review film amerika liberal arts” (2012) hubungan antara mahasiswi dan lelaki paruh baya

Review Film Amerika “Liberal Arts” (2012): Hubungan antara Mahasiswi dan Lelaki Paruh Baya

Liberal Arts adalah film yang memuaskan secara intelektual. Bagi kamu yang ingin menonton sinema tanpa melibatkan efek khusus mungkin film ini kurang tepat bagi kamu.

Update:
poster liberal arts
Judul film: Liberal Arts
Tanggal rilis: 14 September 2012
Sutradara: Josh Radnor
★★★★★

Ringkasan Review: Jesse, seorang admission officer di sebuah kampus di New York sangat mencintai buku serta menghabiskan waktu luangnya hanya untuk membaca buku. Ia baru saja putus dari kekasihnya dan tiba-tiba ia ditelpon oleh Peter Holberg yaitu mantan profesornya di Ohio agar datang ke acara perayaan pensiunnya.

the Monkey Times – Jesse telah 10 tahun tidak mengunjungi kampusnya tersebut. Jesse kembali bernostalgia mengingat masa-masa yang menyenangkan saat ia berkuliah di sana. Saat kembali ke kampusnya, Jesse bertemu dengan sosok yang menurutnya menarik yaitu seorang mahasiswa yang juga penikmat buku namun memiliki permasalahan psikologis, lelaki tersebut bernama Dean atau juga sering dipanggil Nat. Ia adalah lelaki yang bijaksana dan menyenangkan. 

iklan

Di acara perayaan pensiunan mantan dosennya, Jesse kemudian bertemu dengan sebuah keluarga yang merupakan sahabat dari profesor tersebut. Jesse berkenalan dengan putri sahabat profesor tersebut yang bernama Zibby.

Perempuan tersebut adalah mahasiswi di kampus yang sama saat Jesse dulu berkuliah. Ia adalah sosok yang  menyukai musik klasik dan novel vampir serta memiliki ketertarikan yang besar untuk selalu berkembang di dalam hidupnya. Tanpa diduga ternyata ada ketertarikan di antara mereka walaupun perbedaan usia mereka sangat jauh yaitu 16 tahun.

Sebelum Jesse kembali ke kotanya, Zibby menemuinya dan mereka sepakat untuk saling berkirim surat. Saat mereka saling berkirim surat, tanpa disadari mereka saling menyimpan kerinduan satu sama lain.

Perasaan mereka semakin berkembang dalam sepucuk surat. Adegan surat-menyurat ini menjadi best scene dalam film ini. Selama masa pendekatan dengan Zibby, Jesse selalu merasa dilema akan umur mereka yang terpaut jauh. Jesse mempertimbangkan dengan matang realita yang mungkin akan dijalaninya jika ia bersama dengan Zibby.

Ia membandingkan umur mereka berdua, ketika ia berusia 19 tahun maka Zibby masih berumur 3 tahun sedangkan saat ia berumur 87 tahun maka Zibby telah berumur 71 tahun. Memang secara teknis, ia sama sekali tidak melanggar kode etik karena ia pun tidak bekerja di kampus tempat Zibby belajar. Namun pada akhirnya Jesse menyerah.

Pada suatu hari akhirnya Zibby meminta Jesse untuk menemuinya kembali di Ohio. Saat mereka bertemu ternyata realitanya di luar dugaan Zibby.

Perempuan yang masih sangat muda tersebut menginginkan berhubungan seksual dengan Jesse, namun lelaki dengan usia 35 tahun tersebut merasa tidak pantas bersama perempuan tersebut karena rentang umur yang sangat jauh. Jesse berusaha menyadarkannya bahwa hubungan yang mereka jalin tidaklah sepantasnya untuk diteruskan.

Kedewasaan Karakter Zibby

liberal arts

Garis muda yang eksentrik ini memiliki tingkat kedewasaan yang lebih jika dibandingkan dengan karakter Jesse. Walaupun ia masih berusia 19 tahun, namun ia memiliki cara pikir seperti perempuan berusia 23 tahun yang berani dan tidak takut untuk membangkang. Ia memiliki pengetahuan dan minat yang sangat luas, ia berusaha untuk memiliki hidup yang bebas dan modern.

Cara ia berpikir bisa dibilang tidak berlebihan dan terkesan realistis sehingga ia sering memberikan argumen-argumen kepada Jesse. Walaupun mungkin agak terkesan agresif dan sensitif, ia sangat bersemangat untuk memahami kehidupan dan memahami seni. Zibby sama sekali tidak berpengaruh akan perbedaan umur yang jauh antara dirinya dan Jesse.

Dari karakter Zibby, kita dapat melihat bahwa meskipun seseorang memiliki idealisme yang berlebihan namun saat kita sedang bertumbuh dewasa, membuat kita sadar bahwa terdapat beberapa hal yang tidak mungkin walaupun kita merasa seolah-olah segala sesuatu mungkin saja terjadi tanpa mengenal kita sedang berada di usia berapa.

Karakter Tokoh Jesse

adegan liberal arts

Jesse yang bertugas sebagai petugas penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi menunjukkan bahwa ia sangat lesu dan murung serta menghindari hubungan sosial dengan orang-orang yang seusia dengannya. Ia mengalami kelelahan yang luar biasa karena pekerjaannya yang monoton dan ia lelah untuk hidup.

Karakter Jesse di awal film sangat tidak bergairah dan agaknya hidupnya harus membutuhkan percikan agar hidupnya sedikit berwarna, dengan kata lain ia sedang mengalami krisis paruh baya. Di waktu yang tepat, ia justru bertemu seorang Zibby yang hadir di hidupnya. Hidupnya mendadak melangkah penuh semangat apalagi saat ia bertemu dengan Zibby di rerumputan kampus yang ia cintai.

adegan dalam film liberal arts

Jesse yang juga bertemu dan akhirnya berteman dengan Dean, pada akhirnya menjadi teman atau kakak yang perhatian terutama karena Dean adalah seorang siswa bipolar brilian yang terlibat dan terjebak dalam buku Infinite Jest karya David Foster Wallace.

Meskipun ia juga lelah dengan kehidupannya namun di sisi lain ia memberikan perhatian yang tidak tanggung-tanggung kepada Dean terutama saat Dean menelepon Jesse di New York dan mengatakan bahwa dia baru saja meminum peel overdosis yang membuat Jesse panik dan segera menemuinya di rumah sakit. Di momen tersebut, Jesse justru memberikan dukungan untuk semangat hidup kepada Dean.

Alasan Mengapa Film Ini Cukup Menarik untuk Ditonton

Josh Radnor adalah aktor yang membintangi karakter Jesse sekaligus menjadi penulis skenario dan sutradara. Josh Radnor berhasil membawa karakter-karakter di film ini khususnya Zibby yang diperankan oleh Elizabeth Olsen.

Ia berusaha untuk memberikan dan menawarkan tentang makna kedewasaan, makna pendidikan, serta makna di balik hubungan antara dua manusia yang terpisah karena perbedaan umur yang jauh. Film dengan durasi 1 jam 37 menit ini menampilkan hubungan chemistry antara Jesse dan Zibby yang sangat menarik mulai dari kepribadian yang unik serta cara mereka masing-masing menemukan makna kedewasaan. 

Film yang terbilang tidak buruk tapi tidak juga istimewa ini menampilkan plot yang sederhana namun juga tidak monoton. Secara keseluruhan, film ini tetap menawarkan hal-hal yang manis untuk para penontonnya.

Film Liberal Arts mengajak para penontonnya untuk melihat pola pikir yang lebih umum sekaligus mengajak penontonnya untuk menggunakan logika serta kemampuan intelektual terutama saat melihat karakter Zibby yang bebas serta tidak menyukai hal-hal teknis yang rumit dan mengikat. Film ini mengajak kita untuk mencoba bijak dan kritis untuk melihat permasalahan hidup. 

Ketimbang menampilkan hal-hal yang berbau romansa, film ini memiliki kekuatan di premis yang ia punya. Dengan menggunakan dialog-dialog yang kuat, film ini memiliki daya tarik dari konflik-konflik yang ia tawarkan namun juga memberikan bumbu komedi.

Mulai dari konflik perbandingan umur, saling berkirim pesan dengan surat yang ditulis tangan, hingga cara mereka memahami sebuah novel vampir. Mungkin secara marketing, film ini tampaknya tidak memiliki sasaran pasar yang luas dan bisa saja menimbulkan hal-hal skeptis apakah penonton menyukai atau tidak menyukai film ini.

Namun bagi kamu yang menginginkan tontonan film yang liberal dengan karakter yang bebas dan modern, maka film ini menjadi salah satu tontonan film yang layak untuk kamu tonton. Ada banyak statement yang ditawarkan di film ini yang mengajak kita untuk merenung layaknya kita sedang mendengarkan seorang guru.

Akan tetapi guru tersebut tidak berusaha untuk menggurui kamu. Dapat dikatakan bahwa film ini adalah film yang memuaskan secara intelektual. Bagi kamu yang ingin menonton sinema tanpa melibatkan efek khusus mungkin film ini kurang tepat bagi kamu.

Berita Terkini:
krl menunggu penumpang
Bekasi Line: Jadwal dan Rute KRL Tambun Kampung Bandan
angkutan lebaran
Manajemen Operasional Berbasis Trafik akan Diterapkan Pengelola Bandara selama Musim Lebaran 2023
kelapa sawit indonesia
Dorongan OJK untuk Meningkatkan Akses Pendanaan bagi Petani Sawit
kasasi
Kejagung Akan Mengajukan Kasasi terkait Vonis Bebas Tragedi Kanjuruhan
wapres resmikan masjid istiqlal di jepang
Wapres Meresmikan Masjid Istiqlal di Jepang
mobil listrik tesla
Tesla Dikabarkan Akan Buka Kantor di Malaysia
iklan
Artikel Terkait:
review film “the help” (2011) perjuangan melawan diskriminasi dan etnosentrisme
Review Film “The Help” (2011): Perjuangan Melawan Diskriminasi dan Etnosentrisme
review film amerika liberal arts” (2012) hubungan antara mahasiswi dan lelaki paruh baya
Review Film Amerika “Liberal Arts” (2012): Hubungan antara Mahasiswi dan Lelaki Paruh Baya
review series conversations with friends
Review Series Conversations With Friends
review film amerika serikat “aftersun (2022)”
Review Film Amerika Serikat “Aftersun (2022)”
Mission Impossible Fallout Review
Review dan Sinopsis Mission Impossible 2018: Fallout
Saving Private Ryan
Saving Private Ryan: Film Perang yang Dinamis, Humanis dan Inspiratif
iklan
tmtimes logo 700x140

tmtimes.id, alias the Monkey Times, adalah portal web yang menyediakan artikel inspirasi, pemikiran dan motivasi, rekomendasi terbaik, informasi terkini, seni dan hiburan.

Bagikan artikel ini