Connect with us

Hi, what are you looking for?

Surat

Surat untuk Abang yang Ingin Kusampaikan di Masa Depan

Hai kak, bagaimana kabarmu?

untuk-abang
Ilustrasi kakak beradik. (Grafis: the Monkey Times)

the Monkey Times – Itu adalah kalimat pertama yang ingin aku sampaikan ketika aku bertemu denganmu lagi di masa depan.

Sepertinya sudah lama kita tidak saling menunjukkan batang hidung masing masing, karena aku sadar sekarang momen tersebut tidak boleh dilakukan meski aku sangat ingin.

Entah sejak kapan kita jadi seperti ini, bahkan sepertinya sudah lampau bahkan sebelum keluarga kita menjadi terpecah belah akibat masalah warisan kakek. Aku benar bukan ?

Diriku yang saat itu terlalu kecil untuk mencerna permasalahan berat tersebut, benar benar tidak memahami mengapa dirimu berubah sikap kepadaku.

Pada awalnya ku kira dirimu hanya lelah dan ingin sendiri, namun sikap itu terus terjadi setiap kali melihatku.

Jarak antara kakak dan aku semakin jauh ketika kita berdua sudah menginjakkan kaki di kota orang. Ya, kita berkuliah di kota yang sama tanpa pernah saling bersahutan untuk bertemu. 

Memori indah yang aku kenang untuk pertama adalah ketika diriku lelah dengan dunia perkuliahan, dan memelukmu otomatis ketika tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan.

Bahkan aku tidak sadar ketika dirimu saat itu sedang bersama temanmu. Bodoh dengan pendapat orang lain, karena saat itu aku hanya membutuhkan sosokmu.

Sepertinya kakak memahami aku lelah dan memilih tidak mengatakan sepatah katapun dan berbalik mendekap dalam hangat.  

Kenangan kedua adalah ketika pertemuan tidak sengaja kedua terjadi. Jika tidak salah ingat, saat itu kakak baru saja nongkrong bersama teman dan tampak diselimuti rasa bahagia dan penuh tawa.

Kebahagiaan tersebut seakan sirna ketika aku menyadari sosokmu yang berada beberapa meter dariku. Melihat diriku yang masih berkeliaran di tengah malam, kakak hanya mengingatkan untuk tidak pulang terlalu larut. 

Pertemuan ketiga jatuh di depan gang, namun saat itu aku hanya bisa melihat sekelebat sosokmu yang tengah mengendarai kendaraan roda dua kesayanganmu. Sapaan ceriaku sepertinya berhasil mencuri perhatianmu.

Lewat pertemuan yang tidak lebih dari 2 detik itu sudah berhasil membuatku kegirangan sepanjang hari.

Lalu bagaimana dengan pertemuan selanjutnya ? Tidak ada sama sekali kak, hingga pada akhirnya kita melanjutkan jalan masing masing. 

Kak, sebenarnya kakak sekarang dimana ? Bagaimana kabarmu ? Apakah keluarga besar disana baik baik saja ?

Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku sampaikan, namun hanya berakhir di dalam pikirku semata.

Hingga pada akhirnya ku putuskan untuk menuliskan cerita singkat lewat sepucuk surat yang entah nantinya dibaca olehmu atau tidak.

Tersampaikan atau tidak, aku hanya menyampaikan bahwa sejuta rindu ini tercurahkan di dalam surat ini. 

Andaikan aku memahami permasalahan ini dari dulu, apakah hubungan keluarga ini tidak menjadi canggung seperti sekarang?

Tiada lelah aku mengucapkan rindu, karena banyak sekali hal yang ingin tersampaikan dan hanya tercekat tanpa pernah bisa aku utarakan.

Meski begitu banyak cerita dan berita yang ingin disampaikan, detik pertama ketika bertemu denganmu lagi adalah momen aku membeku dan hanya bisa mengucapkan rindu. 

Ternyata bukan hanya aku yang merasakan kehilanganmu perlahan. Semua anggota keluarga yang lain juga merasakan hal yang sama.

Kamu benar, kami kehilangan sosok pria muda gagah dan humoris yang kerap menyatukan keluarga.

Tanpa kehadiran dirimu di sisi kami, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu sebagai kawan dan kakak disaat tertentu. Aku berharap dirimu bahagia dan suatu saat bisa bertemu dengan kita kembali, di pelukan kami. 

Kita saat ini berusaha mencari keberadaanmu, berusaha membawa orang tuamu untuk berbaikan dengan secara kekeluargaan. Aku berharap cara ini nantinya berhasil, walaupun sampai detik ini masih belum membuahkan hasil.

Bahkan beberapa dari kita sudah mendatangi kediaman keluarga besar, namun sayangnya nihil. Pintu pagar seakan tertutup rapat, yang menandakan penghuninya tidak ingin menyambut siapapun diantara kami.

Kakakku tersayang yang begitu aku rindukan, aku tahu bukan niat terdalammu untuk membiarkan hubungan kekeluargaan ini pudar dimakan usia.

Aku tahu bagaimana karaktermu yang tidak ingin semua kejadian ini berakhir tanpa ada titik temu.

Berdasarkan informasi tersebut, hingga saat ini aku memegang harapan agar bisa bertemu denganmu kembali meski anggota keluargamu mungkin menentangnya habis habisan. 

Jika mengetahui keberadaanmu, mungkin saat ini juga aku akan melesat kesana meski jauh sekalipun.

Ingin ku sampaikan peluhku dalam rengkuhan hangat dekapanmu kembali seperti dulu, meski aku tahu kini kita sama sama menjadi sosok dewasa yang harus mengambil keputusan sendiri.

Namun setiap kali bertemu dirimu, sosok kecil yang merindukanmu ini langsung bungah, seperti bertemu dengan sosok pangerannya. 

Bolehkah aku berharap jika suatu hari nanti jika kita semua lelah untuk mencari, sosokmu muncul dari kegelapan dan menyelesaikan masalah ini ?

Aku janji tidak akan menangis meraung seperti anak kecil lagi, tidak akan memintamu menemaniku dikala bosan, ataupun permintaan kecil lainnya yang sebenarnya bisa kulakukan sendiri.

Asalkan sosok kakakku yang selama ini aku kenal kembali seperti sedia kala. 

Untuk sosok gagah yang aku sebut kakak sekaligus teman. Aku sangat rindu, kak.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.