Connect with us

Hi, what are you looking for?

iklan
dalam-cermin
dalam-cermin
Ilustrasi refleksi di dalam cermin. (Foto: Pexels)

Surat

Surat untuk Diriku yang Lain di Dalam Cermin

Hari itu, tidak biasanya aku lebih banyak habiskan waktu di cermin.

the Monkey Times – Melihat sosok lain yang memiliki rupa sepertiku. Memiliki banyak hal yang sama denganku, ketika aku bergerak dia juga ikut bergerak.

Hanya saja, yang di cermin berbeda dibandingkan aku. Sosok di Cermin ini terlihat lebih banyak tertawa, lebih mempesona dan terlihat begitu indah.

Senyumnya merekah dengan berpoles gincu dan berlesung pipi. Sosok di Cermin itu, adalah sisi lain diriku yang orang lain tahu. Yang orang lain lihat dan temui setiap waktu, dia memang pandai tersenyum.

Setiap yang terucap pada bibirnya hanyalah penyemangat yang membuatnya bak matahari. Ada banyak yang bergantung pada pundak sempitnya.

Tubuhnya biasa saja, tak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk. Pergerakannya ringan tanpa beban karena pemilik tubuhnya berusaha begitu gigih untuk menggerakkannya.

Sangat berbeda dengan aku, yang ketika malam malam larut penuh dengan air mata. Air mata yang akan mengiringi sebelum berjumpa dengan bunga tidur yang menjemput.

Kamu sosok di Cermin yang setiap hari kupoles rapi, tetaplah menjadi pribadi yang seperti ini. Kamu harus menjadi aman untuk mereka yang berpegang erat pada setiap sendimu.

Pada mereka yang menggantungkan banyak harap padamu. Sosok di Cermin yang kadang tak kutemukan banyak cela, jika aku sendiri menilainya.

Tapi aku tahu pasti, semua yang ada pada sosok itu mungkin terlihat berbeda jika orang di luar sana yang menyadarinya.

iklan

Setiap sapaan yang keluar dari bibirnya, anggukan malu ketika berjumpa dengan lawan jenis hingga senyum secerah matahari yang menyilaukan.

Terkadang banyak yang melihat sosok ini sebagai panutan dalam setiap raganya.

Sayangnya sosok di cermin ini tidak berjiwa, terlalu memperhatikan raganya hingga lupa akan isinya. Bahwa dia boleh juga menangis, boleh juga merasa marah ataupun kecewa di raut mukanya.

Hai kamu tidakkah kau ingin kita berbagi dan akur? Kau tega semua kesedihan berada di pundakku sendiri? Sementara kau selalu kupoles agar tak ada raut sedih.

Kau hanya boleh bersedih saat kau sendiri, seperti saat ini. Saat mataku dan matamu bersiborok, lihat matamu berubah keruh. Kau lelah tidak?

Menopang semua harap yang ada di pundakmu? Semua orang menuntut perhatian, dan kau masih saya selalu memberi senyuman menenangkan.

Kau lupa ya kau adalah bagian dariku yang juga merupakan manusia.

Manusia wajar memiliki emosi yang berwarna, bukan hanya tawa palsu saja seperti yang kau lontarkan. Tau tidak, ada sisi dirimu yang jauh lebih  menarik dibandingkan dengan terus memperhatikan fisikmu.

Fisik yang diberikan Tuhan hanya perlu untuk kau jaga, agar tetap sehat hingga masanya tiba nanti. Bukan diamplas sana sini dengan menyakiti diri sendiri.

Hei sosok di cermin, cobalah sehari saja untuk mengabaikan semua harapan harapan orang lain. Ekspektasi, keinginan hingga obsesi yang berkaitan dengan kamu, bisa tidak kau lepaskan.

Bukan hanya mengiyakan dan menyanggupi, tapi ujung ujungnya kau berikan semua beban itu padaku. Pada jiwamu yang meronta untuk dibebaskan, untuk sesekali memiliki pilihan.

Kau tau tidak kau menua? Setiap saat aku mengagumimu sudah ada guratan halus di sekitar matamu. Aku rasa itu karena kamu terlalu banyak tersenyum, tapi bukan senyum yang akan membuat kamu awet muda.

Jenis senyum palsu yang kau pasang untuk mengelabui semua orang jika semuanya baik baik saja. Aku tahu kau lelah, tunggu saja sebentar lagi.

Aku ingin berterima kasih, karena hingga kini kamu tetap bertahan. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa tidak mengapa merasa tidak baik baik saja.

Tidak mengapa jika tidak bisa mewujudkan semua ekspektasi orang lain akan kamu. Tidak mengapa gagal, masih ada waktu untuk kamu bisa bangkit kembali dan berjalan pelan pelan.

Tidak mengapa pernah menyakiti, tidak mengapa pula pernah disakiti. Karena peran setiap raga di dunia ini memang berbeda. Yang aku mau, jangan sampai kau  hanya mementingkan orang memandangmu hingga kau lupa akan aku.

Ada aku sisi lemahmu yang tak mau kau tampakkan pada khalayak. Padahal manusia harusnya memiliki sisi yang seimbang.

Jangan hanya menuntut tawa, jika di dalam dirimu ada aku yang siap teriak kapan saja. Jangan hanya menuntut pujian, padahal di dalam ada aku yang terkadang melakukan cela.

Hiduplah dengan baik, jangan lupa untuk menjadi manusia dan terus bersyukur. Insecure yang kamu miliki itu butuh, agar kau tidak lalai dan terus merasa jumawa ketika ada puji yang sampai telinga.

Hanya saja, jangan kau habiskan seluruhnya pada rasa insecure itu. Karena akan menyakiti aku yang menjadi benteng pertahanan di dalam kamu.

Sosok yang saat ini masih ku perhatikan di cermin, ayo ekspresikan banyak hal. Jangan ditahan karena sejatinya yang ditahan akan  membuat sesak saja.

Ayo lakukan yang kamu mau, agar kita bisa hidup dengan baik kedepannya.

Pak Pos
Written By

Tukang antar surat-surat yang bernada baper.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.