Review novel the Name of the Game

Novel karya Adelina Ayu ini tergolong ringan secara bahasa, namun punya bobot berlebih di dalamnya.


novel the name of the game

Oleh: Anggie Warsito

Diterbitkan:

the Monkey Times – Novel The Name of The Game (selanjutnya disingkat TNoTG) merupakan novel perdana garapan Adelina Ayu. Novel yang dirilis pada 2019 ini diangkat langsung dari cerbung berjudul sama yang digarap Adelina via akun Wattpad-nya.

Novel the Name of the Game mengisahkan tiga mahasiswa UI, yaitu Zio, Daryll, dan Flo. Zio dan Daryll adalah mahasiswa senior serta kawan sejak SMP yang satu kampus, namun berbeda jurusan. Sedangkan Flo adalah mahasiswa baru jurusan Sastra Prancis yang akrab dengan dua senior.

Ketiganya menjalin hubungan menarik yang kelak membawa mereka untuk memaknai sejumlah hal. Mulai dari persahabatan, cinta, hingga identitas diri.

Novel the Name of the Game: Mengambil Tiga Sudut Berbeda

Novel pada umumnya memakai sudut orang pertama (utamanya sudut pandang tokoh utama), atau sudut pandang ketiga alias sudut pandang si penulis. Hal itu tak berlaku di TNoTG.

Di novel the Name of the Game, Adelina memberikan sudut pandang langsung dari ketiga tokoh utamanya, yaitu ZIo, Daryll, dan Flo. Penggunaan tiga sudut pandang itu bikin novelnya terasa begitu menarik.

Kita pun jadi bisa lebih tahu sudut pandang ketiga tokohnya terhadap apa pun, baik terhadap tokoh-tokoh lain maupun terhadap diri sendiri.

Di antara ketiga tokoh itu, Zio bisa dibilang sebagai pusat semesta di TNoTG. Selain merupakan tokoh paling unik dan menonjol, Zio juga merupakan bagian dari isu penting yang hendak disentil lewat novel ini.

Ringan dan Kaya Akan Istilah-Istilah Menarik

Seperti sebagaian besar novel yang diangkat di Wattpad, gaya bahasa yang dipakai di TNoTG juga tergolong ringan dan mudah dimengerti. Hanya saja, novel ini punya isu penting yang hendak disentil, serta istilah-istilah menarik yang bikin dia beda dari novel kebanyakan.

Pada novel ini, kamu akan menemukan berbagai istilah bebencongan, serta berbagai nama tempat ikonik di UI. Istilah bebencongan sendiri dipakai lantaran Zio selaku tokoh utama adalah seorang pria lelaki feminin yang cukup paham tentang istilah di dunia perbencongan.

TNoTG juga dilengkapi dengan nama-nama tempat ikonik yang ada di Universitas Indonesia (UI). Semisal Tamtek, Lobby K, dan Jembatan Teksas. Bagi kamu yang kuliah di UI, nama-nama itu barangkali familiar di telingamu.

Bagi yang tidak, kamu mungkin akan sedikit kurang mudeng saat pertama kali membaca novel the Name of the Game. walaupun Adelina sudah memberikan catatan kaki untuk nama-nama tempat itu. Sekadar trivia, Adelina Ayu merupakan salah satu alumnus dari Universitas Indonesia.

Baca Juga:  Di Togamas, Saya Didekatkan kepada Rusdi Mathari

Menyentil Toxic Masculinity Secara Ringan Namun Ngena

Toxic masculinity adalah isu utama yang disentil Adelina di novel the Name of the Game. Sentilan yang dilancarkan Adelina sendiri tergolong halus namun tepat sasaran. Sentilan itu sendiri bisa muncul dari mana saja, termasuk dari Zio selaku pusat semesta TNoTG.

Zio sendiri merupakan seorang lelaki berkepribadian feminin yang suka wangi vanilla, hafal mati istilah bebencongan, cinta mati akan supermarket, pemakai lip balm yang setia, serta penonton setia The Kardashian Show.

Lewat Zio, kita akan merasakan bagaimana sulitnya menjadi lelaki feminin, di tengah masyarakat yang masih menuntut lelaki harus garang dan maskulin. Kesulitan itu bisa dilihat dari bagaimana beberapa orang di sekitar Zio dengan enaknya menghina ZIo sebagai bencong.

Sentilan terhadap toxic masculinity juga hadir dari percakapan dan kehidupan tokoh-tokoh lain. Flo misalnya. Di salah satu bab, Flo curhat ke Zio soal mengapa cewek tomboi dikatakan keren, sedangkan cowok feminin seperti ZIo justru dipandang aneh oleh masyarakat.

Contoh lainnya datang dari Darryl. Di salah satu bab, Daryll mengisahkan betapa sang ayah memaksanya untuk menjadikan dia sebagai lelaki maskulin pada umumnya, agar dia tidak seperti kakaknya yang doyan menggambar tokoh anime wanita. Bagi ayah Daryll, sang kakak dianggap sebagai seorang lelaki yang menyimpang.

Dalam hati terdalamnya, Daryll mengakui betapa irinya dia pada Zio yang berani menjadi dirinya sendiri, kendati banyak orang yang mencibir.

Daryll sendiri merupakan tipikal lelaki yang punya tampilan khas pria macho. Hal itu bisa dilihat dari kemeja flanell yang dia pakai, jam tangan G-Shock, punya motor gede, serta pakai sneakers-nya yang nyaris tak pernah dicuci.

Namun, di lain sisi, Darryl punya sisi feminin yang dia sembunyikan dari banyak orang. Semisal kecintaannya pada hewan, serta doyan serial Winnie The Pooh.

Salah satu sentilan favorit saya ada pada bagian adu mulut antara Flo dan Dello. Di bagian itu, Flo mencoba mematahkan argumentasi Dello yang bilang kalau lelaki feminin itu nggak laki dan bikin orang tuanya malu.

Adapun salah satu argumentasi Flo ke Dello yang menurut saya begitu mengena adalah:

“Lagian ya, Dell, cowok yang lo katain itu bukan ‘cowok kayak cewek’, tapi dia itu cowok PEMBERANI karena berani jadi dirinya sendiri”.

Cinta dan Persahabatan di Antara Zio, Daryll, dan Flo

Novel the Name of The Game tak sekadar berisi sentilan pada isu toxic masculinity saja. Novel setebal 331 halaman ini juga menyajikan kisah persahabatan dan asmara yang terjalin di antara ketiga tokoh utamanya.

Baca Juga:  Hidup itu Menyenangkan, Walau Kadang So So

Zio dan Daryll adalah sahabat sejak SMP yang tak akur-akur amat. Ketidakakuran mereka tak lepas dari sikap Zio yang selalu cemburu kepada Daryll. Di mata Zio, Daryll selalu bisa mendapatkan apa yang dia kejar tanpa banyak usaha. Entah itu prestasi akademik ataupun perhatian dari wanita.

Sialnya, Daryll yang dia benci justru sedang ditaksir oleh Flo. Mahasiswi baru jurusan Sastra Perancis yangsedang ditaksir oleh Zio.

Sementara Flo, adalah mahasiswi baru yang tak sengaja menjatuhkan buku yang ada di dalam tasnya. Beruntung, dia ditolong oleh seorang senior dari jurusan mesin, Daryll. Semenjak itu, nama Daryll pun tak lepas dari ingatan Flo.

Di waktu yang sama, Flo berjumpa dengan seorang Zio yang sempat dia anggap sebagai mahasiswa baru. Sebuah kesalahpahaman yang bikin dia mengenal sosok Zia, serta bikin ZIo jatuh hati pada Flo.

Rasa cemburu tapi sayang Zio ke Daryll, rasa suka Flo ke Daryll, dan rasa suka Zio ke Flo mewarnai hampir tiap bab dalam novel the Name of the Game TNoTG. Beriringan dengan sentilan toxic masculinity yang diselipkan secara rapi oleh Adelina. Jalinan sejumlah hal nantinya akan mengerucut kepada Flo yang harus memilih antara Daryll ataupun Zio.

Kejutan dari Shaien

Bila kamu membaca TnoTG sampai akhir, kamu bakal menemukan sebuah epilog mengejutkan. Epilog itu datang dari Shailendra. Tokoh yang akrab disapa Shaien itu merupakan teman akrab Zio dan Daryll yang lumayan sering muncul di hampir tiap bab TNoTG.

Di bagian epilog, Shaien menceritakan kegelisahannya soal keinginannya yang terpaksa dia relakan. Tidak tahu pasti apa keinginan yang dimaksud. Namun, usut punya usut, keinginan itu nantinya akan dijelaskan di novel terbaru Adelina Ayu, “Happu Ending Machine”.

Akhir kata, novel The Name of The Game adalah sebuah bacaan yang terasa enak diikuti. Dengan kata lain, karya ini tergolong beda ketimbang novel adaptasi Wattpad kebanyakan.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar buku, ulasan buku

Atau baca artikel lain yang ditulis: Anggie Warsito



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial