Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Surat untuk Ayahku: Jiwamu memang setegar Karang

Ayah, aku mengagumi walau kita jarang bicara. Dan ini surat untuk ayah, dariku, putri yang mencintaimu.

Surat untuk ayah, dari putrinya
Foto: Pexels

Rasanya sedikit aneh untuk memulai percakapan ini walaupun sudah kutuangkan lewat tulisan, karena dasarnya kita jarang berbicara satu sama lain.

Hai ayah, ini aku putri pertamamu yang menurutmu sangat menggemaskan dengan perawakan mirip sekali dengan istrimu tercinta. Geli rasanya menyebut diri sendiri seperti itu, namun aku akan berusaha mencurahkan kata yang sebelumnya hanya sampai di tenggorokan dan belum bisa ditumpahkan.

Sebelum membicarakan hal lainnya, pertama tama aku ingin melihat lembaran harianku di masa lalu. Dimana saat aku masih berusia belum genap 7 tahun atau bahkan jauh lebih kecil dari itu, aku sangat ingat dimana diriku sangat penasaran dengan hal kecil yang ada di sekitarku.

Saat itu aku sedang penasaran bagaimana teralis bisa meliuk cantik dan membentuk sebuah lingkaran sempurna tanpa celah. 

Melihat lingkaran tersebut, aku pun memasukkan kepala dan berhenti tersenyum menyadari bahwa aku terjebak disana. Anak kecil menggemaskan itu berusaha untuk tidak panik ataupun menangis, namun berujung ditertawakan karena melakukan hal bodoh.

Ya, orang pertama yang menemukanku dalam keadaan bodoh itu adalah dirimu. Jujur saja aku malu, tapi justru menjadi kenangan dimana dirimu tertawa di balik rasa cemas. 

Tahun demi tahun pun terlewati, kini aku sudah bersekolah di salah satu sekolah dasar negeri yang engkau inginkan. Disana aku berusaha untuk belajar dan mendapatkan penghargaan dari kemampuanku di bidang olahraga.

Saat itu aku merasa menjadi anak paling beruntung, dimana kedua orang tuaku mendukung sepenuhnya agar aku tetap bisa berkarya tanpa meninggalkan tugas utama sebagai pelajar. 

Selama menjalani pelatihan olahraga, berbagai rintangan harus bisa aku taklukan agar tumbuh menjadi lebih kuat dan tegar. Selama itu pula, dirimu harus bolak balik mengantarku dari rumah menuju tempat latihan yang tentunya cukup jauh.

Lama aku memikirkannya, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengendarai sepeda ontel kesayangan setiap kali berangkat ke tempat latihan.

Naluri ayah yang ingin selalu melindungi putrinya tampaknya tumbuh dengan subur, dimana pada awalnya ayah tidak sepenuhnya percaya padaku bahwa ingin melakukannya. Sedangkan aku dengan pendirian penuh masih ingin melakukannya, hingga bagaimanapun ayah mengizinkan.

Eits, tidak sepenuhnya mengizinkan karena aku bisa merasakan ayah membuntutiku dari kejauhan untuk memastikan bahwa putrinya ini sampai dengan selamat.

Surat pilihan: Surat Untuk Eyang, Teman Pertamaku di Dunia

Beberapa waktu pun hal ini terus berulang, hingga pada saatnya ayah menyadari saatnya untuk melepaskanku perlahan. Keberuntungan tampaknya kembali berpihak padaku, karena mulai saat itu aku bisa bepergian tanpa merasa dibuntuti.

Disanalah jiwa anak kecil yang serba ingin tahu pun kembali mencuat, dan menantang diri untuk bepergian lebih jauh demi mengukur seberapa kuat diri ini bisa bertahan.  Dan tentu saja belum sekuat dan setegar ayah. 

Keberuntungan kembali berpihak kepadaku lagi dan lagi. Aku begitu ingat saat pertama kali anak ABG itu mulai penasaran untuk pulang tengah malam.

Mata ayah tidak salah lihat, karena memang aku sengaja pulang larut karena memang ada hal penting yang harus aku selesaikan. Saat itu aku didapuk menjadi salah satu anggota yang bertugas sebagai tenaga kesehatan di sekolah menengah atas. 

Secara kebetulan, sekolahku selalu mengadakan event basket hingga larut malam seakan tidak peduli semua petugasnya adalah para siswanya sendiri. Untungnya rumah dan sekolahku cukup dekat, bahkan rasanya  aku hanya perlu menggelinding untuk bisa sampai di rumah. Walaupun dekat, ternyata hal tersebut tidak membuat ayah melepasku begitu saja. Ya, aku melihat jelas bayangan sosok tegar di ujung sana sedang mencari keberadaanku.

Sosok anak kecil itu pun kini semakin tumbuh dewasa dan menyadari bahwa ayah adalah orang yang bukan sekedar memberiku kesempatan lagi dan lagi. Namun beliau menjadi tameng yang akan maju paling awal ketika putrinya ini mengalami musibah.

Hal ini semakin aku rasakan ketika terdapat permasalahan keluarga, dimana ayah tidak bisa menceritakan pada keluarganya dan lebih menyimpannya rapat walaupun sesekali curhat kepada ibu. 

Mungkin bagi ayah, aku tetaplah putri kecil yang masih perlu didongengi cerita disney cantik menawan. Tanpa disadarinya, aku perlahan memahami mengapa ayah selalu berusaha sekuat tenaga agar tetap tegar di depan keluarganya.

Menurut sudut pandangku, ayah melakukannya agar keluarganya tidak jatuh rapuh melihat keadaannya. Aku bahkan penasaran, bagaimana caranya ayah dapat bertahan diserbu masalah tanpa menangis.

Aku pernah membaca bahwa seorang ayah itu merupakan sosok yang tegar dan tegas, namun tetap lembut di dalam. Sosok gagah tersebut akan melakukan apapun demi kebahagiaan keluarganya, dengan mengesampingkan bagaimana perasaannya sendiri.

Usai membaca tulisan tersebut, hal pertama yang aku pikirkan adalah ayah. Sebab, aku tidak pernah melihatmu rapuh sedikitpun.

Jangankan rapuh, justru ayah yang siap menghapus air mataku ketika aku menangis dan merengek ketika tidak bisa melakukan hal yang harusnya bisa ku lewati.

Entah aku yang kekanak kanakan ataukah ayah yang sudah sekuat baja, aku tidak bisa memahaminya.

Namun satu hal yang bisa aku sampaikan bahwa semua jasamu tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan apapun di dunia. Selamat, ayah adalah idola pertamaku tanpa tapi. 

Untuk idola pertamaku, ayah tercinta.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.