Connect with us

Hi, what are you looking for?

Internasional

Nasib industri Penerbangan: Dari jualan Piyama sampai terbang ke Antartika

Situasi industri penerbangan yang belum membaik memaksa beberapa maskapai internasional untuk bertahan hidup dengan menjual apa saja.

ilustrasi pesawat terparkir.
Ilustrasi pesawat terparkir di bandara. (Foto: Getty Images/Canva)

the Monkey TimesPandemi memukul lebih banyak pihak. Pembatasan mobilitas dan keengganan orang bepergian jauh-jauh membuat pusing pelaku industri, tidak terkecuali industri penerbangan.

Laporan International Air Transport Association (IATA) menyebut industri penerbangan mengalami penurunan pendapatan sebesar $419 miliar. Turun 50 persen dibanding jumlah pendapatan setahun sebelumnya yang mencapai $838 miliar.

Lebih jauh lagi, IATA mencatat estimasi kehilangan pendapatan bagi pelaku industri penerbangan mencapai $84.3 miliar di 2020, yang berarti terjadi kehilangan pendapatan sebesar minus 20,1 persen.

WilayahPermintaan PenumpangKapasitas PenumpangNet Profit (dalam miliar dollar)
Global-54.70%-40.40%-84.3
Amerika Utara-52.60%​-35.2%-23.1
Eropa-56.40%-42.90%-21.5
Asia Pasifik-53.80%
​-39.2%
-29
Timur Tengah-56.10%​-46.1%-4.8
Amerika Latin-57.40%-43.30%-4
Afrika-58.50%-50.40%-2

Laporan bulanan IATA yang berjudul Domestic markets dominated the recovery for another month (PDF) mencatat sejumlah kecil peningkatan permintaan penerbangan domestik di bulan Agustus 2020, terutama di negara-negara yang mencatat penurunan kasus corona seperti di Korea Selatan, Jepang dan Vietnam.

Di sejumlah negara yang kasus coronanya menunjukkan grafik penurunan, angka permintaan penerbangan domestik terkontraksi minus 50,9 persen secara year-on-year. Angka ini sedikit lebih baik ketimbang kontraksi bulan Juli yang tercatat sebesar minus 56,9 persen.

Walau begitu, laporan yang sama mencatat permintaan penerbangan internasional tetap rendah, alias terkontraksi sebesar minus 88,3 persen secara year-on-year.

Infografis nasib industri penerbangan.
Nasib industri penerbangan global. Grafis: Ika

Strategi bertahan maskapai: jual apa saja yang ada

Tapi toh kenaikan permintaan penerbangan domestik tidak menutupi fakta bahwa industri penerbangan menjadi satu bidang yang terpukul keras oleh pandemi.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, banyak maskapai penerbangan yang rela menjual apa saja demi bertahan hidup di tengah pandemi; entah itu dengan menjual piyama, kacang-kacangan, sampai menjual paket penerbangan ke antartika.

Baca Juga: Otoritas Pengawas Penerbangan Amerika mencabut larangan Terbang Boeing 737 Max

Yang dilakukan Qantas

Qantas Airways adalah salah satunya. Maskapai yang berbasis di Australia itu – dan kabarnya takkan menjual penerbangan internasional, setidaknya sampai pertengahan 2021 – dilaporkan menyewakan salah satu pesawat Boeing Dreamliners yang mereka punya untuk rute penerbangan ke Antartika.

Jadi siapa saja yang berminat boleh menyewa pesawat tersebut, lengkap dengan krunya, dengan kuota penerbangan sebanyak tujuh kali di antara bulan November 2020 sampai Februari 2021. Harganya? Sekitar $5,850 atau sekitar Rp 85,8 juta untuk kursi kelas bisnis lengkap dengan layanannya.

Maskapai yang sama bahkan berencana menjual bagian interior kabin pesawat Boeing 747 – yang terpaksa pensiun dini karena krisis corona. Mengutip Al Jazeera lagi, mereka mungkin bakal menjual meja yang biasa digunakan di kelas satu.

Qantas bahkan sempat menjual 10,000 piyama paketan – plus krim tangan, kantong teh, biskuit coklat dan almond asap – secara daring, dengan harga A$25, atau sekitar Rp 265,724, hanya dalam waktu beberapa jam.

Dalam kondisi normal, piyama bikinan Qantas itu normalnya hanya diberikan untuk penumpang kelas premium yang duduk di baris kursi terdepan.

Terbang entah kemana

Di Jepang, Ana Holdings Inc. sempat menjual 300 tiket penerbangan entah kemana, dimana seluruh penumpang menikmati kesempatan terbang dalam suasana ala liburan-ke-Hawai di atas Airbus SE A380, yang di masa normal sering melayani rute Tokyo – Honolulu.

Yang dijual Ana Holdings Inc. bukan kemana pesawat akan mendarat, melainkan sensasi di atas kabin. Selama 90 menit waktu penerbangan, kru mengenakan topeng dan kaos ala Hawai dan memberikan koktail kepada semua penumpang.

Jualan sayur dan buah-buahan

Kegiatan niaga ini dilakukan pionir penerbangan berbiaya rendah asal Malaysia, Air Asia. Setelah mencatat rekor kerugian di bulan Agustus 2020, mereka membangun platform e-commerce untuk berjualan sayur dan buah-buahan.

Platform tersebut bernama Ourfarm yang dibangun untuk menghubungkan petani Malaysia dengan sejumlah supermarket, restoran dan hotel.

Siapa pun bisa menemukan berbagai jenis sayuran dan buah-buahan di Ourfarm, mulai dari pak choi sampai kentang. Nanas dan bahkan daging ayam juga ada.

Bila industri penerbangan diibaratkan seperti manusia biasa, mereka pun akan melakukan apapun untuk bertahan di tengah situasi tidak pasti.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Hai Indonesia

Bank Indonesia mempublikasikan informasi tentang jumlah uang beredar pada Februari 2021. Hasilnya tetap tinggi walaupun ekonomi sedang dihantam pandemi.

Hai Indonesia

Prestasi yang tergolong membanggakan, sebab Purwakarta bukan Kabupaten yang dikenal sebagai penghasil padi.

Hai Indonesia

Menurut Mandiri Institute, kunci pemulihan ekonomi ada di kembalinya mobilitas dan kelas menengah atas yang tidak lagi menahan belanja.

Internasional

Kalau kamu berpikir Honda adalah sebuah nama merek mobil atau motor yang merajai jalanan Indonesia, maka kamu salah. Honda juga adalah nama yang melekat...

Mau Tahu Donk

Bila Anda berniat pergi dari Cileungsi ke Bandung, ini dia beberapa opsi transportasi yang tersedia, termasuk bus antarkota.

Politik dan Keamanan

Transparency International sempat menerbitkan laporan analisis negara-negara terkorup di dunia. Indonesia berada di mana?

Ekonomi

Filipina jadi negara utama tujuan ekspor mobil dari Indonesia.

Hai Indonesia

the Monkey Times – Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) hari ini (Kamis, 3/12/2020) dilaksanakan secara virtual. Dan hasilnya BI memaparkan perlunya stimulus untuk 14...