Review Ocean Eleven (2001): ketika Penipu Berkelompok dengan Citarasa Berkelas

Imajinasi penipuan dan perampokan disajikan dengan cara berkelas? Cuma bisa terjadi di semesta Ocean Eleven garapan Steven Soderbergh.


Review Ocean Eleven

Brad Pitt beradu akting dengan George Clooney. (Foto: tangkapan layar MovieStation/Youtube)

Diterbitkan:

the Monkey Times – Menonton Ocean Eleven (2001) berarti menghabiskan waktu menikmati akting para bintang kelas satu. Mereka memainkan peran sebagai gerombolan penipu, komplotan perampok, dan sekelompok kriminal dengan citarasa kelas tinggi.

Tapi bagaimana pun sebaiknya Anda tidak membayangkan komplotan penipu di Ocean Eleven sebagai sekelompok penjahat brutal. Menurut kami mereka adalah sekelompok manusia yang membuat wajah dunia hitam jadi terlihat seolah-olah sesuatu yang legal dan bermartabat.

Dan kebetulan sekali Anda bisa menonton Ocean Eleven dengan terlebih dulu berlangganan Netflix.

Sinopsis Ocean Eleven (2001)

Danny Ocean (George Cloney) baru saja bebas bersyarat karena kasus perampokan. Dia kini terkena kewajiban wajib lapor dan dilarang keluar dari kota dimana dia tinggal.

Nalurinya sebagai seorang pro menuntunnya pada niat merampok tiga kasino besar di Las Vegas, dimana ketiganya dimiliki legenda Las Vegas, Terry Bennedict (Andy Garcia). Tapi merampok tiga kasino tersebut bukan perkara mudah dan jelas tidak bisa dilakukan seorang diri.

Danny kemudian berkeliling negara bagian, menemui Rusty Ryan (Brad Pitt) dan mengajaknya dalam misi sulit tersebut. Ditemani Rusty, Danny membentuk tim berisikan sepuluh penipu ulung dengan berbagai keahlian demi mensukseskan rencananya membobol tiga kasino milik Bennedict.

Seiring berjalannya waktu, Rusty menemukan fakta bahwa Danny tidak cuma berniat merampok kasino, melainkan mengembalikan sesuatu yang berharga di hidupnya. Diantara dilema memilih uang dan cinta, apakah sebelas orang itu berhasil dalam usaha perampokannya?

Review Ocean Eleven (2001)

Steven Soderbergh barangkali boleh dibilang sebagai sutradara yang harus bekerja keras ketika dia mesti mengumpulkan para bintang dalam satu layar lebar. Maksud kami, tidakkah Anda menyadari status kebintangan George Clooney yang pernah memenangkan dua Oscar? Atau kebintangan Brad Pitt yang menyandang status sebagai aktor seksi? Atau Matt Damon (yang di Ocean Eleven berperan sebagai Linus Caldwell) yang namanya diabadikan di atas Hollywood Walk of Fame?

Sederhananya, Ocean Eleven merupakan satu wadah sinematis dimana para bintang berkumpul demi menyajikan sebuah tontonan aksi penipuan dan perampokan yang bercitarasa tinggi.

Kami berani menyebutnya sebagai ‘bercitarasa tinggi’, tak lain karena Ocean Eleven menyajikan sekuen demi sekuen yang tidak lepas dari kehidupan mewah kaum jetset Amerika dengan segala macam tetek bengek kepemilikan benda-benda. Anggur, kemewahan dan gemerlap Las Vegas, hotel mewah, karya seni, villa kelas atas, dan segala macam tindak tanduk manusia kaya terkumpul dalam satu layar.

Tapi kurang menarik rasanya kalau Ocean Eleven kami sebut hanya sanggup menyajikan imajinasi kelas atas dari kehidupan yang penuh glamor dan kekayaan tanpa batas. Soderbergh mengajak kita menikmati celetukan ringan dan candaan dari masing-masing aktor yang memerankan karakternya masing-masing.

Di titik itulah kami cenderung tertarik pada olahan ramuan Soderbergh yang membuat strategi penipuan dan perampokan di Ocean Eleven jadi terlihat seolah-olah layaknya “karya seni”: penuh intrik dan strategi, elegan, rapi dan pastinya berharga mahal.

Penipuan di semesta Ocean Eleven jadi terkesan sebuah pekerjaan legal yang para pelakunya merupakan profesional di bidangnya. Dan kami senang melihat para penipu pun ternyata selalu bercanda dalam pekerjaannya!

Jadinya kami merekomendasikan film ini sebagai hiburan dengan nilai yang besar. Saking besar nilainya, kami tidak berharap apa yang dilakukan Danny dan kawan-kawan sebagai sesuatu yang realistis.

Ocean Eleven
8.3 / 10 Nilai dari kami
Naskah
Penokohan
Sinematografi
Jalan Cerita
Pendapat kami
Steven Soderbergh berhasil menjadikan aksi penipuan dan perampokan terlihat apik, elegan, penuh canda dan tawa.
Baca Juga:  Review 3 Idiots (2009): Mimpi Idealis Berbalut Komedi Romantis
Temukan artikel menarik lainnya di topik: film di netflix, review film manca

KOMENTAR

Demi etika berkomentar yang baik, segala macam komentar bernada kebencian, rasisme dan serangan terhadap keyakinan orang lain, akan dihapus. Kamu bisa menyimak bagaimana data komentar pembaca diproses, dengan mengeklik tautan berikut ini.

artikel Terkait

Artikel Terbaru