Permintaan Maaf yang Tertunda

Permintaan maaf memang tidak boleh ditunda-tunda. Meminta maaflah dengan dada yang lapang, dan perasaan yang lega.


permintaan maaf yang tertunda

Foto: Getty Images lewat Canva


Oleh: Pak Pos

Diterbitkan:

Masih pantaskah aku memanggilmu sebagai teman terbaikku? Meski aku selalu berbuat kesalahan kepadamu, tapi aku berharap kamu masih menganggapku sebagai teman terbaikmu.

Apakah kamu masih ingat semua kenangan indah kita saat sekolah terutama saat SMP? Ya memang, kita akrab dan menjadi teman dekat sejak SMP dan aku masih mengingatnya hingga sekarang.

Saat itu, aku dan kamu mengikuti pelatihan pramuka di sebuah pantai. Awalnya aku hanya mengenalmu sebagai teman biasa sejak TK, namun sejak saat itu kita mulai dekat dan memutuskan untuk berteman baik.

Mungkin banyak orang mengira tidak ada kemungkinan aku dan kamu bisa bertahan lama berteman hingga saat ini. Kalau dipikir-pikir aneh juga sih, tapi aku sangat menikmatinya.

Sejak itu, aku dan kamu mulai berbagi hal yang konyol dan mungkin bagi orang lain itu adalah hal yang norak. Tapi bagiku setiap kali gerakan dan ucapanmu selalu bisa membuat aku tertawa dengan lepas.

Aku masih ingat sekali, awal SMP kita beda kelas tetapi kita dipertemukan dan diakrabkan oleh organisasi di sekolah. Kamu selalu memberikan guyonan yang tak masuk akal kepadaku, tapi aku sangat menyukai itu.

Kita selalu kejar-kejaran karena hal yang biasa, selalu menyembunyikan sandal atau sepatu, menginjak salah satu kaki atau hal lainnya yang diluar dugaan.

Aneh memang, tapi hal-hal tersebutlah yang tidak bisa aku dapatkan saat ini. Jika aku melakukan semua hal itu sekarang, rasanya sudah berbeda karena tidak ada kamu yang menemaniku untuk melakukan semuanya itu.

Jika aku boleh jujur aku ingin sekali kembali di waktu itu, saat kita masih bermain dan melakukan hal-hal konyol bersama. Aku tak peduli jika harus jadi bahan perbincangan orang, asalkan aku masih tetap bersamamu untuk menghabiskan waktu.

Tetapi semuanya itu tak akan bisa terulang kembali, dan kini hanyalah sebuah kenangan semata. Aku hanya bisa mengingatnya sebagai kenangan terindahku selama masa-masa SMP.

Kemudian saat menginjak bangku SMA, kita sudah tidak satu sekolah kembali. Kamu memilih untuk bersekolah yang jaraknya lumayan jauh daripada satu sekolah lagi dengan aku.

Bukan tanpa alasan, aku tahu kamu melakukan itu agar kamu bisa berkembang. Karena selama ini kamu selalu menjadi bahan bully-an teman teman karena kekuranganmu.

Padahal kamu sendiri memiliki sebuah kemampuan dibandingkan dengan yang lainnya.

Baca Juga:  Untukmu yang Selalu Merahasiakanku, Kemudian Pergi Tanpa Pamit

Awalnya aku kaget, karena kita akan berpisah selama masa SMA. Dan aku berpikir sudah tak ada lagi teman yang bisa membuatku tertawa dengan lepas, yang bisa membuatku bertingkah konyol, dan yang selalu mengingatkanku apabila aku berbuat salah.

Salah satu kenangan yang aku dapatkan darimu hanyalah foto ujian nasional saja. Ya, disaat ujian nasional kita saling tukar foto sebagai kenang-kenangan.

Memang benar kata orang, tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Kamu mulai mengungkapkan perasaanmu kepadaku saat menginjak SMA.

Jujur aku sangat tidak menyangka itu, kamu teman terbaikku telah menyukaiku sejak SMP. Bisa dibilang aku sangat egois, aku menolakmu dengan alasan bahwa hubungan percintaan tidak akan bisa awet atau tahan lama daripada hubungan pertemanan.

Tetapi saat dia mengungkapkan perasaan itu, ada rasa senang juga di hatiku. Tapi setelah aku pikir-pikir ternyata perasaan senang itu bukan berasal dari aku menyukainya juga.

Melainkan aku hanya menyukai dan menyayanginya sebatas teman saja dan aku tidak mau kehilangan teman terbaikku ini gara-gara hubungan percintaan semata.

Namun ternyata aku sangatlah munafik, saat menginjak bangku perkuliahan aku menerimanya untuk jadi kekasihku.

Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, hanya saja saat itu aku sedang berada dalam kondisi patah hati dan sedang membutuhkan teman untuk menemaniku.

Padahal sebenarnya perasaan cinta sedikitpun tidak ada, sungguh munafik sekali aku! Aku tau perasaanmu saat aku menerimamu, pastinya kamu sangat bahagia mendengar pengakuanku.

Pada saat itu, aku hanya berpikir suatu saat nanti saat kita sama-sama pastinya aku akan mulai menyukaimu.

Tapi ternyata tidak! Perasaanku tetap tak bisa dibohongi, di bulan kelima aku mencampakkanmu. Ini pengalaman pertamaku mencampakan seseorang. Aku merasa sangat bersalah sekali padamu.

Aku hanya berharap kamu tidak akan memaafkanku meski aku sudah memohonnya berulang kali. Aku hanya tidak mau kamu akan merasakan sakit hati kesekian kalinya.

Kelapangan dada mu membuat aku merasa sangat berdosa telah melakukan ini semua. Kamu masih mau memaafkanku dan berteman baik denganku.

Tetapi kesalahanku saat itu akan tetap menjadi dosa besar ku terhadapmu yang tak ingin ku ulangi kesekian kalinya.

Tolong kamu tetap menjadi teman terbaikku yang selalu ada disaat terpuruk, serta yang selalu menemaniku di saat aku sedang membutuhkanmu.

Karena posisimu di hatiku akan selalu ada dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Kamu akan jadi teman terbaikku selamanya meski kita sudah berada di jalan yang berbeda dan di kehidupan yang berbeda.

Baca Juga:  Sepucuk Surat Untuk Pujaan Hati

Terimakasih atas kebaikan dan kesabaranmu kepadaku selama ini. Maafkan aku jika selalu memanfaatkanmu untuk keperluanku semata, maafkan keegoisan ini. Tolong maafkan..

Temukan artikel menarik lainnya di topik: kabar belakang

Atau baca artikel lain yang ditulis: Pak Pos


Artikel Terkait



Terbanyak Dibaca



Artikel Terbaru