirai jendela di kamarku tertutup jadi aku tidak begitu yakin.

Tetapi mendengar gegap gempita para tetangga yang meneriaki pulang anak anak mereka, sepertinya sebentar lagi hari mulai gelap. 

Maklum, tinggal di tengah gang membuat telingaku mampu mendengar tindak tanduk penghuni di rumah sebelah. 

Bahkan beberapa gosip dari penghuni rumah dengan dinding coklat di ujung gang saja aku bisa mengetahuinya.

Ah harusnya aku tidak membicarakan gosip denganmu, bukan itu tujuanku menulis surat ini. Surat ini datang sebagai bentuk ucapan perpisahan untuk kamu, yang ada di nan jauh di sebrang. 

Berkilo kilometer pergi ke tanah orang, tapi tidak kunjung pulang. Merantau katanya mencari biaya untuk membawa kita ke jenjang pelaminan.

Tapi sudah hampir tujuh tahun kamu tidak pulang, tidak ada kabar. Hanya sepucuk alamat yang aku punya tapi tidak berani kudatangi. 

Aku takut kamu sudah lupa, atau pura pura tidak mengenalku lagi. Dan kamu terlalu jauh untuk kujumpai, sedangkan aku sendiri tidak pernah menjejakan kaki di tanah luar Pulau Jawa.

Sejujurnya aku masih ingin menunggumu, meski telah melewati tujuh, delapan, sembilan, atau sepuluh tahun. Tapi usiaku tidak selamanya berhenti di 20 an, tahun ini sudah mencapai angka 3 di depan. 

Ibu sudah tidak tahan melihatku melajang, sedang teman temannya kesana kemari menggendong cucu yang lucu dan imut imut.

Ibu juga tidak lagi muda, beliau takut tidak punya banyak waktu lagi untuk melihat cucunya. Ayah sudah tidak ada beberapa tahun yang lalu, bahkan kamu tidak datang di saat itu. 

Aku anak satu satunya dari seorang janda tua, hidup di tengah gang sempit dengan cicilan rumah yang masih menunggak. Pekerjaan pun hanya bisa menutupi kebutuhan sehari hari.

Ibu ingin aku lebih realistis, bahwa menunggumu hanya dengan berbekal cinta tanpa kepastian dan kabar bukanlah jawaban. 

Pemikiran ibu tersebut selalu kutolak, kubuang jauh jauh agar tidak meracuni pikiranku yang ingin terus menunggumu. Tapi, satu minggu yang lalu seorang pemuda datang ke rumah untuk memintaku.

Baca Juga:  Kepada Seseorang yang Menyapaku di Persimpangan Jalan

Ia datang dengan kedua orangtuanya, memintaku dengan cara yang baik untuk mempersuntingnya. Dia anak dari salah satu teman ibu, dan saat mereka datang ke rumah ibu tampak begitu bahagia. 

Di satu sisi ibu senang anak gadisnya dilamar, di sisi lain ibu sangat senang bisa berbesan dengan sahabat baiknya sejak duduk di bangku sekolah.

Lantas bagaimana aku bisa merusak raut raut bahagia itu ? Wajahmu saja aku mulai lupa, atau lebih tepatnya yang kuingat hanya rupamu saat terakhir kita bertemu tujuh tahun lalu di Bandara Juanda. 

Bagaimana kamu sekarang ? Apakah matamu masih berwarna coklat jernih dan penuh semangat atau sudah meredup dan kehilangan warnanya ?

Apa kamu masih seperti yang dulu ? Atau hanya aku yang tidak pernah berubah. Yah, pokoknya aku tidak punya pilihan selain menjawab iya. 

Pernikahan kami akan dilangsungkan akhir tahun ini, apakah kamu akan datang ? Beritahu aku jika surat ini sampai di tanganmu. Maka satu atau dua bulan ke depan aku bisa mengirimkan undangan pernikahanku.

Aku tidak yakin kamu sedih mendengar kabar ini, aku juga tidak yakin kamu terkejut. Siapa gadis di dunia ini yang mau menunggu hingga bertahun tahun tanpa kepastian, tentu tidak ada. 

Meski itu yang sudah kulakukan beberapa tahun belakangan, tapi setidaknya aku mencoba melangkah maju. Maju ke kehidupan yang baru, dimana tidak ada lagi kenangan akan kita.

Tidak ada lagi kamu yang akan membawakan payung ketika hari hujan datang. Tidak ada lagi kamu yang membawakan ice choco mint favoritku ketika terik matahari menerjang. 

Atau ketika daun berguguran dan beberapa kelopaknya tersangkut di rambutku, kamu tidak akan ada lagi di sisi untuk mengambilkannya lagi.

Musim demi musim ke depan tidak akan ada lagi kamu di hidup ini. Kamu tidak akan lagi datang dengan tiba tiba mengetuk pintu rumahku, dan membawa senyuman. 

Ah, bagaimana ini, aku mulai menangis lagi saat menulis surat perpisahan untukmu. Padahal buket bunga pertama yang kamu beri sudah berhasil kubuang.

Sebelumnya buket bunga itu sudah berhasil dikeringkan dengan baik, dan ingin aku gunakan di hari pernikahan kita. Tapi pada akhirnya dia harus berdiam di tempat sampah dan menuju ke tempat pembuangan akhir. 

Sungguh sangat disayangkan, baik itu buket bunganya maupun seseorang yang telah memberinya kepadaku. Keduanya harus pergi dari hidupku di masa depan.

Baca Juga:  Surat untuk Suamiku di hari Pernikahanku

Dengan Bismillah, aku siap melepasmu.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: curahan hati, kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial