Media sosial kami

Halo, cari konten apa?

pujaan-cinta
pujaan-cinta
Ilustrasi pujaan hati. (Foto: the Monkey Times)

Surat

Sepucuk Surat Untuk Pujaan Hati

Surat ini kutujukan untuk pujaan hati. Aku memujamu setiap saat. Sampai-sampai semuanya terasa begitu indah.

Aku tahu ini mustahil dan sangat tidak masuk akal bila dipikirkan. Ketika logika tidak sejalan dengan hati, apa boleh buat karena ini yang aku rasakan.

Kamu terlalu jauh untuk aku gapai karena kamu seperti mimpi yang terlampau jauh hingga aku terkadang lupa kalau aku dan kamu tinggal di dunia yang berbeda meskipun ada di satu dunia. Kamu di atas bagaikan bintang di malam hari yang menyinari siapa saja di bumi ini.

Dan aku? Aku? Hanya sebutir pasir di hamparan yang bahkan tak bisa dilihat. Meskipun aku yakin kamu tidak akan melihatku karena aku kecil dan gelap dibandingkan kamu.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan niatku untuk tetap mengagumimu walau dari kejauhan. Aku pun yakin meskipun kau tak bisa melihatku, aku dapat memberimu semangat agar kamu terus berjaya.

Pujaanku, terbanglah setinggi apa pun yang kamu mau dan apa pun tujuannya, karena kamu punya sayap yang kokoh dan tak akan pernah patah. Tetapi jika kamu sedang lelah, jangan paksakan dirimu untuk terbang terlalu tinggi.

Aku ada di sini di sekumpulan pasir akan memberimu sebuah pijakan. Aku hanya orang yang bisa mendukungmu dari kejauhan dan berharap kebahagiaan atas hidup yang kamu jalani. 

Memang benar yang aku tahu, kamu hanya berdiri dan bernyanyi dengan indah di atas panggung yang megah. Kau banyak tersenyum dan tampak bersenang – senang.

Namun dibalik senyumanmu di atas panggung yang seakan puas dengan semua yang telah kamu capai ternyata ada sesuatu juga. Nyatanya aku salah menilai kamu, aku hanya melihat sisi indah yang kamu pancarkan tanpa mengetahui sisi kelam yang kamu miliki. 

Aku benar benar salah, senyumanmu tidak setulus yang aku bayangkan. Dari sini terkadang aku malu karena aku mengaku sebagai pengagum, tetapi tidak mengetahui penderitaan yang telah kau hadapi.

Fakta bahwa aku juga sama dengan kamu membuatku marah pada diriku sendiri. Ketika kamu mengatakan baik baik saja padahal sedang terluka, itu membuatku sakit yang amat dalam. 

Maafkan aku selama tujuh tahun ini mengabaikan perasaan yang kamu miliki. Apa aku masih boleh untuk terus percaya kepadamu? Percaya kalau kamu masih dalam keadaan baik.

Masih bisakah kamu senyum di depan kamera dan sorotan lampu yang bersinar di depanmu? Senyum yang membuat aku selalu berpikir, syukurlah kamu tidak apa apa dan masih dalam keadaan baik. 

Aku pun juga tahu jika kamu tersenyum bukan berarti kamu merasa sangat bahagia. Tetapi itu adalah salah satu cara dan usaha kecil untuk menutupi luka yang kamu punyai. Menangislah pujaan hatiku.

Terkadang menangis adalah yang kamu butuhkan. Air mata juga butuh kebebasan. Jangan paksakan dirimu untuk terus berkarya. Kamu juga butuh istirahat. Dan aku juga kan senang kalau kamu terbang lagi dengan senyuman yang tulus, 

Jangan merasa buruk, percayalah pada aku seperti aku mempercayaimu. Jika kamu benar lelah dan butuh sandaran, aku bisa meminjamkan bahuku sebagai sandaranmu. Kamu harus tetap bahagia agar bisa terbang lebih tinggi lagi.

Tidak hanya aku saja yang akan sedih semua penggemar dan keluarga terdekat yang kamu miliki mungkin juga akan sakit jika kamu tidak bahagia. 

Meskipun di tahun ini banyak sekali rintangan yang harus kamu hadapi, bagaimana perasaanmu di hari – hari yang kamu jalani? Di sini aku selalu berharap kamu akan selalu mendapatkan apa yang kamu mau.

Aku tak tahu kenapa aku selalu jatuh hati kepada dirimu tanpa tahu bagaimana caranya untuk berhenti. Hal ini aku lakukan setiap hari lagi, lagi dan lagi secara terus menerus. 

Memiliki kamu memang sebuah keserakahan. Meskipun hal itu hanya angan belaka, aku masih sadar itu tetap keserakahan. Namun salahkah aku? Mungkin banyak sekali pengagum yang seperti aku bukan?

Bagaimana perasaanmu dicintai dan dikagumi banyak orang di dunia ini? Apakah menyenangkan? Apakah kamu lelah dengan semua ini? Apa kamu hanya ingin berhenti saja? 

Aku khawatir, ruang lingkup bebas yang kamu miliki semakin berkurang. Kamu harus ke tempat lain dan pergi kemanapun dengan menggunakan masker yang terus menemanimu.

Meskipun aku sadar kamu ingin merasakan udara bebas seperti aku, tapi siapa nanti yang akan menjadi penerang di kehidupanku. Entah aku harus sedih atau bahagia melihat jadwalmu yang padat, aku juga merasa tertekan.

Aneh bukan? Padahal aku tahu aku bukan siapa – siapa. Bahkan aku masih belum mengenalmu sepenuhnya. Dan aku tahu kamu juga tidak mengenali aku. Siapa aku ini? Kenapa berani – beraninya mengkhawatirkan kamu yang berharga itu?

Nyatanya aku adalah aku. Satu dari jutaan, oh tidak,  bahkan mungkin milyaran orang yang mengagumi kamu hanya dari kejauhan. Tapi aku berharap kamu akan selalu bahagia pujaanku. Tetaplah semangat!

Artikel Menarik Lain

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.