Review 3 Idiots (2009): Mimpi Idealis Berbalut Komedi Romantis

12 tahun berlalu, tapi 3 Idiots tetap menyenangkan ditonton sampai sekarang.


review 3 idiots

Cuplikan adegan di 3 Idiots.


Oleh: Movieaholic

Diterbitkan:

the Monkey Times – Ini bukan pertama kalinya kami menonton 3 Idiots. Tapi perasaan menyenangkan yang saya rasakan 12 tahun lalu – ketika menontonnya untuk pertama kali – tetap sama.

12 tahun lalu saya menonton 3 Idiots dengan cara menyewa CD dari rental film. Rental film memang terasa asing zaman sekarang. Era sudah berganti, rental film berubah wujud menjadi Netflix. Di situlah saya menonton 3 Idiots lagi untuk kedua kalinya.

Sinopsis 3 Idiots (2009)

Raju Rastogi (Sharman Joshi) dan Farhan Qureshi (R. Madhavan) memulai kehidupan mereka sebagai mahasiswa di Imperial College of Engineering (ICE) yang dikenal selalu ketat dalam hal menyeleksi mahasiswa baru.

Sebagai mahasiswa baru, dengan impian mendapat kerja bagus bergaji tinggi untuk memenuhi harapan orang tua masing-masing, Raju dan Farhan bertemu Ranchoddas ‘Rancho’ Shyamaldas Chanchad (Aamir Khan).

Di tengah kehidupan kampus yang masih menjalankan pola pendidikan konvensional, bagaimana cerita tiga orang yang kini menjalin persahabatan itu?

Review 3 Idiots: Idealisme berbalut komedi romantis

Sutradara 3 Idiots, Vidhu Vinod Chopra, memformulasikan sebuah narasi sinematis yang formulanya dibangun dengan cara sederhana, dan mungkin dekat dengan kehidupan kita pada umumnya.

Saya yakin kita semua pernah kuliah. Saya yakin kita semua pernah bertemu dosen killer di kampus. Dan saya yakin kita semua disibukkan dengan mencari jawaban untuk sebuah pertanyaan: kemana kita melangkah setelah kuliah.

3 Idiots menurut saya menyajikan itu semua dengan formula khas Bollywood, lengkap dengan musik dan tariannya. Dan dalam semesta film tersebut, Rancho ditonjolkan sebagai tokoh utama yang pemikirannya jauh melampaui dua sahabatnya, Raju dan Farhan.

Rancho dihidupkan sebagai salah satu dari tiga idiot yang unik. Mahasiswa pintar namun nakalnya setengah mati.

Raju ditonjolkan sebagai tokoh yang menempuh pendidikan teknik demi mendapat pekerjaan untuk mengangkat harkat keluarganya yang miskin.

Sementara Farhan beda cerita. Dia terpaksa kuliah di kampus teknik hanya karena ayahnya menghendaki dia menjadi seorang insinyur – keinginan yang bertolak belakang dengan cita-cita Farhan.

Beda Rancho, beda pula dua orang temannya. Rancho hidup sebagai mahasiswa yang kurang lebih “independen”. Dia seolah-olah dinarasikan sebagai seorang remaja yang tidak peduli bila suatu saat dia harus keluar dari ICE. Di benak Rancho, belajar merupakan kegiatan yang seharusnya tidak dikekang oleh formalitas birokrasi kampus. Dengan kata lain, belajar bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun, bahkan kalau perlu dilakukan sebagai siswa penyusup pun tidak masalah.

Baca Juga:  Review Film: the New Mutants

Dalam perbedaan pandangan Raju dan Farhan tentang alasan mereka kuliah, Rancho melihat kehidupan kampus sebagai sarana bagi dia untuk mengembangkan kecintaannya pada teknik.

Dengan kata lain, hidup yang sukses bagi Rancho bukan soal mendapat pekerjaan bagus dan gaji besar. Sukses bagi dia adalah ketika orang bisa belajar dan bekerja sesuai dengan gairahnya.

Walau ada perbendaan pandangan antara Rancho, Farhan dan Raju, toh ketiganya nyata diperlihatkan menjalin persahabatan. Posisi Rancho boleh dibilang hadir sebagai aktor “penyeimbang” yang terus-menerus berusaha mengubah pemikiran keduanya.

Sialnya Rancho belajar teknik di sebuah kampus dengan rektor yang masih konvensional dalam memandang sistem pendidikan. Si rektor, yang bernama Viru “Virus” Sahastrabuddhe (Boman Irani), adalah tipe pemimpin super disiplin.

“Virus” memandang persaingan sebagai sebuah situasi yang alamiah. Mahasiswa yang belajar di kampusnya didorong untuk berkompetisi, bertindak sesuai buku teori teknik, mendapat nilai baik, dan saling bersaing satu sama lain demi mendapat peringkat teratas. Dengan demikian usaha mereka nantinya akan diganjar pekerjaan yang baik.

Perbedaan pandangan antara “Virus” dengan Rancho itulah yang jadi sentra narasi, yang kemudian memperlihatkan kepada kita tegangan antara rektor universitas dengan mahasiswanya yang pintar namun nakal.

Babak demi babak dalam 3 Idiots memperlihatkan kepada kita tentang hidup tiga orang mahasiswa yang melalui waktunya di kampus dengan kenakalan demi kenakalan, dan dari satu masalah ke masalah lain. Jangan lupakan juga kisah asmara Rancho dan Pia Sahastrebuddhe (Kareena Kapoor), mahasiswi kedokteran yang merupakan putri “Virus”. Kisah asmara bak Romeo – Juliet itu menambah greget kelucuan 3 Idiots.

3 Idiots pada dasarnya merupakan film yang ringan. Menyenangkan untuk ditonton. Tipikal komedi romantis yang bisa kita tonton tanpa banyak berpikir. Cukup dinikmati saja.

Dan kalau kebetulan kamu adalah penggemar film India, rasanya selingan musikal dan joget di sana-sini bakal bisa diterima dengan baik.

3 Idiots
7 / 10 Nilai dari kami
Naskah
Penokohan
Sinematografi
Jalan Cerita
Pendapat kami
Karena 3 Idiots adalah film yang super ringan dan menghibur, jangan berharap di luar ekspektasi. Cukup nikmati sambil tiduran, sembari sesekali tertawa lepas.
Temukan artikel menarik lainnya di topik: film di netflix, rekomendasi film, review film manca

Atau baca artikel lain yang ditulis: Movieaholic

artikel Terkait

Terbanyak Dibaca


Artikel Terbaru