Connect with us

Hi, what are you looking for?

iklan
pak-tua
pak-tua
Ilustrasi manula. (Foto: Getty Images lewat Canva.)

Surat

Surat untuk Pak Tua di Ujung Jalan

the Monkey Times – Teruntuk Pak Tua dengan luka bekas jahitan di pelipis kepala, pagi ini kulihat kamu sudah siap semenjak selesai subuh. Kamu dengan pakaian veteran yang sudah semakin lusuh, ditambah topi dengan bordiran merah putih yang pudar.

Seakan siap berperang, kau berdiri gagah bahkan dengan sapu ijuk yang sudah patah-patah itu. Tapi lihat saja, kamu masih tersenyum di depan rumah sambil makan pisang goreng dan kopi hitam menyapa orang yang lewat.

Teruntuk Pak Tua dengan luka bekas jahitan di pelipis kepala, kamu mulai harimu di ujung jalan Senopati. Mulai mengambil dedaunan berwarna kecoklatan yang mengotori jalanan. Sambil menyapa ibu-ibu yang mulai keluar rumah, bergerombol dan bergosip tentang Pak RT.

Seringkali kamu ikut nimbrung, lalu hanya senyum-senyum saja sambil melanjutkan pekerjaanmu. Senyummu tetap mengembang, terlebih melihat pemandangan pagi hari ini.

Aku selalu ingat perkataanmu “Mahadaya Tuhan yang menciptakan lukisan pagi pemandangan Indonesia”. Kamu selalu bercerita tentang betapa indahnya pemandangan pagi ini.

Kamu suka melihat anak-anak tunas bangsa berseragam merah putih yang penuh semangat menuju ke sekolah. Sambil meneriakkan kalimat semangat untuk mereka semua. Terkadang juga memberi sedikit uang yang kau punya, untuk mereka beli es sisri, katamu.

Pak Tua, pertama kali kita bertemu di ujung jalan senopati, aku tidak pernah percaya bahwa kau adalah salah satu mantan veteran itu. Matamu berbinar ketika bercerita mengenai betapa bangganya engkau dulu memakai seragam lusuhmu ini.

iklan

Katamu, “Aku bangga, nak. Aku bangga” berulang kali ketika bercerita mengenai pertama kali kau mengenakan seragam ini. Itu juga yang menjadikan alasanmu selalu memakai baju ini meski sedang menyapu.

Kamu cerita berulang kali tentang saat dulu kamu bertugas bersama teman-temanmu yang kini sudah tiada. Pak Saiful, Pak Parman, Pak Adi. Yang jadi lucu, aku yang tidak tau namamu, meski kita sering bercerita.

Kamu bilang teman-temanmu itu sangat keren ketika muda. Mereka pasti akan menjadi primadona di kampus, lalu menjadi playboy kelas kakap. Aku tertawa mendengar ceritamu. Terlebih tentang kisah cintamu yang kandas karena kalah dengan anak jenderal.

Pak Tua dengan luka di pelipis kepala sebelah kiri. Kamu ceritakan lagi berulang-ulang mengenai lukamu. Kamu bilang tidak sengaja tergores ketika kamu berkelahi dengan preman pasar yang punya kumis lele itu.

Dia adalah preman pasar yang merampas rezeki ibu-ibu penjual di pasar. Dengan gagah engkau membela si preman kumis itu. Lalu, kau mendengarkan segala ocehannya yang membual itu. Akhirnya ia menggores pelipismu itu.

Tapi pak tua, kamu tersenyum. Kamu tetap berusaha untuk melindungi banyak rakyat yang membutuhkan pertolongan. Kamu bilang, itu sudah menjadi tugasmu untuk menjadi patriot bagi ibu-ibu penjual di pasar.

Biasanya, di tengah cerita haru kau masih sisipkan kalimat-kalimat lucu. Kamu bilang alasan membela ibu penjual di pasar, karena sedang caper ke seorang janda penjual kue cucur di pojok pasar besar. Aku tidak berhenti tertawa karenanya.

Teruntuk Pak Tua dengan luka di pelipis kepala, kamu yang lucu ini pun akhirnya bisa juga menangis, ketika mulai bercerita tentang keadaan bangsa ini, Kamu bilang, negara ini sedang lara dipimpin oleh orang sembarang.

Negeri ini rindu untuk kembali berjaya. Tapi, keadaannya sedang carut marut. Dan yang membuat kau semakin miris adalah engkau tak bisa membantu membela kembali bangsa ini, dengan tubuhmu yang sudah renta.

Aku pernah bertanya padamu, bagaimana bisa kau akhirnya memilih menjadi seorang tukang sapu, dan tiada yang mengenalmu sebagai pahlawan. Lagi-lagi kamu tersenyum, kamu bilang tidak pernah ingin dianggap sebagai pahlawan.

Yang penting kami sebagai kawula muda sudah bisa menikmati kekayaan bangsa ini. Tidak harus lagi merasakan berbagai peperangan dan kesusahan seperti saat dulu kala. 

Pak Tua, kini kita tidak lagi dapat bertemu. Kuingat di hari terakhir aku bisa melihatmu, kamu bisa makan nasi rames di warung pojok langgananmu. Setelah itu memunguti sampah-sampah yang dibuang pada tempat yang tidak semestinya.

Sambil kembali melanjutkan pekerjaanmu untuk menyapu di selusur jalan. Keringatmu sudah menetes, terlihat beberapa kali kamu seka keringatmu dengan lengan bajumu, atau kau biarkan saja.

Sorenya, kau masih terlihat di teras rumahmu. Menikmati kopi sambil bersiul di depan sangkar burung kenari kesayanganmu. Kau ajak burung kenari menyanyikan lagu maju tak gentar yang menurutmu sangat gagah itu.

Kemudian, kau turunkan bendera merah putih yang selalu kau kibarkan pada hari Senin pagi dan akan kau turunkan Senin sore seperti ini.

Malamnya, aku dengar pengumuman dari speaker musholla kita. Pak Tua dengan luka di pelipis kiri telah tiada. Tukang sapu yang selalu memakai baju veteran lusuhnya itu telah pergi.

Tanpa seorangpun yang tahu bahwa beliau adalah pahlawan bangsa ini. Teruntuk pak tua dengan luka jahitan di pelipis kiri, apa kabar? Apakah kau lihat keadaan bangsa yang sedang carut marut ini?

Pak Pos
Written By

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.