Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

surat-malu
surat-malu
Ilustrasi pemalu. (Foto: Pexels)

Surat

Surat untuk Jiwa si Pejuang yang tak kenal Lelah

Goresan pada kertas yang terlalu malu untuk disampaikan secara langsung.

the Monkey Times – Aku merupakan sosok biasa yang mengidolakan sekaligus menyayangi seseorang dengan jiwa yang kuat dan menghiasi harinya dengan tawa.

Bahkan bahana tawamu begitu melekat di pikiranku setiap harinya. Hanya mendengar tawa dan tingkah lakumu, aku sudah dibuat tersihir dengan pesona yang tampak berbeda dengan orang lainnya.

Sayangnya aku terlalu malu untuk menyebut namamu di surat ini sekarang, karena aku hanya ingin menyebutnya saat ada kamu di hadapanku. 

Hingga hari ini, detik ini juga, akhirnya aku memutuskan untuk menjelaskan bagaimana perasaanku saat bertemu dengan orang sepertimu untuk pertama kalinya.

Ya, mungkin pertemuan ini terjadi secara tidak langsung namun sudah cukup membekas di memori ingatanku hingga saat ini dan nanti.

Aku tidak tahu apakah kamu juga tahu, karena pada saat itu pula, aku terkagum melihat sosokmu yang gagah berdiri meski terbilang masih muda.

Benar, saat itu usiamu masih di penghujung belasan tahun dan harus terpisah ja dari orang tua. Aku ingat betul bagaimana ekspresimu yang terlihat sendu saat harus terpisah dengan segala hal yang kamu senangi disana, tidak terkecuali untuk orang tuamu bahkan teman teman sebaya mu.

Meski langkahmu begitu berat, jiwa kecil itu berusaha kuat untuk tetap bertahan demi masa depan yang lebih baik. Melihat itu saja, hatiku merasa bangga sekaligus teriris dalam satu waktu. 

Disisi lain, aku merasa kasihan dan ingin membawamu pulang kembali dalam dekapan kami. Namun sisi diriku yang lain merasa harus melakukannya, karena itu demi menggapai mimpimu untuk tampil di sebuah pertunjukan megah dapat digapai lebih dekat.

Berbagai latihan keras rela dilakukan, bahkan kamu pun tidak sempat untuk sekedar berlibur ke kampung halamanmu dalam puluhan tahun lamanya. 

Aku bisa merasakan ada sedikit rasa sedih dan rindu tampak menyatu di dalam pikirmu sama sepertiku, namun pikiran tersebut kau tepis demi membahagiakan orang di sekitarmu.

Aku semakin menyadarinya, karena dirimu sendiri yang mengatakan bahwa suasana saat ini mengingatkan akan kampung halaman dan teman temannya yang dulu sempat mengisi harimu.

Disitulah sosok pejuang itu tidak bisa membendung betapa jiwanya butuh untuk pulang. 

Selang bertahun tahun merantau di negeri orang, kini kamu sudah bisa membuktikan sedikit demi sedikit bagaimana hasil kerja kerasmu selama ini.

Tampaknya pengorbanan besar yang sudah dilakukan di masa lampau itu, mulai terbayarkan dengan semakin sibuknya dirimu hanya untuk sekedar menyapaku sejenak.

Aku mencoba memahami itu, karena diri ini tahu bahwa ada yang sedang diprioritaskannya saat ini agar menjadi lebih kokoh berdiri sendiri. 

Hei, aku tidak marah kepadamu ataupun merasa tertinggalkan karena hal itu. Justru aku memahami bahwa itulah bentuk perjuanganmu agar bisa menghidupi kehidupanmu sendiri.

Aku hanya berharap dirimu tidak terlalu memaksakan diri, hingga berbalik menyakiti dirimu sendiri.

Makanlah yang banyak dan penuhi gizimu, karena aku disini menunggu kabar baik darimu. Karena terakhir kali aku bertemu denganmu, tubuhmu terlihat letih meski mencoba terlihat baik baik saja. 

Jangan coba bohongi aku yang sudah bertahun tahun mengenalmu, karena aku dengan cepat dapat menyadari apa yang tengah berusaha disembunyikan.

Jika membutuhkan teman cerita, jangan pernah sungkan untuk datang. Bukan hanya aku, keluargamu juga bisa menjadi teman sekaligus rumah terbaik bagimu untuk menumpahkan segala keluh kesah yang mungkin masih tersendat dan belum bisa diucapkan. 

Aku masih mengingat betul bahwa perjuanganmu ini masih belum maksimal. Menurutmu, diri yang sudah aku sebut sebagai sosok yang bisa dicontoh ini perlu lebih keras menempa dirinya agar lebih kuat dari sebelumnya.

Aku suka sisi dewasa itu, karena ini menunjukkan bahwa dirimu semakin matang menjadi orang dewasa seutuhnya.

Ternyata penilaian tersebut tidak hanya jatuh kepadaku semata, namun juga orang orang yang ada di sekitarmu. 

Meski sosok mungil ini telah mencoba mengatakan untuk tidak memaksakan diri, aku tahu di seberang sana dirimu masih berusaha keras dan tetap berjuang tanpa lelah untuk mengejar mimpinya.

Sebagai bentuk dukungan, aku hanya bisa memanjatkan doa dari seberang negara dan membalas segala pesan yang masuk darimu meski tidak sesering dulu.

Dibalik itu semua aku menitipkan rasa keyakinan besar bahwa dirimu bisa melakukannya dengan baik. 

Tetaplah menjadi orang yang baik, menjadi sosok pejuang yang tidak kenal lelah, tersenyum dan tertawalah ketika senang, dan menangislah jika memang membutuhkannya. Sosokmu yang begitu tegar terlihat jelas di mataku.

Maksudku, kamu sudah cukup memberikan pengorbanan besar yang membuatmu semakin menawan. Bahkan aku suka sosok yang ku sebut si jiwa pejuang ini tertunduk malu setiap kali aku mengatakannya. 

Terima kasih atas jiwamu yang tidak kenal mengenal kata lelah untuk terus berjuang.

Semoga dirimu selalu diselimuti dengan perasaan bahagia dan dikelilingi oleh orang pula. Mari kita gapai mimpi kita, dan bertemu di tempat yang tepat di masa mendatang.

Artikel Menarik Lain

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.