Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

stafsus millenial
stafsus millenial

Narasi

Stafsus Millenial Pamit: Kapitalisme yang Melampaui Kesempatan Belajar Tata Kelola Pemerintahan

Stafsus millenial, nasibmu kini. Sudah dihujat warga net, ditantang debat. Eh sekarang mundur dari jabatan. Tapi yah, untung PT-nya masih jalan.

Menerima perundungan. Akhirnya “dipaksa” mengundurkan diri karena keadaan. Kayaknya itu jadi kata-kata paling pas buat menggambarkan nasib stafsus millenial di tengah kritisnya warga net budiman.

  • Adamas Belva Syah Devara akhirnya mengundurkan diri sebagai stafsus millenial Jokowi.
  • Kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, mundurnya Belva bukan karena polemik Ruangguru dan Kartu Pekerja.
  • Ketika dilantik sebagai Stafsus Presiden Jokowi, Belva dan keenam rekannya diharapkan berkontribusi dengan gagasan-gagasan inovatif dan kreatif.

Rasanya sulit menjadi seorang pejabat publik, apalagi kalau kadung dianggap sebagai representatif paling sahih dari generasinya.

Kasus Belva yang mencuat akhir-akhir ini jadi pembuktian betapa tidak mengenakkannya mengemban jabatan Staf Khusus. Malah jabatan itu bisa jadi memberi beban psikologis teramat berat bagi si staf, yang notabene lahir sebagai generasi kekinian melek media sosial.

Belva dianggap terjebak dalam mata rantai konflik kepentingan akibat perusahaan rintisan miliknya, Ruangguru, tercatat sebagai salah satu penyedia layanan kursus bagi penerima kartu pra kerja.

Meski begitu, pemerintah lewat Sekretaris Kabinet Pramono Anung mati-matian membantah isu konflik kepentingan pada konteks terpilihnya Ruangguru itu.

Lebih jauh lagi, Anung mengatakan bahwa Presiden Jokowi memang ingin anak-anak muda seperti Belva bergabung dalam pemerintahan. Mengutip Detik, Anung beralasan dengan begitu mereka bisa mendapat ruang belajar terkait tata kelola pemerintahan.

Presiden Jokowi dulu memang terkesan sangat antusias dengan tujuh stafsus millenial yang dia lantik pada November 2019.

Mereka digadang-gadang sebagai kumpulan individu yang diharapkan mampu memberikan terobosan dan inovasi demi kemajuan negara.

“Iya saya ingin ada inovasi, ada gagasan, ada ide baru, ada terobosan baru sehingga memudahkan kita dalam mengelola negara ini sehingga golnya ke sana,” kata Jokowi pada 21 November 2019 sebagaimana dikutip Merdeka.

Stafsus millenial: lahir dari rahim kapitalisme paling tulen

Semua stafsus millenial Presiden Jokowi mau tidak mau mesti dipandang sebagai sosok-sosok elit. Kebanyakan dari mereka mengenyam pendidikan di kampus dengan reputasi mentereng. Mulai dari Harvard University sampai Universitas Negeri Jakarta, sejarah almameter tujuh stafsus milenial tak pernah luput disebutkan.

Reputasi itulah yang sering menyertai penyebutan nama mereka di sejumlah profil stafsus yang hari ini mudah kita temukan di sejumlah media daring, dengan judul-judul konten yang terkesan hiperbol juga.

CNBC Indonesia, misalnya, pernah menulis konten menggelitik tentang 7 pemuda yang mengguncang istana, yang kemudian mengingatkan kami pada ujaran Soekarno yang dulu ketika masih hidup pernah sesumbar bahwa beliau membutuhkan 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia.

Kami bukannya sinis dengan pencantuman asal kampus stafsus millenial. Mau gimana juga, penyebutan tingkat pendidikan serta almamater mereka justru menunjukkan betapa pentingnya modal sosial, pendidikan dan kultural di jaman kiwari.

Tanpa itu semua, mana mau sih Presiden Jokowi menjadikan mereka stafsus?

Tapi lebih dari sekadar penyebutan almameter dan status sosial-kultural para stafsus di tengah masyarakat itu, kita semua mesti mengikutsertakan konteks lain dimana para stafsus millenial itu lahir dari rahim kapitalisme paling tulen ala Facebook, Apple, Microsoft, Google, dan Amazon (FAMGA).

Mengutip artikel The Future of Capitalism: Technological Progress, Block Chains, and Karl Marx yang ditulis Martin Lausegger, kapitalisme kekinian memang nggak bisa dilepaskan dari pertumbuhan teknologi yang secara ajaib melahirkan akumulasi kekayaan yang masif dan situasi pasar dimana pemenang mengambil semuanya. Contoh konkritnya terlihat dari jumlah cadangan uang tunai Apple Inc., yang mencapai $250 triliun pada 2017.

Sederhananya, kuasailah teknologi, buatlah perusahaan berbasis teknologi, dan kamu bisa mengakumulasikan kekayaanmu dari situ.

Begitulah cara kapitalisme kekinian bekerja. Sialnya kita nggak bisa menolak kenyataan itu. Karena toh kapitalisme kekinian memunculkan inovasi teknologi yang pada gilirannya ikut mengubah cara hidup masyarakat.

Belva, dan mungkin ratusan generasi millenial lain yang sangat sadar ‘startup’ itu mungkin sadar bahwa kondisi zaman kiwari dan kapitalismenya nggak pernah berjarak dari teknologi.

Tujuh tahun lalu Lisa Curtis pernah menulis artikel berjudul The Millenial Startup Revolution, yang mengingatkan kita pada “revolusi”, dimana satu diantara lima millenial meninggalkan pekerjaannya untuk kemudian merintis bisnis mereka sendiri.

Fenomena itu terus terjadi walaupun Curtis juga membeberkan fakta bahwa tiga perempat perusahaan rintisan yang menerima suntikan pendanaan gagal mengembalikan investasi yang diberikan venture capital.

Masih mengutip artikel yang sama, millenial yang mendirikan perusahaan rintisan melakukan itu karena memang mudah dilakukan di era internet seperti sekarang. Siapa sih yang meragukan fakta betapa gampangnya kita semua merintis sesuatu, cuma dengan berbekal hosting dan beli domain?

Dan yang paling penting, menurut Curtis di kalangan millenial terbit semacam keengganan menggantungkan diri pada pemerintah. Pada gilirannya, millenial macam itu akhirnya membangun solusi sendiri untuk setiap permasalahan yang dianggap penting.

Untuk konteks Indonesia, keengganan menggantungkan diri pada pemerintah kurang bisa diterima sebagai alasan menjamurnya perusahaan rintisan berbasis teknologi yang dirintis para millenial.

Toh nyatanya pemerintah dianggap sebagai aktor sentris yang masih perlu digandeng. Lagipula kita semua kan bisa melihat fakta tentang rasa bangga tujuh pengusaha millenial ketika diangkat jadi stafsus Jokowi di Istana Negara.

Melampaui pembelajaran soal tata kelola pemerintahan

Kapitalisme zaman kiwari, apalagi kalau bicara tentang perusahaan rintisan berbasis teknologi, tak pernah lapas dari valuasi. Istilah ini cukup rumit dan pada dasarnya merujuk pada proses penilaian yang tidak pernah lempang-lempang saja, tetapi berpengaruh besar pada besaran kapital yang diperoleh pada sesi penggalangan dana.

Ambil contoh paling gamblang perusahaan rintisan yang dikelola mantan stafsus Adamas Belva Syah Devara, Ruangguru.

Tahun lalu situs berita Katadata memprediksi valuasi Ruangguru yang akan mencapai nilai Rp7 triliun bila penggalangan dana seri-C sebesar $150 juta (atau sekitar Rp1,4 triliun) berhasil dilakukan. Dan mereka berhasil.

Setidaknya berdasarkan basis data Crunchbase, Ruangguru dicantumkan menerima pendanaan sebesar $150 juta pada 26 Desember 2019. Masih menurut sumber yang sama, EV Growth, GGV Capital dan General Atlantic adalah tiga investor yang menanamkan kapitalnya pada perusahaan milik Belva itu.

Pertanyaannya: bagaimana prosesnya sampai Ruangguru bisa menggalang dana sedemikian besar?

Situs Startups merinci karakteristik perusahaan yang melakukan penggalangan dana seri-C, yang biasanya merupakan perusahaan yang siap melakukan ekspansi, mengakuisisi bisnis lain, atau mengembangkan produk baru.

Yang paling memungkinkan adalah melakukan ekspansi. Berdasarkan laporan Tech in Asia Indonesia, Ruangguru dikabarkan siap menggunakan dana segar itu untuk mengembangkan aneka produk pendidikan di Indonesia dan negara Vietnam.

Di masa depan tampaknya kita bakal melihat tumbuhnya gurita kapitalisme berbasis tech dalam wujud Ruangguru. Ironisnya, tanpa belajar soal tata kelola pemerintahan pun, Belva dan Ruangguru-nya bisa melakukannya dengan mulus.

Pertanyaannya, siapa yang paling diuntungkan oleh kapitalisme kekinian ala FAMGA, pemerintah atau millenial calon milyader itu?

Baca Juga:

Artikel Menarik Lain