Paolo Rossi dan Cercaan untuk Italia di Piala Dunia 1982

Media Italia dan timnasnya tidak pernah akur selama Piala Dunia 1982 berlangsung.


paolo rossi

Paolo Rossi mencium trofi Piala Dunia 1982. (Foto: STF/ AFP Photo /UPI)


Oleh: Bola

Diterbitkan:

the Monkey Times – Dalam sejarah Piala Dunia, tahun 1982 agaknya perlu diingat dengan baik. Bukan karena masa itu menandai kali pertama adu penalti diperkenalkan di ajang piala dunia.

Bukan juga karena tahun itu menandai penambahan peserta piala dunia; dari yang semula 16 tim kemudian ditambah jadi 24 tim – memungkinkan negara-negara dari Afrika dan Asia ikut serta.

Dua-duanya penting, namun penggemar timnas Italia mungkin mengingat dua hal berbeda yang saling bertautan: keberadaan Paolo Rossi di timnas Italia.

Bagi penggemar timnas Italia, Rossi pertama-tama diingat sebagai punggawa vital tim di ajang Piala Dunia 1982. Syahdan, waktu itu Italia jadi juara dunia dengan mengalahkan Jerman Barat 3-1 pada pertandingan final di Stadion Santiago Bernabeu.

Diatas tinta emas sejarah piala dunia, nama Rossi didaulat jadi top skorer dengan enam gol, sekaligus jadi pemain terbaik Piala Dunia 1982.

Walau begitu kematiannya pada 9 Desember silam tidak memancing simpati dalam kadar yang sama seperti ketika dunia berbelasungkawa untuk Maradona. Mungkin benar ketika Rossi disebut-sebut sebagai seorang figur pemain yang dilupakan banyak orang, terutama di luar Italia, tulis Indian Express.

Skandal dan kontroversi

Paolo Rossi mencetak gol di menit ke-57. Disusul kemudian Marco Tardelli (69) dan Alessandro Altobelli (81). Jerman Barat hanya sanggup membalas lewat kaki Paul Breitner pada menit ke-81.

Tapi toh final Piala Dunia 1982 bukan cuma soal gol Rossi di final, melainkan keraguan yang muncul – salah satunya – disebabkan kontroversi terpilihnya Rossi ke dalam skuad Italia.

Laman SI Soccer menulis episode Rossi di 1982 sebagai momen kontroversial. Dua tahun sebelumnya dia didakwa terlibat skandal pengaturan skor di atas meja judi, yang kemudian menyebabkan turunnya titah larangan bermain selama dua tahun bagi penyerang yang waktu itu membela Juventus dan sudah dilabeli predikat pemain termahal dunia.

Rossi bersikeras tidak bersalah atas dakwaan tersebut, meski pembelaan dirinya tetap tidak mengubah keputusan bahwa dia tidak ikut membela Italia di Piala Eropa 1980.

Nama Rossi pun takkan ada di daftar skuad Italia andai larangannya tidak dicabut sebulan sebelum Piala Dunia 1982 dimulai.

Di titik inilah keraguan muncul, persisnya ketika pelatih Italia, Enzo Bearzot, menyertakan Rossi ke dalam skuad. Bisa apa pemain yang sudah dua tahun absen di ajang sepakbola tertinggi?

Baca Juga:  Di Grup A Liga Champions: Bayern hentikan Determinasi Lokomotiv Moskva

Keraguan banyak orang terbukti ketika Rossi gagal mencetak gol di fase penyisihan grup pertama Piala Dunia – dimana Italia bermain tiga kali dan meraih hasil imbang dalam tiga pertandingan.

Dalam situasi macam itu, tentu banyak orang yang meragukan kapasitas Rossi sebagai ujung tombak tim.

Untuk memberikan lebih banyak konteks situasi tersebut, kita perlu melihat apa yang terjadi pada fase pertama penyisihan grup Piala Dunia 1982 – yang sebetulnya memang bukan momen yang ramah bagi Italia.

Italia yang berada satu grup dengan Polandia, Peru dan Kamerun gagal menunjukkan tajinya – mereka hanya meraih tiga hasil imbang dalam tiga matchday melawan tim yang secara kasta lebih inferior.

Walhasil, cercaan datang bertubi-tubi dari media seantero Italia, bahkan dari mulut Presiden Italia waktu itu, Antonio Mataresse. Dia menumpahkan segenap negativitas ketika Italia ditahan imbang 1-1 ketika melawan Peru di matchday 2.

“Tim (Italia) ini (sama sekali) tidak membanggakan. Saya ingin pergi ke ruang ganti (tim) dan menendang mereka dari belakang,” kata sang Presiden seperti dikutip the Monkey Times dari Gentlemanultra, (Jumat 11/12/2020).

Ada suatu waktu, ketika itu, media Italia gemar mencari-cari salah ucap yang dilontarkan awak Italia dalam setiap sesi jumpa pers. Dino Zoff, mantan kiper Italia di Piala Dunia 1982, menggambarkan situasi semacam itu dengan asa yang menipis.

” Setiap konferensi pers (Piala Dunia 1982) berubah jadi ruang pengadilan. Apapun yang kami katakan terdengar salah. (Waktu itu) kami harus konsentrasi pada sepakbola dan bukan hal yang lain,” kata Zoff, mengutip Gentlemanultra lagi.

Begitu tegangnya hubungan pers Italia dan timnasnya, sampai-sampai Paolo Rossi dilaporkan oleh media Italia, Il Giornale, terlibat dalam hubungan mesra dengan rekan setimnya, Antonio Cabrini. Rumor menyebut mereka berdua mengonsumsi obat-obatan terlarang dan tidur bersama layaknya suami istri.

Cerita diatas pada hakikatnya memberi kita gambaran tentang betapa brutalnya pers Italia kepada timnas mereka di Piala Dunia 1982. Bruno Conti, salah satu pemain terpenting Italia ketika itu sampai menggambarkan kabar yang menimpa Rossi dan Cabrini sebagai rumor yang paling mengerikan.

Diam ketika berhadapan dengan pers

Anda pernah mendengar istilah silenzo stampa? Pada dasarnya istilah tersebut merujuk pada Bahasa Italia yang maknanya kurang lebih ‘tidak berkata apapun’. Dalam konteks Timnas Italia versus pers seperti diceritakan diatas, Italia memilih untuk diam dan tidak berkata apapun, walau pers mencecar mereka.

Baca Juga:  Hasil UCL Grup C: Ketika City membantai Marseille tanpa Striker

Resep itu terbilang mujarab bagi tim. Zoff menggambarkannya sebagai titik balik bagi timnya. Mereka kini bisa berkonsentrasi penuh terhadap sepakbola tanpa mempedulikan apa kata media kepada mereka.

Walau begitu, cercaan media Italia tidak mengubah fakta bahwa Rossi belum bertaji di fase pertama penyisihan grup. Bahkan setelah Italia menang 2-1 melawan Argentina di fase grup kedua Piala Dunia 1982. Dalam kondisi tersebut, bukankah lebih baik bila Bearzot mengganti Rossi dengan seseorang yang lebih baik, lebih produktif di lini serang Italia?

Nasib berbalik

Tandukan Rossi pada menit ke-5, ketika melawan Brasil di matchday 3 fase grup kedua, mengubah nasib Rossi dan seluruh timnas Italia. Brasil sempat menyamakan kedudukan tujuh menit kemudian melalui kaki Socrates.

Kedudukan 1-1. Dan semua orang yang menontonnya waktu itu mungkin beranggapan Italia belum berubah. Namun di menit ke-25 Rossi menyelesaikan umpan Cerezo dan mengubah kedudukan jadi 2-1 untuk keunggulan Italia.

Falcao membuat pertandingan kembali imbang, dengan golnya pada menit ke-68. Setelah itu angin segar berbalik ke Italia. Rossi menerima umpan silang Marco Tardelli, yang terbebas di kotak penalti. Dia kemudian memberi umpan yang memudahkan Rossi menaklukkan kiper Brasil, Waldir Peres, dari jarak dekat. Gol! Dan pada akhirnya Italia menang.

Kita boleh saja menyebut permainan pragmatis Italia, ditambah dengan sedikit keberuntungan, membuat mereka mampu mengungguli Brasil. Namun kemenangan tetap kemenangan.

Rossi kemudian mencetak dua gol lagi di partai semifinal melawan Polandia. Dan kemudian menutup momennya di Piala Dunia 1982 dengan membuka skor kemenangan melawan Jerman Barat di final. Setelah itu Italia memperoleh gelar juara dunia ketiga.

Lantas bagaimana hubungan timnas Italia dengan pers setelahnya? Yah … Bearzot belum lupa apa yang dilakukan pers terhadap timnya. Sang pelatih datang ke konferensi pers pasca final, dan dengan gamblang menyatakan belum lupa perlakuan pers terhadap timnya, sekaligus mempertanyakan integritas media Italia.

Tapi apapun yang terjadi antara pers dan timnas Italia setelah final Piala Dunia 1982, tetap tidak mengubah fakta bahwa kiprah Rossi melampaui nyinyiran dan cercaan, serta rumor media Italia yang ditiup dan merusak reputasi timnas mereka sendiri.

Temukan artikel menarik lainnya di topik: figur pemain sepakbola, kabar sepakbola, narasi tokoh

Atau baca artikel lain yang ditulis: Bola



Slide
Infografis jumlah bus listrik di seluruh dunia
Slide
Infografis vespa matik di Indonesia
Slide
Infografis kencan di era pandemi
Slide
melek finansial
Slide
infografis waralaba
Slide
infografis-jaga-kesehatan-saat-banjir
Slide
Infografis aktor Philip Seymour Hoffman
Slide
Infografis estetika film Paul Anderson
previous arrow
next arrow


Rekomendasi Artikel


Cara Sinema Sport Wisata Sosial