Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hai Indonesia

Minuman Fermentasi di Indonesia berakar dari Tradisi

Keberadaan minuman fermentasi di Indonesia mungkin dianggap sebagai ‘anak haram’ kebudayaan bagi sebagian kalangan

minuman-fermentasi
Ilustrasi minuman fermentasi. (Foto: Getty Images lewat Canva)

the Monkey Times – Walau dinyatakan haram bagi penganut agama tertentu, minuman fermentasi (yang memabukkan) kadung dianggap sebagai bagian sah dari budaya sebagian masyarakat di Indonesia

Bila minuman fermentasi “modern” merujuk pada proses pembuatannya yang melibatkan mesin-mesin modern, minuman fermentasi khas Indonesia lebih sering diproses secara tradisional.

Beberapa suku bangsa yang mendiami bumi nusantara ini melestarikannya, sekaligus mengintegrasikan minuman fermentasi sebagai bagian dari hidup sehari-hari.

Bangsa Batak, misalnya, mengenal tuak, minuman fermentasi yang disadap dari pohon kelapa atau pohon enau. Tuak bukan cuma minuman, melainkan jadi bagian sah kebudayaan Bangsa Batak.

“Berbagai acara adat orang Batak mewajibkan pihak tertentu yang menyertai acara tersebut untuk memberikan ‘pasi tuak na tonggi‘ (untuk membeli tuak yang manis),” tulis Walter Sirait dan O Sitohang dalam buku Pemikiran tentang Batak setelah 150 tahun agama Kristen di Sumatera Utara (Penerbit Obor, hlm. 169).

Sembari menulis fakta tersebut, Sirait dan Sitohang tegas menyatakan tuak sebagai minuman yang memegang peranan penting dalam kehidupan bangsa Batak.

Peranan penting tuak dilihat dari fungsi tuak yang meluas, yang bagi bangsa Batak juga berfungsi untuk melepas dahaga dan menambah tenaga, memperbanyak produksi Air Susu Ibu (ASI) serta sifatnya yang bisa dimasak jadi gula aren. (Hlm. 170).

Lain Batak, lain orang Sulawesi Selatan. Yang disebut terakhir ini mengenal Ballo, minuman fermentasi yang dipercaya mengandung khasiat khusus.

Seturut catatan Eko Rusdianto (Lokadata), Ballo merupakan minuman penting, setidaknya bagi warga Sulawesi Selatan yang tinggal di Kajang, Seko, Luwu, Palopo, Enrekang, dan Toraja. Ia sejenis minuman yang kastanya setara dengan tuak bagi Bangsa Batak. Hanya saja bahan baku Aren utamanya diambil dari pohon Aren.

Pohon Aren – demikian juga turunannya seperti Ballo – bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan merupakan penanda yang melewati kelas sosial. Tidak peduli apakah seseorang disana berstatus sebagai tetua adat atau masyarakat biasa, mereka meminum Ballo dari pohon Aren yang sama.

Saking cairnya status Ballo sebagai perekat kelas sosial, minuman itu tersaji dalam berbagai ritual adat, entah itu perkawinan, kelahiran, sampai perkawinan.

Masih mengutip Eko, minuman seperti Ballo di Sulawesi Selatan dipakai untuk menemani para tetua adat mengobrol mencari kesepakatan. Lebih jauh lagi, ia menandai perayaan, dan juga dipercaya memberikan energi bagi tubuh.

Sama halnya seperti Bangsa Batak yang mensahkan tuak sebagai bagian dari adat, orang-orang Sulawesi Selatan memperlakukan Ballo sebagai bagian sah tradisi. Lebih dari itu, membuat dan menjual Ballo sekaligus juga dianggap profesi. “Membuat minuman (fermentasi -red) adalah tradisi yang sangat umum dikenal di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Luwu maupun Toraja,” tulis Fadly Bahri dalam bukunya Kebenaran dari Timur (Hlm. 239).

Dari waktu ke waktu, keberadaan minuman fermentasi di Indonesia mungkin dianggap sebagai ‘anak haram’ kebudayaan bagi sebagian kalangan. Namun toh kita tidak bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dipaksa hilang begitu saja, mengingat ia kadung jadi bagian dari sejarah hidup suku bangsa tertentu di Indonesia.

Rekomendasi Artikel

Otomotif

Volvo memperkenalkan sedan S60 generasi ketiga, yang menantang keberadaan BMW Seri 3 dan Mercedes Benz S-Class.

Sepakbola Inggris

Liverpool mengalami kesialan kala bertandang ke markas Brighton, yang berhasil menahan imbang anak asuhan Jurgen Klopp dengan skor 1-1.

Surat

Surat ini kutujukan untuk pujaan hati. Aku memujamu setiap saat. Sampai-sampai semuanya terasa begitu indah.

Surat

Surat ini kutujukan untuk sosok istimewa. Ayah yang kuingat sebagai seorang sosok pekerja keras yang rela berkorban untuk keluarga.