Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Surat untuk Sahabatku yang Damai dalam Keabadian

“Hai, cantik.” Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

teman-abadi
Ilustrasi teman dalam keabadian. (Grafis: the Monkey Times)

the Monkey Times – Meskipun bayangan senyummu ketika kita saling menyapa masih terlihat dengan jelas di ingatanku. Bagaimana suasana disana?

Aku harap kamu masih tetap menjadi seseorang paling ceria seperti yang kukenal. Rasanya tidak adil, kamu bisa mengawasi kita semua dari atas sana.

Aku yakin kamu pasti punya banyak teman disana. Aku juga percaya, kamu bahagia berada disana. Ah, aku sedikit malu menulis surat ini untukmu.

Dahulu kamu sangat suka menertawakan tulisan puitisku yang tulus. Ya walaupun aku juga merasa cukup aneh, seorang diriku yang terlihat tidak bisa serius bisa menuliskan banyak kalimat seperti itu.

Kalo mengenang masa lalu, ingin sekali aku mengucapkan banyak kalimat syukur telah memilikimu sebagai teman terbaikku. Masih ingat tidak awal kita bisa dekat?

Karena waktu itu rumah kita searah kan? Naik angkutan umum bersama dan masih terasa asing padahal kita teman satu kelas di SMA. Kamu senyum senyum malu menyapaku terlebih dahulu. Lucu sekali hehe

Semenjak itu kita selalu pulang bersama kan? Ternyata kau teman yang menyenangkan untuk berbagi segala cerita. Keluargamu juga baik, tidak heran jika kamu juga mempunyai kepribadian yang baik.

Kalau diingat ingat, kamu salah satu teman seperjuanganku mencapai kelulusan di SMA dan juga bersaing untuk kampus impian. 

Pesanmu kala itu yang memintaku menjadi rekan les privat masih terkenang jelas. Kita berjuang bersama untuk memecahkan segala persoalan fisika biologi matematika dan kimia. Andai kamu tidak mengajakku mungkin aku juga tidak akan mampu berada di titik ini.

Karena itu juga kita bisa mencapai impian kita untuk menjadi mahasiswa di salah satu kampus ternama. Aku bersyukur kala itu kita berhasil mencapai target kita. Mendapatkan apa yang sering kita bayangkan dan perbincangkan saat perjalanan pulang sekolah. 

Pesan terakhirmu saat mengajakku pergi makan di depan fakultasmu masih sering aku buka dan baca lagi hehe.

Padahal itu juga aku yang merekomendasikan tempatnya kan? memang enak kan? Tapi karena kesibukanku di kampus aku jadi tidak bisa mengiyakan semua ajakanmu kala itu. 

Maaf ya…

Seandainya waktu itu terulang lagi, mungkin aku akan meluangkan waktu untuk bersamamu. Ah mengenai penyakitmu, aku dulu bahkan tidak tahu itu penyakit parah. Maaf lagi ya atas kebodohanku.

Kamu tahu pasti tentang hal itu, aku tidak terlalu tahu menahu tentang penyakit dan kesehatan lainnya. Sampai akhirnya ada yang menjelaskannya kepadaku.

Aku menangis kala itu, yang memberitahuku bukan kamu. Melainkan teman sekelas yang lainnya. Aku merasa tidak dihargai olehmu, aku merasa kamu tidak menganggapku teman dekat.

Kita sempat memperbincangkan ini di rumah sakit saat aku mengunjungimu waktu itu. Masih ingat tidak? Aku bahkan membawa seluruh keluargaku untuk menjengukmu di rumah sakit.

Ya, aku saat itu marah. Aku secara terbuka mengucapkannya dan membuatmu tertawa. Iya memang mungkin akan sulit untuk mengatakannya. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, hanya saja aku merasa kecewa kepada diriku sendiri.

Aku ingin menjadi teman dekatmu yang mengetahui segalanya tentang dirimu dan kondisimu. Sebenarnya sebelum menjengukmu aku menangis selama 3 hari. Tapi tidak pernah ada yang tahu tentang itu.

Aku hanya tidak ingin kekhawatiranku ini menjadi sesuatu yang nyata. Aku percaya kamu bisa menghadapinya. Aku juga percaya kamu pasti akan sembuh.

Tapi nyatanya, pesan yang datang kepadaku selalu berawal dengan kata meminta doa karena kamu sedang koma. Jujur saja, aku selalu kalut tiap membuka pesan tentangmu. Setelahnya pasti aku tidak akan bisa tidur.

Seperti malam itu, setelah kita tertawa bersama di kamarmu. Aku menatapmu, dan aku masih ingat tatapanmu yang ceria meskipun tubuhmu terbaring diatas ranjang.

Kamu berjanji kala itu akan mentraktirku makanan karena hari ulang tahunmu sudah dekat. Tapi ucapanmu saat itu masih membekas di ingatanku.

“Jika aku bisa hidup sampai hari itu, aku akan sangat bersyukur”

Aku masih menangis setiap mengingat kalimat itu. Karena kamu berpamitan kepadaku secara terang-terangan. 3 hari setelah pertemuan itu, kamu pergi meninggalkan kita disini untuk selamanya.

Sulit sekali, aku tidak bisa merelakanmu yang pergi secara tiba – tiba. Hari itu aku masih percaya dan tersenyum mendengarkan orang tua mu meyakinkan kita semua kalau kamu pasti akan sembuh. 

Nyatanya, kamu memilih untuk istirahat dengan damai disana. Kalimat inilah yang setidaknya membuatku bisa membiarkanmu pergi. Kamu pasti sudah tenang disana, tidak perlu merasakan suntikan bertubi  – tubi di tubuhmu.

Kamu juga tidak lagi merasa pusing atau pandanganmu yang kabur. Sekarang semuanya sudah selesai, kamu kembali menjadi gadis ceria di tempat barumu.

Terima kasih, sudah menjadi teman terbaikku. Terima kasih atas segala kenangan manis yang kita ukir bersama kala itu. Maaf, aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu.

Kami selalu mengenangmu disini, kami pun masih merasa kamu berada di sisi kami. Karena sampai kapanpun tempatmu diantara kami tidak akan pernah bisa digantikan dan terlupakan.

Selamat jalan sahabatku. Sampai jumpa lagi suatu saat nanti, kami selalu menyayangimu.

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.

Surat

Rasanya sudah puluhan hari kita tidak saling mendengar atau bahkan saling berkirim pesan singkat tersebut. Bahkan untuk menanyakan kabar saja, aku tidak tahu harus...