Connect with us

Hi, what are you looking for?

iklan
Ilustrasi pemandangan danau
Ilustrasi pemandangan danau
Ilustrasi pemandangan danau

Surat

Surat untuk Pengamen Tua

Untuk pengamen tua Danau Shuji, semoga kau masih mengingat pertemuan kita sore itu kala aku duduk di pinggir danau.

Untuk pengamen tua Danau Shuji, semoga kau masih mengingat pertemuan kita sore itu kala aku duduk di pinggir danau, memandang indahnya ciptaan sang maha kuasa. 

Tampak riang meski bajunya terlihat lusuh, suaranya yang merdu diiringi akordion tua menggema di sekeliling danau. Aku pun penasaran sehingga datang menghampirinya dan kami pun berkenalan.

Namanya pak adi, beliau begitu ramah dan sopan. Akupun larut dalam obrolan bersama pak adi, hingga tak sadar mentari mulai tengelam.

Salam Pak Adi! Bagaimana kabar bapak sekarang? Apa sudah menemukan yang bapak cari selama ini? Semoga bapak tetap berbahagia disana.

Maaf saya belum sempat mampir ke Palembang, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di tanah Jawa.

Semoga tahun depan Tuhan mengizinkan kita bersua kembali. Menikmati pemandangan danau shuji lembak kala fajar. 

Kemudian untuk nama penerima surat sudah sesuai yang bapak minta kan? Bapak lebih ingin dikenal sebagai pengamen tua ketimbang saya panggil dengan nama asli bapak.

Aku suka dengan karakter dan idealis bapak yang satu itu, sampai sekarang masih saya ingat dan selalu saya amalkan apa yang bapak ajarkan pada kala itu. Bapak begitu istimewa, memiliki pembawaan yang santai tapi apa yang bapak ucapkan selalu berisi. 

iklan

Bapak sangat suka bercerita masa mudanya, banyak sekali pesan tersirat maupun tersurat yang kami petik dari kisah bapak.

Aku sangat mengingatnya bapak pernah mengatakan:”Sebelum seperti ini, dulu saya memegang teguh Islam, kemudian saat usahaku jatuh aku mulai tidak yakin dengan Tuhan.

Saya merasa Tuhan tidak adil. Apa yang katanya maha adil kok menyengsarakan hambanya? Saya selalu mengeluh dan merasa paling menderita” 

“Namun, di usia yang ke-61 tahun ini. Saya bertemu dengan banyak orang, dengan aneka latar belakang, dengan berbagai kebaikan dan berkah. Dari situ saya mulai belajar untuk lebih bersyukur dan menghargai hidup.

Karena saya tak pernah membayangkan sebelumnya seberapa berkah yang telah tuhan berikan kepada hidup saya.  Meski sekarang saya hanya tinggal di gubuk tua ini dan akhirnya saya mengerti disitulah letak keadilannya”.

Mungkin pada saat bapak bercerita, saya tidak memahaminya, tapi kini sekarang saya paham. Seketika di mata manusia semua tidak adil, padahal keadilan sesungguhnya ya ketidakadilan itu.

Bapak harusnya jadi dosen filsafat saja ketimbang bermusik dibawah terik matahari. saya rasa bapak akan menjadi dosen favorit nantinya.

Tapi pak, dari kisah itu saya jadi lebih banyak mensyukuri nikmat dari yang Tuhan berikan. Sangat beruntung saya bertemu dengan bapak.

Kalau dipikir-pikir, lama juga kita tidak bersua ya pak? saya sendiri sangat merindukan bapak saat memainkan accordion di gubuk tua itu. Bapak sulap ruang sempit itu menjadi jalanan Kota Paris.

Saya datang bersama lima kawan, Angan, Awan, Senja, Angin dan Asa. Saat itu kami sangat menikmati permainan bapak di kala matahari berpamitan di ufuk barat.

Saya sangat suka momen menyenangkan itu, saya ingat saat pancaran sinar mentari sore itu menyusup pada lubang-lubang gubuk dan melumat tubuh bapak, seolah inilah bintang kita sore ini. 

Yah, meskipun lima belas tahun sudah berlalu, kenangan-kenangan itu terus terngiang gembira dalam Sukma ini. Saya jadi penasaran dengan kabar Ratna cucu Bapak.

Saya rasa di usianya yang sekarang dia terlihat sangat cantik, Mungkin lebih cantik dari si Asa. Ratna cucu bapak yang kala itu menjamu kami dengan teh hangat yang nikmat buatannya.

Semoga Ratna segera menemukan Galihnya, agar bapak tidak kesepian.

Sudah dua surat saya kirim, sudah saya terima juga balasan surat dari bapak dan Ratna. Maaf saya hanya dapat mengirim surat hampa ini lima tahun sekali.

Meski surat yang ketiga ini mungkin aku sudah tidak mungkin mendapat balasan dari bapak. Mungkin takdir dua tahun lalu menjadi pertemuan pertama dan terakhir kita setelah kami semua sibuk merantau kesana kemari.

Kabar berpulang bapak dua tahun lalu menjadi pukulan telak bagi kami. 

Tapi saya akan menepati janji kita pak, menulis surat untuk bapak lima tahun sekali seumur hidupku. Entah dengan air mata mana lagi aku membasahi surat ini.

Tapi, tenanglah bapak kini tidak perlu kesepian. Bulan lalu Angan menyusul, ingin menemani bapak.

Mungkin ia merindukan permainan akordion bapak di surga, agar tidak hanya malaikat saja yang mendengar permainan bapak. 

Bahasa isyarat yang bapak ajarkan kepada kami sangat berguna, meski mungkin sekarang bapak tidak perlu menggunakan bahasa isyarat lagi. Karena memang Tuhan Maha Adil.

Terimakasih bapak, atas segala jasamu dan petuahmu pada kami. Kau bukan hanya pengamen tua di Danau Shuji Lembak. Namun kau bapak kami semua. Tunggu surat keempat dari saya ya pak?

Semoga tidak basah di atas nisan bapak. Sampai kita dapat bersua kembali.

Pak Pos
Written By

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.