Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Surat untuk Rindu dalam Sepercik Tinta

Pertemuan itu terjadi di saat aku pergi bersama ayahku untuk melihat lihat pameran lukisan yang terletak di Jalan Fatmawati. Lelaki itu bernama Sun Tzu Pareshwara.

sepercik-tinta
Ilustrasi kerinduan. (Grafis: the Monkey Times)

the Monkey Times – Badannya tinggi sekitar 180 cm, dadanya juga bidang dan memiliki bahu lebar. Ketika menatap, kilauan kecoklatan yang terpancar dari matanya mampu meluluhkan setiap hati yang melihatnya.

Aku mengenalnya sewaktu tak sengaja menabraknya serta membasahi bajunya dengan minuman soda merah yang sedang kubawa. Namun, sepertinya dia tidak mengenaliku. Padahal, aku selalu ingat padanya di setiap waktuku. 

Setelah itu, aku bermaksud untuk mengelap bajunya yang telah dikotori, namun ia menepis tanganku dengan tatapan sinis.

Ya benar, dia adalah cinta pertamaku yang telah lama kuidam-idamkan. Sayangnya, ia tak memiliki rasa apapun kepadaku. Bisa disimpulkan, akulah yang hanya memiliki perasaan senang untuknya. 

Salahku juga yang tak pernah utarakan perasaanku kepadanya semenjak dahulu. Meski ia tak memiliki perasaan untukku, setidaknya dia tahu perasaanku padanya.

Singkat cerita, aku dan Sun Tzu dahulu merupakan teman satu sekolah. Pada mulanya aku menyukainya ketika melihat dia bermain basket di tengah lapangan dengan cuaca yang begitu terik. 

Keringatnya mengalir deras bercucuran dan membasahi rambutnya yang lebat. Saat itu pula, kuputuskan bahwa dialah yang mampu mengisi kekosongan hatiku.

Menginjak SMA, ternyata Sun Tzu masuk ke sekolah yang sama denganku. Betapa senangnya aku mengetahui bahwa ia masuk jurusan yang sama pula denganku. 

Saat itu aku mulai berpikir, apakah ini yang dinamakan takdir? Biasa, pemikiran bocahku waktu dulu masih belum berubah. 

Aku hanya berkutat pada perasaan senang dan mementingkan diriku saja.

Hari demi hari kulewati, ia masih belum juga membalas perasaanku setelah bertahun lamanya. Bahkan, kudengar kabar bahwa dirinya tengah memadu kasih dengan seorang wanita jurusan IPA yang kukenal dengan baik. 

Seketika hatiku hancur berkeping tanpa alasan. Padahal, rumor tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Aku pun memberanikan diri untuk menanyakannya kepada teman sekelasnya perihal rumor tersebut. 

Betapa senang hatiku saat temannya menjawab bahwa laki laki yang kusuka tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. 

Aku tahu ini terkesan aneh saat anak kecil menyukai laki laki selama bertahun tahun.

Tapi, semakin besar, aku semakin tersadar bahwa perasaan yang kurasakan ini memang benar adanya. 

Kenyataan aku menyukai laki laki itu sejak duduk di bangku SMP seperti menjadi jalinan kasih yang tak pernah tersampaikan. 

Setiap malam aku bahkan selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk bisa merasakan kasih sayangmu bila nanti saatnya telah tiba.

Sepertinya, tuhan tak mengabulkan karena suatu alasan yang benar benar tak kupahami. Bahkan, aku tumbuh dengan cepat dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar dilirik olehnya. 

Namun sepertinya, usahaku terlampau sia sia. Kita dipisahkan kembali oleh jarak karena berbeda universitas. Aku bahkan tak bisa melihatnya sejak beberapa tahun belakangan.

Ah mungkin dia memang bukan jodohku, tuhan pasti mengetahui yang terbaik untukku, pikirku. Setelah beberapa hari mengenyam pendidikan di bangku kuliah, aku mulai tertarik dengan seni. 

Khususnya seni lukis. Aku juga telah menghadiri berbagai acara seni lukis yang ada di pusat kota. Pikirku, dengan menyibukkan diri aku akan melupakan segala hal tentangnya.

Namun ternyata aku salah, jika diingat kembali Sun Tzu lah laki laki pertama yang berhasil memenangkan Olimpiade seni lukis tingkat nasional sewaktu SMP. 

Hal tersebut semakin membuatku terbayang bayang akan sosoknya yang tampan dan gagah. Selang beberapa bulan kami bertemu. Perubahan yang sangat signifikan terjadi padanya.

Rambut yang semakin lebat, kulitnya yang semakin putih bersih semakin membuatku kagum padanya. Yang lebih membahagiakan, tampaknya ia juga memiliki perasaan terhadapku. 

Duniaku seakan berhenti dan hanya aku dan Sun Tzu yang mengisinya. Kala itu aku tambah bahagia setelah mendengar pengakuannya bahwa ia juga sudah menyukaiku sejak SMP.

Namun karena tidak memiliki pengalaman percintaan ia takut mengutarakan perasaannya untukku. Hari demi hari berjalan dengan sangat menyenangkan. 

Aku merasa sangat bahagia di setiap detik bersamanya. Ia pun juga merasakan hal yang sama. 

Namun, perasaan bahagiaku seketika berbanding terbalik tatkala mengetahui ia harus meninggalkan kota ini.

Hatiku hancur saat mengetahui bahwa ia harus secepatnya meninggalkan kota. Ibunya yang bertempat tinggal di Australia sedang sakit keras dan menginginkan Sun Tzu untuk segera pulang. 

Selama beberapa tahun ia tak kembali dan tak juga memberi kabar kepadaku. Padahal, dia sudah berjanji akan segera kembali setelah ibunya sembuh.

Setiap malam aku selalu berharap dan menunggu kepulanganmu di ujung dermaga dekat rumahku. 

Dulu kau berjanji akan menemuiku di sana. Nyatanya, kau tak pernah kembali. Aku rindu dirimu yang sangat kukasihi bagaikan pungguk yang merindukan purnamanya. 

Namun, siapa sangka bahwa kita bertemu lagi di kesempatan ini?

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.