Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Surat untuk Orang Paling Tabah yang kukenal

Kita lama tak berjumpa. Kamu sudah bersuami. Tapi aku akan selalu mengenangmu.

surat untuk orang paling tabah

Hai sahabatku, apa kabar? Sudah lama rasanya kita tidak berjumpa setelah kamu memutuskan untuk menikah. Ya, kamu harus mengikuti laki laki asing yang saat ini sudah berganti status menjadi suamimu.

Tapi, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kita menghabiskan waktu bersama waktu itu. Masa masa SMA yang memang seharusnya menyenangkan, namun tidak kehidupan yang kamu alami waktu itu.

Saat itu, banyak sekali dari kita yang mengeluhkan bagaimana cerewetnya seorang ibu begitupun denganku. Namun, tampaknya kamu justru merindukan sosok yang bernama ibu. Ya, kamu memang sudah ditinggalkan oleh wanita yang melahirkanmu sejak SMP.

Di saat itu, kita sudah  jarang bertemu lantaran karena berbeda sekolah. Namun, aku masing mengingat ibumu sedang sakit saat kamu masih SD. Mungkin di waktu itu, kamu mulai harus menguatkan diri.

Ketika kita masih kecil, aku sempat iri padamu. Bagaimana tidak? Apa yang kamu inginkan seakan selalu dituruti oleh ibumu. Kamu memiliki banyak mainan yang tak kumiliki.

Bahkan, karena hal itu aku jadi sering bermain ke rumahmu. Akupun membayangkan betapa bahagianya menjadi anak sepertimu, seakan kehidupanmu sangat menyenangkan. Sayangnya, semua kebahagiaan yang kulihat dulu, ternyata bisa berubah sangat cepat.

Saat ibumu sudah meninggal, sebagai anak tunggal kamu harus tinggal dengan ayahmu. Aku baru mengetahui lagi, bagaimana kondisimu setelah kita dekat lagi waktu SMA. Namun, aku cukup salut padamu, lantaran kamu masih berkeinginan untuk melanjutkan sekolah kala itu.

Banyak anak di desa kita yang memutuskan untuk berhenti sekolah karena alasan biaya. Padahal kondisimu saat ini lebih tidak memungkinkan untuk sekolah dibandingkan mereka.

Aku sangat bangga dengan tekad yang kuat untuk tetap melanjutkan sekolah. Meskipun, anda banyak rintangan yang harus kamu hadapi ketika masa masa SMA. Aku masih mengingat dimana saat itu, kamu harus tinggal dengan bibimu lantaran ayahmu harus bekerja ke Kalimantan.

Yang aku tangkap dari yang kamu ceritakan waktu itu, memang kondisi keuangan keluarga kalian sedang  buruk sehingga ayahmu harus pergi ke tempat yang jauh.

Terima kasih banyak karena telah membagi cerita tentang masa masa sulit, yang telah kamu lalui setelah ditinggalkan sosok ibu. Dari situ aku belajar untuk lebih banyak bersyukur dan tidak menyia nyiakan kesempatan yang kumiliki.

Kau tahu? Dulu aku sering  kesal lantaran ibu yang selalu marah marah, sebab aku tak menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Namun, aku mulai mencoba memahami, mungkin kemarahannya karena dia sedang lelah.

Nyatanya, ujian yang harus kamu hadapi tak sampai disitu saja. Sebagai seorang anak yang tidak memiliki saudara kandung, kamu harus membiarkan rumah kosong tanpa penghuni.

Pasti ada suatu waktu dimana kamu rindu sehingga kamu memutuskan tidur beberapa hari di rumah, dengan alasan jika ayahmu pulang. Karena hanya itu alasan agar kamu diizinkan oleh bibimu agar bisa tidur di rumahmu sendiri.

Aku masih ingat saat kamu bercerita, jika hal yang paling kamu inginkan adalah mempunyai keluarga yang bahagia. Melihat ibumu yang sudah tidak ada, kamu menyadari jika hal itu tidak akan terjadi.

Namun takdir berkata lain, karena ayahmu menikah lagi dengan wanita yang dikenalnya di tempat kerja. Proses pernikahannya sangat sederhana, dan aku masih mengingat saat kamu sendiri yang harus menyiapkan kue untuk hantaran pernikahan.

Saat itu, kamu menghubungiku dan meminta untuk membantu membuat kue. Jika diingat itu, adalah peristiwa yang sangat konyol bukan? Hantaran pernikahan yang seharusnya dipersiapkan oleh orang tua atau sesepuh malah harus anak seusia kita yang melakukannya. Namun, dari situ aku belajar dan memahami  jika memang kamu dituntut untuk bersikap lebih dewasa. Kue yang kita buat memang sedikit kacau, tapi aku sangat menikmati masa masa itu. 

Setelah ayahmu menikah, aku bisa melihat juga kehidupanmu sangat bahagia. Kamu memiliki keluarga baru yang sangat harmonis. Meskipun berstatus ibu tiri, namun kamu seakan menganggapnya seperti ibu kandung.

Kalian sangat akrab dan sering melakukan banyak hal bersama. Bahkan saat prosesi pernikahanmu, aku melihat ibu tirimu sangat sibuk menyiapkan banyak hal. Seakan mimpi yang kamu ceritakan waktu itu, kini menjadi kenyataan.

Sayangnya kita tidak boleh melupakan jika dunia ini tak akan pernah berhenti berputar. Setelah hadirnya kesedihan dalam hidup, pasti Tuhan akan menghapusnya dengan memberikan kebahagian, begitupun sebaliknya.

Aku pun mengira jika pernikahanmu dengan orang yang kamu cintai akan mengubah kehidupanmu yang sebelumnya. Tapi dugaan itu salah karena datang lagi cobaan lebih berat yang harus kamu terima dengan lapang dada.

Kamu harus merelakan ayah yang sangat kamu cintai diambil oleh Sang Pencipta. Aku tidak bisa membayangkan betapa kamu menahan rasa sedih yang teramat dalam, mengingat sosok itu yang selama ini menguatkanmu.

Namun aku yakin jika kamu pasti kuat menghadapinya. Mungkin sudah saatnya ayahmu ingin bertemu dengan ibumu yang sangat ia cintai, mengingat sudah ada orang lain yang bisa dipercaya untuk selalu menjagamu sampai tua.

Tetaplah percaya jika setelah kesedihan ini, Tuhan akan menghadirkan kebahagiaan untukmu.  

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.