Media Sosial

Hi, cari artikel apa?

Surat

Semua berubah, bahkan Kembaranku

Apakah kamu lupa, jika aku adalah temanmu sejak di rahim mama? Yang sedikit banyak merasakan apa yang kamu rasakan.

surat untuk saudara kembarku

Hai apa kabar?

Rasanya aneh sekali ketika memulainya dengan mengucapkan apa kabar. Karena sekalipun kita dalam rumah yang sama, bertegur sapa sudah tak lagi sama. Aku terus bertanya tanya, apa hal yang membuat kamu menjauh dari kita.

Apakah kamu lupa, jika aku adalah temanmu sejak di rahim mama? Yang sedikit banyak merasakan apa yang kamu rasakan, meskipun aku tidak bisa sama sekali membantu meluruskan benang kusut di kepalamu.

Kembaranku, entah Tuhan punya rencana apa hingga kini menjadi kembar namun beda gender. Aku perempuan dan kamu laki laki, meskipun demikian kita menjadi saudara kembar yang saling menyayangi bukan?

Kamu juga tahu jika orang tua kita hanya memiliki kita berdua tanpa hadirnya putra yang lain. Untuk itu kamu juga pasti bisa merasakan bagaimana besarnya kasih sayang kedua orang tua kita.

Bagaimana mereka menaruh harap pada pundak kita berdua. Namun belum sempat kita tumbuh dewasa seutuhnya, kita ternyata tidak lagi akur.

Semuanya berubah, aku tidak tahu apakah kamu memang sedang ingin menjauhiku atau bagaimana. Aku menuliskan surat ini bukan untuk tidak suka kamu bahagia.

Karena awal perdebatan perdebatan ini muncul setelah kamu memiliki kekasih baru. Kekasih yang jika aku bayangkan bisa menjadi teman juga untukku.

Tapi rupanya, jangankan mampu membuatnya menjadi teman bertegur sapa saja kita tidak melakukannya. Kekasihmu itu seperti akan melubangi kepalaku jika ia bersitatap denganku.

Aku bukannya tidak menyukainya, namun gadis baru yang masuk di hidup ini mampu untuk mengubah semua perilakumu. Kamu yang aku panggil Abang, yang selalu melimpahi kasih sayang justru kini berani untuk memakiku kasar.

Abang bahkan berani membentak mama dan juga Ayah. Yang paling parah, abang berniat menggadaikan sertifikat rumah kita. Untuk memenuhi kebutuhan kekasihmu yang hobi berbelanja.

Aku awalnya merasa jika hidupku ini sudah sangat mirip cerita di sinetron favorit mama. Namun memang inilah yang kenyataannya terjadi.

Rumah yang dulunya menjadi tempat kita berlarian ketika kecil, kini penuh teriakan dari mulut kita karena memaki.

Abang, asal abang tahu kamu tidak pernah membenci abang. Aku, mama ataupun ayah selama ini diam bukan karena tidak berani melawan.

Kami hanya terlalu melimpahi abang dengan kasih sayang yang begitu banyak. Meskipun sikap abang akhir akhir ini begitu keterlaluan, kami tetap keluarga abang dan menjadi tempat abang pulang nantinya.

Perdebatan kita memang tidak pernah usai, bermula dari minggu hingga akhirnya berganti bulan. Sikap abang makin lama makin menjadi jadi dan aku sebagai kembaranmu sudah habis akal.

Hanya mampu untuk berdoa agar kamu segera tersadar. Hanya karena kehadiran orang baru yaitu kekasihmu, abang sudah berani melukai keluarga sendiri. Dan rupanya, gadis itu memang memiliki niat buruk untuk kita.

Abang, kini semuanya sudah selesai. Abang sudah mulai tahu jika apa yang dilakukan salah dan juga tidak patut. Penyesalan abang juga begitu terasa bagi aku dan keluarga.

Meski begitu aku rasanya tetap tidak tega ketika melihat abang masih sering tidak tenang ketika tidur. Terus mengigau yang akhirnya kita kembali tidur bersama. Untuk saling menemani hingga kantuk kembali mengambil kesadaran kita berdua.

Boleh kita terus beranjak dewasa dan berubah, namun adek mohon jangan berubah menjadi seperti kemarin lagi. Kami sudah memaafkan semua kesalahan abang, terlepas dari jika pengaruh itu datang dari guna guna atau apalah itu.

Yang jelas, abang akan tetap menjadi kembaranku yang ku sayang. Kita hanya terlahir menjadi dua insan yang memiliki perbedaan gender saja. Selebihnya masih menjadi saudara kembar meskipun tidak identik.

Melalui surat ini aku ingin menyampaikan, jika abang jangan pernah lagi berubah menjadi begitu menyebalkan. Abang jangan lagi menyakiti mama dan ayah dengan kata kata yang kasar.

Asal abang tahu, ketika akhirnya kekasih abang itu meninggalkan abang, abang juga akan kembali ke keluarga. Percaya atau tidak, kita akan saling mengobati luka yang disebabkan oleh perseteruan kita akhir akhir ini.

Abang juga jangan terus larut dalam rasa bersalah. Kami sudah mulai melupakan apa yang sudah terjadi. Yang penting kini abang sudah kembali seperti yang biasanya kamu kenal.

Aku juga akan tetap menggandeng tangan abang. Kita akan sama sama menghadapi apapun yang akan terjadi kedepannya. Kita memang hanya berbeda 10 menit, tapi tetap tidak akan bisa melepaskan ikatan yang terjalin.

Di masa depan, kita akan sama sama memiliki pasangan. Sama sama akan berubah, tapi semoga perubahan kita ke depan tidak akan menyalahkan siapapun.

Terutama mama dan ayah yang sudah menempatkan banyak harapan baik untuk kita. Sekarang, mari kita terus mengikuti pola takdir yang Tuhan siapkan. Dengan tetap keren dan tak lagi menyakiti siapapun.

Abang, aku sayang abang.

iklan
iklan

Artikel Menarik Lainnya

Surat

Kutulis surat ini sebagai pernyataan bahwa aku telah melepasmu. Kuharap aku bisa melaluinya. Selamanya.

Surat

"Hai, cantik." Rasanya sudah lama sekali aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadamu.

Surat

Surat ini aku berikan untuk kado ulang tahun ibu, besok di usianya yang genap 65 tahun dan tidak lagi muda. Selamat ulang tahun, ibuk.

Surat

Hai teman, apa kabarmu?

Surat

Masih kuingat dengan jelas bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita.

Surat

Menikah adalah sesuatu hal yang mungkin tak terpikirkan olehku.

Surat

Hai adikku yang menginjak masa labil! Bagaimana kabarmu saat ini? Kakak harap kamu akan baik-baik saja. Sudah lama kakak tidak menanyakan keadaanmu.

Surat

Akhir akhir ini aku sering membayangkan punggung seorang wanita yang kini kian menua. Ia adalah sosok yang sangat berarti bagi kehidupanku selama ini.