Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Untukmu yang Selalu Merahasiakanku, Kemudian Pergi Tanpa Pamit

Bisakah kita melupakan orang lain yang pernah kita cintai sepenuh hati? Masa lalu tak bisa diubah. Namun masa depan akan selalu dibayangi masa lalu.

Ilustrasi cinta yang hilang

Untuk kamu yang tersayang. Sudah sepuluh tahun sejak hari itu, dimana hari hujan dan kamu berlalu dari hidupku.

Banyak hal yang berubah, kamu, musik favorit kita, bahkan tetangga di depan rumahku yang sudah sejak lama berganti dengan orang yang baru.

Namun ternyata masih ada satu yang tidak berubah meski telah termakan usia. Aku, perasaanku, yang masih sama bahkan sebelum hujan sepuluh tahun lalu itu jatuh di antara kita.

Hari ini aku memutuskan untuk pulang kerja dengan menggunakan bus kota. Ditemani hiruk pikuk Kota Jakarta yang sangat jauh dengan keadaan kampung halamanmu, yang dipenuhi gunung serta lembah. 

Dulu kamu bilang tidak lagi membenci Jakarta, karena kota ini telah mempertemukan kita, meski hanya sepintas lalu. 

Tapi toh pada akhirnya kamu pergi meninggalkan Jakarta, kembali ke tanah minang yang kamu cintai itu.

Tapi aku masih betah berlama-lama di Jakarta, meski aku juga tidak suka dengan cuaca panas serta ramainya ibukota ini. Di sini, aku mengenalmu. 

Melihatmu tersenyum untukku. Dan memanggil namaku dengan suara baritone mu yang terdengar istimewa di telinga. 

Ya, aku masih betah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jakarta. Sembari mencoba menghapus tinta yang pernah kamu ukir pada kanvas hatiku.

Cukup banyak hal baru yang aku geluti. Mulai dari belajar memasak, belajar berenang, juga belajar merajut. 

Kamu tahu sekarang aku sudah bisa membuat rendang kesukaanmu yang selalu kamu bangga-banggakan itu? 

Kamu tahu sekarang aku sudah bisa berenang tanpa perlu kamu ajari lagi? Dan kamu tahu sekarang aku sudah bisa membuatkanmu syal yang lebih bagus dari syal abu-abu sepuluh tahun lalu itu.

Tapi sayang sekali kamu tidak ada di sini untuk kubagikan semua hal itu. Aku juga tidak bisa datang menemuimu, anak istrimu mungkin akan terkaget-kaget melihat ada seorang perempuan datang dari jauh untuk bertemu denganmu. 

Tatapan curiga tentu akan mereka arahkan padaku bukan? Dan kamu mungkin akan muak dengan sikapku yang bisa saja menghancurkan rumah tanggamu.

Masih aku ingat dengan jelas seminggu sebelum hari bahagiamu. Kamu masih menyapaku dengan panggilan manismu. 

Meski hanya kita berdua yang tahu, tidak apa. Asalkan panggilan itu selalu kudengar darimu, maka aku bisa menjalani hidup dengan baik. 

Meski saat itu terkadang aku lelah disembunyikan dalam rahasia. Kamu tenggelamkan bersama elegi dan karya-karya sastramu. 

Tapi semua orang tahu, teman SMU kamu itulah yang sudah kamu jadikan pilihan untuk menemanimu di hari tua. 

Gadis yang akan membuatkan kopi hitam favoritmu, gadis yang akan membiarkanmu begadang di malam hari melihat tim sepak bola kesayanganmu bertanding, gadis yang akan membuatkan masakan spesial untukmu agar kamu tidak lagi memakan mie instan mentah di siang hari.

Semua orang tahu hal itu, tapi tidak ada yang tahu tentangku. Hanya aku dan kamu, hanya di antara kita. Tapi saat itu aku merasa baik-baik saja akan hal itu. 

Bersamamu, tidak perlu lagi ditanya sebahagia apa aku. Aku rela bersamamu walau andaikata kamu kehilangan semua hal pun, aku akan tetap memilih untuk bersamamu. 

Meski banyak orang menganggap aku kehilangan akal sekalipun, pilihanku tidak akan berubah.

Karena semua orang tidak tahu bagaimana hancurnya aku tanpamu. Aku bercermin dan tersenyum, aku melakukan swafoto dengan tersenyum, aku bertemu dengan orang-orang dan tersenyum. 

Tapi tidak ada yang tahu bagaimana hatiku tidak pernah ikut tersenyum bersama dengan lengkungan di bibirku yang selalu merekah naik saat menyapa semua orang. 

Tidak ada yang tahu bagaimana di malam hari aku terus tidak dapat tertidur tanpa kabarmu.

Meski sudah sepuluh tahun berlalu, tidak ada yang berubah dari perasaan itu. Membaik itu seperti apa?

Bagaimana caranya menjadi lebih baik setelah ditinggalkan? Bagaimana caranya hidup dengan baik sepertimu, tanpa beban, tanpa pernah ada yang terjalin di antara kita. 

Bagaimana hidup seperti itu? Aku iri, dan juga ingin sekali merasakan hal yang serupa denganmu.

Tapi, Ah, kamu selalu berhasil menghujam jantungku tak kenal waktu. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan baik seperti yang tengah kamu lakukan dengan keluargamu. Ah, di luar bus hari mulai hujan. 

Kota ini menjadi sangat menyebalkan ketika hujan turun. Seolah-olah seperti ingin membunuhku. Bukannya aku tidak suka hujan, hanya saja hujan selalu membawa kenangan tentangmu.

Apa harus aku menahan begini perihnya dalam hal mencinta? Ah, air mengalir kembali. Tunggu, aku kan sedang berada di dalam bus kota, bagaimana hujan bisa masuk ke dalam bus? 

Oh, ternyata itu hujan dari mataku. Di luar hujan juga ikut menderas, diiringi dengan mataku yang kian basah. 

Yang pasti keduanya saling bersahut-sahutan, sama derasnya dan tidak bisa dibendung, baik oleh awan maupun kedua mataku. Luka ini, bagaimana caranya bisa sembuh?

Dari Aku.

Yang masih mencintaimu di pertengahan tahun 2020.

Pak Pos
Written By

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.