Penulis: Anggie Warsito

Paul Dano: Dari Panggung Broadway ke Layar Lebar

Karier Paul Dano di layar lebar agak mirip dengan Philip Seymor Hoffman.

the Monkey Times – “The Batman” yang sedianya rilis tahun lalu akhirnya resmi dirilis di awal Maret tahun ini. Puja-puji pun datang dari berbagai kalangan. Tak hanya kepada Matt Reeves selaku sutradara, apresiasi pun juga diberikan kepada para aktor yang ada di dalamnya.

Robert Pattinson menjadi aktor yang paling disorot berkat penampilannya sebagai sang vigilante. Namun, Pattinson yang akan kita bahas disini, melainkan salah satu scene stealer “The Batman”, Paul Dano.

Aktor berzodiak Gemini ini tampil menawan sebagai sosok The Riddle, sang villain yang mengancam lewat teka-tekinya. Dano dianggap mampu meneruskan keberhasilan para pemeran The Riddler sebelumnya.

Saat menulis naskah “The Batman”, Matt Reeves sudah sedari awal memproyeksikan peran The Riddler untuk Paul Dano. Keputusan itu ia ambil setelah melihat akting Dano sebagai Brian Wilson di film”Love & Mercy” (2014).

“Karakter itu (Brian Wilson, -pen) terjebak dalam seninya dan ia berjuang untuk bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Hal itu secara spiritual terhubung dengan gagasan isolasi yang dirasakan Riddler.

Ia (The Riddler,-pen) adalah produk zaman kita, di mana kini orang-orang lebih banyak melakukan aktivitas online dan mengurangi aktivitas fisik. Saya tak ingin The Riddler terlihat sebagai sosok tipikal villain pada umumnya dan Paul Dano saya rasa mampu memberikan kedalaman pada tokoh tersebut,” ujarnya pada Hollywood Reporter.

Berawal dari Panggung Broadway

Sebelum jadi aktor layar lebar, Dano mulanya adalah aktor panggung broadway. Debutnya sendiri dimulai di usia 12 tahun. Usai mencicipi panggung broadway, Dano pun mendapat kesempatan menjajal akting di layar TV lewat sitcom bertajuk “Smart Guy” (1998).

Dua tahun setelahnya, Dano pun akhirnya masuk ke layar lebar lewat film “The Newcomers” (2000). Peran yang ia mainkan di film itu bukanlah peran krusial, namun hal itu cukup memberi pengalaman tersendiri bagi Dano. 2001, peran utama pun didapatkan Dano lewat film “L.I.E” (2001).

Spesialis Supporting Role

Karier Dano di layar lebar agak mirip dengan Philip Seymor Hoffman, dimana keduanya lebih banyak mendapatkan peran supporting role kedimbang pemeran utama. Walau begitu, bukan berarti Dano tak mampu menampilkan performa terbaiknya.

Banyak sudah tokoh-tokoh supporting role Paul Dano yang dianggap mampu steal the show. Mulai dari Eli Sunday di film “There Will Be Blood” garapan Paul Thomas Anderson, sampai Alex Jones di “Prisoners” (2013) yang bikin Dano mencuat di antara Jake Gyllenhaal dan Hugh Jackman. Yang terbaru tentu saja The Riddler pada film “The Batman” (2022).

Argumentasi di atas selaras dengan pernyataan Emma Brockes di The Guardian, yaitu “Sebagai seorang aktor, Paul Dano mampu membawa bobot pada naskah tertipis. Ia tak memiliki banyak peran utama. Tapi, bagi para moviegoers, aktingnya secara instan mudah dikenal dan diakui.”

Emma pun menambahkan kalau Paul Dano punya kelebihan dari segi body language. “Ia memiliki semacam bahasa tubuh yang berbicara sebelum ia melakukannya. Di layar, Dano ia sering terpelintir, memiring, membungkuk, maupun berderak secara instan dan mendalam,” ujar sang jurnalis.

Multi Talenta

Selain akting, Dano pun juga punya talenta di beberapa bidang, baik di ranah perfilman maupun musik. Di film, ia telah melebarkan talentanya dari seorang aktor menjadi sutradara cum produser. “Wildlife” (2018) adalah contoh film yang digarap langsung oleh sang aktor.

Di musik, aktor kelahiran 19 Juni 1984 ini sempat aktif bersama grup musik bernama Mook. Di grup musik bergenre jazz eksperimental itu, Dano berperan sebagai frontman sekaligus gitaris.

Menyoal Mook, Bong Joon ho punya pengalaman personal terhadap band tersebut. Ia melihat band besutan Paul Dano itu di suatu show di Brooklyn. Dari situ, ia pun menulis part khusus di film “Okja” (2017) yang ia persembahkan untuk Dano.